Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Makkah via Bir Ali, Jemaah Lansia Diimbau Miqat di Bus

Makkah via Bir Ali, Jemaah Lansia Diimbau Miqat di Bus
Jemaah haji usai salat sunah ihram di maskid Bir Ali (Media Center Haji/Rochmanudin)
Intinya Sih
  • PPIH Daker Madinah menyiapkan skema ketat keberangkatan jemaah haji ke Makkah, termasuk prosedur miqat di Bir Ali dengan panduan khusus bagi lansia dan penyandang disabilitas.
  • Jemaah akan tinggal sekitar sebulan di Makkah, dengan peringatan keras terhadap modus penipuan sopir taksi yang menargetkan ponsel jamaah usai salat di Masjidil Haram.
  • Otoritas haji mengingatkan jemaah untuk mewaspadai suhu panas Makkah hingga 36°C dan menjaga kesehatan dengan perlengkapan pelindung diri serta asupan gizi yang cukup.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Madinah, IDN Times - Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Daerah Kerja (Daker) Madinah telah mematangkan skema pendorongan jemaah haji gelombang pertama menuju Makkah, Kamis (30/04/2026) pagi waktu Arab Saudi. Pergerakan antarkota suci ini diatur melalui Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ketat demi memastikan ketertiban, keamanan, dan perlindungan ekstra bagi jemaah kategori lanjut usia (lansia) serta penyandang disabilitas.

Kepala Daker Madinah, Khalilulrahman, menjelaskan bahwa alur keberangkatan dari hotel menuju Makkah telah dijadwalkan secara presisi. Delapan jam sebelum keberangkatan, seluruh koper bagasi jemaah sudah harus diturunkan ke lobi hotel. Koper-koper tersebut nantinya akan diangkut dan dimasukkan ke dalam bus oleh para pekerja atau ummal.

Selanjutnya, empat jam sebelum waktu keberangkatan, armada bus mulai digerakkan dari pool, sehingga diproyeksikan bus sudah tiba dan bersiaga di depan hotel masing-masing sekitar tiga jam sebelum keberangkatan. Meskipun bus telah tiba, jemaah dilarang langsung naik atau turun ke lobi secara acak.

Petugas layanan transportasi akan terlebih dahulu memverifikasi bus bersama pihak syarikah dan menempelkan stiker penanda sesuai urutan rombongan. Setelah proses administrasi dan muat bagasi selesai, barulah jemaah diarahkan masuk ke bus secara bertahap. Di titik inilah peran Ketua Rombongan dan Ketua Regu sangat vital untuk menggerakkan jemaahnya agar tidak terjadi penumpukan.

1. Ambil miqat di Bir Ali

Deretan bus berwarna krem bertuliskan King Long terparkir di area terbuka dengan dua petugas mengenakan seragam biru berbincang di depannya.
Beberapa bus disiapkan untuk mengangkut jemaah haji dari Madinah ke Makkah. (Dok. MCH 2026)

Dalam perjalanan menuju Makkah, seluruh jemaah haji akan singgah di Bir Ali untuk mengambil miqat dan berniat ihram. Untuk mengurai kepadatan di area tersebut, PPIH telah menyiagakan petugas yang tersebar di delapan pos berbeda. Setiap armada bus akan langsung diarahkan ke pos-pos yang melompong guna mencegah penumpukan massa.

Secara khusus, Kepala Daker Madinah memberikan instruksi tegas terkait jemaah lansia dan disabilitas saat tiba di Bir Ali. Demi alasan keselamatan dan kepraktisan, kelompok rentan ini diimbau untuk tidak turun dari bus. Mereka cukup melakukan niat dan mengambil miqat dari tempat duduknya dengan dipandu langsung oleh pembimbing ibadah kloter, pembimbing KBIHU, atau ketua rombongan.

Bagi jemaah lansia yang tak sengaja buang air di dalam bus, petugas pembimbing ibadah di sektor Bir Ali akan disiagakan untuk membantu membersihkannya sekaligus menuntun ulang niat ihramnya.

Agar skema miqat di atas bus ini berjalan lancar, jemaah diwajibkan telah menyelesaikan seluruh sunah ihram sejak berada di penginapan Madinah. “Pastikan kepada seluruh jamaah yang akan mengambil miqat di Bir Ali sejak di hotel mereka sudah menggunakan pakaian ihram dengan sebelumnya sudah mandi sunnah, kemudian sudah memakai minyak wangi. Dan pastikan tidak ada jamaah yang laki-laki terutama, sudah menggunakan kain ihram masih menggunakan celana dalam,” tegas Khalilulrahman.

2. Sebulan di Makkah

Hotel tempat jemaah haji Indonesia menginap di Kota Suci Makkah, Arab Saudi (MCH/Kemenhaj RI)
Hotel tempat jemaah haji Indonesia menginap di Kota Suci Makkah, Arab Saudi (MCH/Kemenhaj RI)

Setibanya di Makkah, jemaah haji Indonesia dijadwalkan akan menetap selama kurang lebih 25 hingga 30 hari. Semua data pergerakan, transportasi, dan kebutuhan akomodasi di empat wilayah Makkah (Syisyah, Raudhah, Jarwal, Misfalah, dan Aziziyah) telah dikoordinasikan secara penuh dengan Daker Makkah.

Namun, Khalilulrahman membawa sebuah peringatan serius terkait keamanan jemaah selama beraktivitas di Makkah. Pihaknya menerima laporan adanya modus penipuan baru yang dilakukan oleh oknum sopir taksi dengan target telepon seluler (HP) milik jemaah haji.

Modus ini kerap menyasar jemaah yang baru saja selesai melaksanakan salat di Masjidil Haram dan hendak pulang ke pemondokan menggunakan taksi. Oknum sopir taksi akan berpura-pura tidak mengetahui lokasi hotel jemaah dan meminjam HP jemaah dengan dalih meminta Shareloc (membagikan lokasi).

Setelah HP dipegang oleh sopir, ia akan menciptakan situasi panik palsu dengan mengusir jemaah keluar dari taksi secara terburu-buru dengan alasan ada razia kepolisian. Akibatnya, jemaah keluar dengan panik dan HP mereka berhasil dicuri oleh sopir taksi tersebut.

“Oleh karena itu imbauan kami, apabila jamaah haji selesai melaksanakan salat di Masjidil Haram dan ingin menggunakan taksi atau dari mana pun jamaah menggunakan taksi berbayar atau taksi online, maka pastikan handphonenya jangan diberikan kepada supir taksi, tetap dipegang, jangan ditinggal, jangan diserahkan,” imbau Kadaker memberikan peringatan keras. Jemaah dituntut untuk menghafal nama dan sektor hotelnya masing-masing.

3. Waspadai perbedaan cuaca

Suasana di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi pada Minggu (19/04/2026) (IDN Times/Yogie Fadila)
Suasana di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi pada Minggu (19/04/2026) (IDN Times/Yogie Fadila)

Tantangan di Makkah tidak hanya soal keamanan, tetapi juga cuaca. Jika di Madinah jemaah merasakan suhu yang relatif bersahabat, cuaca di Kota Makkah diprediksi akan jauh lebih terik saat memasuki bulan Mei, dengan suhu menyentuh angka 35 hingga 36 derajat celcius.

Sebagai langkah pencegahan, otoritas haji meminta jemaah menjaga kondisi fisik, memastikan asupan gizi dan istirahat, serta tidak pernah melupakan alat pelindung diri seperti masker, topi, payung, dan kacamata hitam setiap kali beraktivitas di luar ruang.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yogie Fadila
EditorYogie Fadila
Follow Us

Related Articles

See More