KSAD Resmikan Jembatan Bailey di Bener Meriah, Akses Darat Telah Pulih

Jakarta, IDN Times - Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak meresmikan jembatan Bailey ke-17 di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, pada Kamis (8/1/2026). Jembatan itu sudah selesai dibangun oleh satgas Gulbencal Batalyon Zeni Tempur 5/BW.
Peresmian itu, kata Maruli, menandai pulihnya akses transportasi utama masyarakat yang sempat putus akibat bencana alam. Jenderal bintang empat itu meresmikan jembatan Bailey tersebut bersama Bupati Bener Meriah, Tagore Abubakar dan tokoh adat setempat.
Pembangunan jembatan Bailey itu merupakan bagian dari percepatan pemulihan infrastruktur vital pascabencana, khususnya pada jalur strategis penghubung antarwilayah.
"Ini adalah jembatan Bailey ke-17 yang sudah selesai dari rencana awal 42 jembatan Bailey yang kami miliki. Namun, dalam perkembangannya kebutuhan jembatan di berbagai daerah sangat besar, termasuk di wilayah ini," ujar Maruli di dalam keterangan tertulis pada Jumat (9/1/2026).
Terkait kebutuhan jembatan, Maruli menilai perlu dilakukan survei buat mencari tahu apakah jembatan itu cukup dibangun menggunakan beton sederhana atau jembatan gantung.
1. TNI AD targetkan seluruh jembatan di Indonesia bisa rampung 1,5 tahun

Lebih lanjut, Maruli mengatakan TNI Angkatan Darat (AD) menargetkan jembatan di seluruh Indonesia yang rusak bisa diselesaikan dalam kurun waktu 1,5 tahun. Akses jembatan itu dimanfaatkan oleh para pelajar untuk menuju ke sekolah. Target tersebut ditentukan sesuai dengan instruksi presiden.
"Keberadaan jembatan Bailey ini diharapkan mampu kembali menggerakan aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat. Sekaligus memperlancar arus transportasi pada jalur lintas nasional Takengon-Bireuen yang memiliki peran strategis bagi distribusi logistik dan mobilitas warga," tutur dia.
Sementara, jembatan gantung masih dalam tahap perencanaan karena masih dalam proses pengadaan. Mantan Pangkostrad itu juga menegaskan pembangunan jembatan merupakan wujud nyata kehadiran TNI AD di tengah masyarakat dalam membantu penanganan dan pemulihan wilayah terdampak bencana.
Maruli pun berpesan agar masyarakat dapat menjaga dan merawat jembatan yang telah dibangun agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
2. KSAD targetkan pembangunan 200 jembatan di Aceh

Sebelumnya, Maruli mengatakan TNI menargetkan pembangunan 200 jembatan di wilayah Aceh dan Sumatra hingga Februari 2026. Pembangunan tersebut dilakukan untuk memulihkan akses darat yang terputus akibat bencana banjir dan tanah longsor pada November 2025.
"Mudah-mudahan di tahun ini atau bulan Februari awal target pembangunan jembatan 150 sampai 200 berbagai jenis itu saya yakin bisa," ujar Maruli di Tanjung Priok, Jakarta Utara pada Selasa kemarin.
Ia menambahkan ratusan jembatan tersebut dibangun sebagai solusi cepat untuk menyambung kembali jalur transportasi darat yang terputus akibat bencana alam. Keberadaan jembatan dinilai krusial memperlancar distribusi logistik dan aktivitas masyarakat di wilayah terdampak.
Menurutnya, 200 jembatan yang ditargetkan terdiri dari berbagai jenis, yakni jembatan aramco, jembatan bailey, serta jembatan gantung, yang disesuaikan dengan kondisi medan di lapangan.
Berdasarkan data yang diterima, hingga saat ini TNI AD berencana membangun sebanyak 42 jembatan bailey, 51 jembatan aramco, dan 38 jembatan gantung di wilayah terdampak bencana. Selain itu, TNI AD juga turut membantu pembangunan 37 jembatan beton yang dilaksanakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
3. Gubernur Aceh kembali perpanjang status darurat hingga 22 Januari 2026

Sementara, Gubernur Aceh Muzakir Manaf memperpanjang status tanggap darurat bencana buat ketiga kalinya. Berdasarkan hasil rapat dengan Kementerian Dalam Negeri, status tanggap darurat diperpanjang hingga 22 Januari 2026.
"Maka saya sebagai Gubernur Aceh dengan ini menetapkan perpanjangan ketiga status tanggap darurat bencana hidrometeorologi di Aceh tahun 2026," kata pria yang akrab disapa Mualem itu seperti dikutip dari akun Instagram resminya, Jumat (9/1/2026).
Perpanjangan ketiga status tanggap darurat berlaku selama 14 hari ke depan, sejak tanggal 9 sampai 22 Januari 2026. Ia juga mengingatkan beberapa hal terkait penanganan bencana di Aceh.
"Yang pertama perkuat koordinasi dengan status pemulihan pascabencana dengan kementerian/Lembaga dan seluruh stakeholder yang terlibat dalam penanganan darurat bencana," ujarnya.
Mualem juga meminta agar segera melakukan pembersihan lingkungan pemukiman penduduk, sarana ibadah, sekolah, pasar, sawah dan kebun warga yang terdampak bencana.

















