Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Menembus Batas Sunyi, Siswa Tunarungu Bekasi Berani Berjualan Takjil

Menembus Batas Sunyi, Siswa Tunarungu Bekasi Berani Berjualan Takjil
Siswa tunarungu di Bekasi berjualan takjil. (IDN Times/Imam Faishal)
Intinya Sih
  • Siswa tunarungu dari SLB Kembar Karya Pembangunan 3 Bekasi berani berjualan takjil sebagai bagian dari pembelajaran kewirausahaan dan latihan percaya diri di ruang publik.
  • Kegiatan ini melibatkan proses lengkap, mulai dari belanja bahan, memasak, hingga melayani pembeli dengan bahasa isyarat, membuat siswa merasa senang dan bangga atas hasil karyanya.
  • Masyarakat mengapresiasi semangat para siswa dan berharap pemerintah memberikan dukungan lebih luas bagi kegiatan wirausaha penyandang disabilitas di daerah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bekasi, IDN Times - Senja mulai turun di Jalan Komodo Raya, Kelurahan Kayuringin Jaya, Kecamatan Bekasi Selatan, Kota Bekasi, pada Kamis (26/2/2026) sore. Aroma kolak dan manisnya es kuwut menyeruak di antara keramaian pemburu takjil.

Di balik meja sederhana yang dipenuhi jajanan pasar, beberapa siswa tunarungu dari Sekolah Luar Biasa (SLB) Kembar Karya Pembangunan 3, tampak sigap melayani pembeli. Tanpa banyak suara, senyum dan bahasa isyarat menjadi cara mereka berkomunikasi menembus batas sunyi dengan keberanian.

Bukan untuk mencari keuntungan, namun, mereka sedang membangun rasa percaya diri saat berinteraksi di ruang publik dan bebelajar berwirausaha ketika sudah menyelesaikan pendidikannya.

"Ini anak-anak saya, kebetulan hari ini pada tunarungu semua yang piket. Jadi mereka lagi melaksanakan pembelajaran sebenarnya, jadi bukan jualan, tidak, (namun) pembelajaran kewirausahaan," kata Kepala SLB Kembar Karya Pembangunan 3, Vivi Sukmawati (53) saat ditemui IDN Times, Kamis (26/2/2026).

1. Awalnya para guru kesulitan untuk melatih kepercayaan diri siswa

Siswa tunarungu di Bekasi berjualan takjil. (IDN Times/Imam Faishal)
Siswa tunarungu di Bekasi berjualan takjil. (IDN Times/Imam Faishal)

Vivi menyampaikan, para siswa mulai mengawali harinya dengan belajar di kelas yang berjarak hanya beberapa ratus meter dari lapak jajanan takjil. Siang harinya, para siswa tersbut mempersiapkan dagangannya mulai dari berbelanja ke pasar, mengolah masakan hingga siap dijajakan kepada pemburu takjil.

"Nah inilah yang sekarang hasilnya, jadi ini semua adalah hasil dari anak-anak saya," ungkap Vivi.

Bukan hal mudah untuk Vivi dan guru-guru lainnya memulai agar para siswa percaya diri dalam menjajakan takjil di ruang publik. Pihaknya pun terlebih dahulu melatih para siswa berjalan di lingkungan sekolah.

"Karena mereka tahu mereka berketerbatasan. Untuk menanamkan kepercayaan diri itu yang benar-benar harus ditanamkan dulu, kalau mereka sama dengan yang lain," jelasnya.

Selain melatih kepercayaan diri para siswa, lanjut Vivi, kegiatan tersebut juga memberikan edukasi terhadap masyarakat agar tidak memandang siswa SLB dengan sebelah mata.

"Yang kedua menghilangkan image SLB, karena orang beranggapan SLB itu dalam tanda kutip ya, jadi kami menampilkan anak SLB itu seperti ini, tidak berbeda dengan yang lain," kata dia.

2. Menikmati berjualan

Siswa tunarungu di Bekasi berjualan takjil. (IDN Times/Imam Faishal)
Siswa tunarungu di Bekasi berjualan takjil. (IDN Times/Imam Faishal)

Salah satu siswa, Safira (16), mengaku senang berjualan takjil di pinggir jalan. Dia juga bercerita, dirinya bersama teman-teman lainnya sudah mempersiapkan dagangannya mulai pukul 13.00 WIB.

"Aku senang, soalnya banyak yang banyak yang membeli. Ini bukan pertama bagi saya, ini sudah beberapa kali saya berjualan (di bulan ramadhan 2026). Aku juga ingin jualan terus. Aku tidak (merasa) capek (saat berjualan)," kata Safira dengan bahasa isyarat.

Siswa lainnya, Raka (17), mengaku telah membuat gorengan tahu isi dan puding untuk dijual pada sore hari.

"Untuk tahu aku jual Rp2 ribu. Alhamdulillah sudah habis terjual," kata Raka, juga dengan bahasa isyarat.

Raka juga mengatakan tidak mengalami kesulitan dalam memasak. Sebab, dirinya merasa senang saat melaksanakan masak memasak atau saat pembelajaran tata boga di sekolah.

3. Berharap dukungan pemerintah

Siswa tunarungu di Bekasi berjualan takjil. (IDN Times/Imam Faishal)
Siswa tunarungu di Bekasi berjualan takjil. (IDN Times/Imam Faishal)

Di sisi lain, seorang warga dan pembeli, Novi (42 tahun) mengungkapkan rasa bangganya melihat siswa SLB menjajakan dagangannya.

"Bangga melihat mereka itu ternyata bisa buat seperti ini jarang dan ini salah satunya. Cara buatnya dan buatnya juga sama hasilnya seperti orang pada umumnya dan prosesnya itu luar biasa," kata Novi.

Dia juga berharap, kegiatan itu harus tetap dikembangkan dan menjadi perhatian khusus bagi pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.

"Terus dikembangin dan warga juga harus ikut serta, dan malah perlu ada pengembangan lebih luas untuk ruang disabilitas baik di wiraswasta ini. Dan harus disponsori juga kalau perlu sama pemerintah daerahnya," ungkap Vivi.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwifantya Aquina
EditorDwifantya Aquina
Follow Us

Latest in News

See More