Mendikdasmen Soroti Cara Belajar Matematika di Indonesia: Mati-matian!

- Abdul Mu'ti menyoroti pembelajaran matematika di Indonesia yang terlalu cepat mengenalkan rumus kompleks sejak TK, sehingga anak kehilangan dasar logika dan menganggap matematika sebagai pelajaran yang menakutkan.
- Mu'ti membandingkan pendekatan Australia yang lebih menekankan penguatan logika melalui permainan, bukan hafalan rumus, agar anak memahami konsep dasar sebelum masuk ke hitungan yang lebih sulit.
- Ia menegaskan pentingnya kolaborasi lintas pihak untuk memperkuat literasi dan numerasi sejak dini, guna mengatasi learning loss serta meningkatkan capaian akademik nasional hingga tahun 2029.
Jakarta, IDN Times — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, menyoroti cara pembelajaran matematika di Indonesia yang dinilai terlalu cepat masuk ke rumus dan hitungan kompleks sejak usia dini.
Mu'ti menilai, pendekatan seperti ini justru membuat anak kehilangan fondasi logika sehingga matematika terasa menakutkan dan berat di jenjang berikutnya. Dia juga menyinggung stigma yang berkembang di kalangan pelajar bahwa matematika identik dengan sesuatu yang ‘mati-matian.’
"Ada yang bicara, match itu identik dengan death sehingga ada yang bilang, matematika itu 'mati-matian.' Pelajarannya apa? Mati-matian," ujar Mu'ti dalam acara Kolaborasi Multipihak untuk Peningkatan Literasi dan Numerasi Nasional di Gedung Kemendikdasmen, Kamis (9/5/2026).
1. Bandingkan Australia yang kuatkan kemampuan logika

Mu’ti mencontohkan pengalaman di Australia, yaitu matematika pada fase awal pendidikan lebih menekankan pada penguatan logika ketimbang kemampuan berhitung menggunakan rumus.
"Matematika di negara Australia itu bermain saja yang lebih banyak itu. Karena logika yang ditekankan, bukan kemampuan-kemampuan hitung yang rumit," ujar Mu’ti.
2. TK sampai SD awal sudah dikenalkan rumus

Dia kemudian membandingkannya dengan praktik di Indonesia yang menurutnya perlu dievaluasi. Bahkan, di tingkat TK dan awal SD, anak-anak sudah dikenalkan pada pembagian dan rumus yang kompleks.
“Jangan-jangan kelas 2 SD itu sudah dimulai pembagian, yang kadang-kadang sudah kompleks sekali. Malah kadang-kadang TK pun sudah diajari itu. Padahal, seharusnya masa-masa awal itu yang penting ditekankan adalah logikanya, bukan hitung-hitungan matematika yang sudah pakai rumus-rumus," kata dia.
2. Kesulitan belajar matematika di jenjang berikutnya

Menurut Mu’ti, jika sejak awal anak dipaksa memahami rumus tanpa fondasi logika yang kuat, dampaknya akan terus terbawa hingga jenjang pendidikan selanjutnya.
“Kalau itu sudah diberikan, mereka tidak bisa memiliki logik dan kemudian kesulitan yang mereka hadapi ketika belajar matematika di masa awal itu akan terdampak terus dalam jenjang berikutnya,” kata dia.
3. Penguatan literasi dan numerasi dengan pendekatan yang tepat

Oleh karena itu, Mu’ti menekankan pentingnya penguatan literasi dan numerasi dengan pendekatan yang lebih tepat sejak usia dini melalui kolaborasi berbagai pihak.
Dia mengapresiasi dukungan mitra pembangunan seperti Tanoto Foundation, UNICEF, serta mitra baru Gates Foundation, bersama pemerintah daerah sebagai pelopor implementasi program di lapangan.
"Program ini merupakan kerja sama yang berkelanjutan insyaallah nanti akan kita laksanakan sampai tahun 2029. Ini memang merupakan usaha kita bersama untuk mengatasi permasalahan yang masih kita hadapi sekarang ini yang belum sepenuhnya ya recovery. Yang menyangkut learning loss, juga learning poverty, dan juga berbagai capaian, skor PISA, dan berbagai capaian akademik yang memang belum sebagaimana yang kita harapkan,” kata dia.

















