Megawati Bahas Isu Teknologi-Lingkungan dengan Presiden Timor Leste

- Megawati Soekarnoputri bertemu Presiden Timor Leste José Ramos-Horta di Jakarta, bersama ilmuwan dan penerima penghargaan internasional, membahas isu global dari teknologi hingga geopolitik.
- Megawati menekankan ilmu pengetahuan, pendidikan, riset, dan inovasi harus menjadi dasar kebijakan negara; ia juga mendorong nasionalisme yang tetap terbuka pada kerja sama internasional.
- Ia menyoroti dampak perubahan iklim terhadap lingkungan, pangan, kesehatan, dan keanekaragaman hayati, serta meminta pemanfaatan AI diarahkan untuk kepentingan manusia.
Jakarta, IDN Times - Presiden ke-5 Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum DPP PDI Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri, bertemu Presiden Timor Leste José Ramos-Horta di Megawati Institute, Jakarta, Jumat (28/8/2026). Pertemuan tersebut turut dihadiri sejumlah penerima hadiah nobel, penerima hadiah turing, serta ilmuwan dari berbagai bidang.
Dalam pertemuan tersebut, Megawati membahas sejumlah persoalan global, mulai dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kecerdasan buatan, perubahan iklim, ketahanan pangan, kesehatan, hingga kondisi geopolitik dunia. Megawati menilai ilmu pengetahuan dan teknologi memiliki hubungan erat dengan kehidupan politik serta masa depan sebuah negara. Dia juga menekankan pentingnya Indonesia membangun kebijakan berdasarkan riset.
"Bagi saya, ilmu pengetahuan dan teknologi bukan sesuatu yang terpisah dari kehidupan politik dan masa depan suatu bangsa," ujar Megawati.
Saat menjabat sebagai Presiden ke-5 RI, Megawati menyebut pendidikan, penguasaan ilmu dasar, riset, dan inovasi menjadi perhatian dalam kebijakan yang dijalankannya.
"Bahkan kebijakan negara pun harus berbasis riset," kata dia.
Megawati juga mengungkapkan, pemikiran tersebut dipengaruhi oleh ayahnya, Presiden pertama RI Sukarno atau Bung Karno. Menurut Megawati, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi bagian penting dari kemerdekaan dalam arti sesungguhnya.
Megawati kemudian menyinggung pesan Bung Karno mengenai hubungan antara nasionalisme dan internasionalisme. Dia menilai nasionalisme tidak seharusnya membuat sebuah negara menutup diri dari kerja sama dengan negara lain.
"Nasionalisme harus tumbuh subur di dalam tamansari internasionalisme. Saya kira pandangan ini semakin penting pada abad sekarang ini," kata dia.
Dalam kesempatan tersebut, Megawati juga menyoroti perubahan iklim yang dampaknya semakin terasa. Dia mengajak para ilmuwan dan pemikir dunia memberikan perhatian lebih besar terhadap persoalan pemanasan global.
"Perubahan iklim semakin nyata dampaknya. Sekarang ini kita betul-betul harus memfokuskan diri mengenai global warming," ujar dia.
Menurut Megawati, perubahan iklim telah memicu kerusakan lingkungan, mengancam kehidupan manusia, serta memberikan tekanan terhadap keanekaragaman hayati.
Dia turut menyinggung sejumlah fenomena alam yang terjadi di Indonesia, termasuk gempa dan banjir. Megawati juga menyoroti fenomena salju di Papua sebagai salah satu kondisi yang menurutnya perlu mendapatkan perhatian serius.
Menurut Megawati, masalah perubahan iklim tidak dapat dipisahkan dari ketahanan pangan dan kesehatan. Megawati mengatakan, persoalan pangan masih dihadapi ratusan juta orang di berbagai belahan dunia.
Di tengah persoalan tersebut, perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) berlangsung sangat cepat. Megawati meminta para ilmuwan memberikan perhatian terhadap pemanfaatan AI agar teknologi tersebut digunakan untuk kepentingan manusia.
















