Ketua MPR Soroti Kekerasan di Pesantren: Harus Terus Berbenah

- Ahmad Muzani meminta pondok pesantren terus berbenah menghadapi tantangan pendidikan, termasuk persoalan kekerasan.
- Inovasi dan perbaikan sistem dinilai diperlukan agar pendidikan pesantren tetap relevan dengan tuntutan zaman.
- Muzani meminta santri aktif belajar dan berdiskusi untuk menguji kebenaran pengetahuan serta menjaga tradisi keilmuan.
Jakarta, IDN Times - Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, meminta pondok pesantren (ponpes) terus berbenah menghadapi tantangan pendidikan, termasuk persoalan kekerasan yang masih terjadi. Dia menilai inovasi dan perbaikan sistem diperlukan agar pendidikan pesantren tetap relevan dengan tuntutan zaman.
"Tantangan di dunia pondok pesantren juga berkembang sesuai dengan tuntutan zamannya. Karena itu, ikhtiar yang harus dilakukan adalah terus melakukan inovasi dan perbaikan diri," kata dia usai agenda Global Islami Holistic Education Summit di Jakarta, Sabtu (5/9/2026).
1. Pendidikan holistik untuk bentuk karakter

Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026 digelar di Hotel Borobudur, Jakarta, 5–6 September 2026, membahas pendidikan holistik berbasis pesantren (IDN Times/Lia Hutasoit) Muzani menilai, pendidikan holistik yang berkembang di pesantren dapat menjadi model pengembangan sumber daya manusia. Menurut dia, pendekatan tersebut juga berkaitan dengan pembentukan karakter serta pengembangan peradaban yang berangkat dari kekhasan pendidikan Indonesia.
"Yang kedua, ini juga menjadi sebuah ajang bagaimana pembentukan karakter manusia bisa dibentuk melalui sebuah pendidikan holistik," kata dia.
2. Pesantren disebut punya kekhasan Indonesia

Bisa, kalau untuk caption foto agenda, dGlobal Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026 digelar di Hotel Borobudur, Jakarta, 5–6 September 2026, membahas pendidikan holistik berbasis pesantren (IDN Times/Lia Hutasoit). Dia mengatakan, pendidikan pesantren memiliki karakter yang berbeda karena berkembang dari tradisi dan lingkungan lokal. Menurut Muzani, sistem tersebut dibangun oleh para pendahulu, ulama, dan kiai dengan tetap menyatukan pendidikan dalam ke-Indonesia-an.
"Cara mendidiknya adalah khas Indonesia dan menyatukan diri dalam keindonesiaan, menyatukan diri dalam tradisi, menyatukan diri dalam keunikan-keunikan yang ada di lokal-lokal itu," ujar dia.
3. Santri diminta aktif berdiskusi

Peringatan Hari Santri Nasional 2024 di Gedung Negara Grahadi Surabaya. IDN Times/Ardiansyah Fajar. Muzani pun meminta para santri terus mengembangkan tradisi keilmuan dengan aktif belajar dan berdiskusi. Menurut dia, proses tersebut diperlukan untuk menguji kebenaran pengetahuan yang diperoleh selama menjalani pendidikan di pesantren.
"Saya kira santri harus terus belajar, mendengar, membaca, bertanya, dan teruslah berdiskusi karena itu adalah sebuah cara untuk menguji tentang kebenaran, sehingga tradisi keilmuan akan terus diuji dengan baik," kata dia.



















