Anak Down Syndrome dan Ibunya Jadi Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi

- Sariati dan anaknya Putri menjadi korban kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur, keduanya kini dirawat di RSUD Kota Bekasi dengan kondisi ibu lebih parah dan harus menjalani operasi.
- Putri yang sudah diperbolehkan rawat jalan tetap menemani ibunya di rumah sakit karena tidak bisa berpisah, sementara salah satu kakaknya sedang menuju Bekasi untuk membantu perawatan.
- Kecelakaan maut terjadi akibat tabrakan antara KRL Cikarang arah Jakarta dengan Kereta Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, menewaskan 16 orang dan melukai 91 lainnya.
Bekasi, IDN Times - Seorang ibu bernama Sariati bersama anaknya, Putri, 24 tahun, yang menderita down syndrome, menjadi korban luka dalam kecelakaan maut kereta di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, pada Senin, 26 April 2026 malam.
Setelah kejadian tersebut, keduanya harus menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bekasi.
Perwakilan Fatayat Nahdlatul Ulama (Fatayat NU) DKI Jakarta, Nia, mengatakan Sariati dan Putri hanya tinggal berdua di sebuah kontakan di Cikarang, tanpa memiliki saudara.
"Korban ini tinggal hanya berdua dengan anaknya, yang mohon maaf, berkebutuhan khusus, ya. Beliau tuh ngontraknya di Cikarang Barat," katanya saat ditemui di RSUD Kota Bekasi, Rabu (29/4/2026).
1. Kondisi kesehatan Sariati dan Putri

Nia yang mendampingi keduanya mengungkapkan, kondisi kesehatan Sariati cukup parah. Bahkan, ibu 63 tahun itu harus menjalani operasi, lantaran beberapa bagian organ dalamnya rusak akibat benturan.
"Kondisi ibunya kemarin setelah dilakukan operasi ya, pengangkatan limpa, karena organ dalamnya tuh ada beberapa bagian yang hancur seperti itu," katanya.
Berbeda dengan anaknya, Putri hanya mengalami luka lebam, dan sudah boleh menjalani rawat jalan.
"Alhamdulillah-nya anak ini kondisinya cukup baik ya, setelah diobservasi. Yang parah itu ibunya," jelas Nia.
2. Putri harus tetap bersama ibunya

Nia mengatakan, meskipun sudah diperbolehkan pulang, Putri tetap harus berada di sisi ibunya yang masih terbaring di rumah sakit pasca-operasi. Selain tidak memiliki saudara, Putri juga tidak bisa jauh dari ibunya.
"Jadi anaknya statusnya sudah tidak (dalam) perawatan. Rawat jalan, tapi karena tidak bisa pisah sama ibunya, jadi anaknya bersama-sama dengan ibunya, seperti itu," jelas dia.
Untuk itu, Nia sempat meminta tambahan kasur kepada pihak RSUD Kota Bekasi, agar Putri bisa dapat beristirahat saat menemani ibunya menjalani perawatan.
"Jadi saya sebenarnya minta bed, tapi kemudian alhamdulillah ada kebijakan dipindah ke kelas satu gitu di gedung A," katanya.
Nia menyebut Putri memiliki dua kakak yang tinggal di Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Saat ini, salah satu kakak Putri sedang dalam perjalanan menuju Bekasi untuk membantu merawat Sariati.
3. Kecelakaan kereta akibatkan 16 orang meninggal

Diketahui, tabrakan maut antar kereta terjadi di Stasiun Bekasi Timur pada Senin, 27 April 2026 malam. Insiden bermula saat KRL Cikarang arah Jakarta menabrak taksi yang melintas di pelintasan sebidang tanpa palang pintu.
Akibat kejadian itu, perjalanan KRL lainnya arah Jakarta-Cikarang yang berada di Stasiun Bekasi Timur terhambat, sehingga rangkaian KRL tersebut belum melaju.
Nahas, rangkaian KRL itu ditabrak Kereta Jarak Jauh Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Pasar Turi Surabaya hingga kecelakaan tak terhindarkan. Akibat peristiwa itu, sebanyak 16 orang meninggal dunia dan 91 lainnya mengalami luka-luka.


















