Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Menkes: Campak Paling Cepat Menular, Risiko Tinggi pada Anak

Menkes: Campak Paling Cepat Menular, Risiko Tinggi pada Anak
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meninjau fasilitas layanan RSUD Kota Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam program peningkatan kelas rumah sakit pemerintah daerah setempat. (IDN Times/Lia Hutasoit)
Intinya Sih
  • Menkes Budi Gunadi Sadikin menegaskan campak memiliki tingkat penularan sangat tinggi, di mana satu orang bisa menularkan hingga 10–12 orang lain, dan paling berisiko bagi anak-anak.
  • Dua anak dilaporkan meninggal akibat campak, sementara kasus meningkat tajam; pemerintah mempercepat imunisasi di 100 kabupaten/kota dengan tambahan vaksin dan dukungan tenaga kesehatan.
  • Kemenkes mencatat lonjakan signifikan kasus campak pada 2025 dibanding 2024, dengan ribuan suspek dan beberapa kematian, sehingga penguatan surveilans serta pelaporan cepat terus digencarkan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

NTB, IDN Times - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan, campak merupakan penyakit dengan tingkat penularan sangat tinggi, di mana satu orang bisa menularkan ke 10 sampai 12 orang lainnya.

Kendati demikian, kata Budi, campak relatif tidak terlalu berbahaya pada orang dewasa, namun fatal bagi anak-anak, terutama balita.

"Campak itu adalah penyakit yang menularnya paling cepat. Kalau COVID itu satu jadi dua, satu jadi tiga, Campak itu bisa satu menularkan ke 10, satu ke 12. Ini adalah penyakit menular yang reproduction rate-nya apa? Rate penularannya paling tinggi," kata dia dalam kunjungan ke RSUD Kota Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), Jumat (27/2/2026).

1. Ada dua kasus meninggal

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meninjau fasilitas layanan RSUD Kota Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam program peningkatan kelas rumah sakit pemerintah daerah setempat. (IDN Times/Lia Hutasoit)
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meninjau fasilitas layanan RSUD Kota Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam program peningkatan kelas rumah sakit pemerintah daerah setempat. (IDN Times/Lia Hutasoit)

Data terbaru menunjukkan, sudah ada dua anak meninggal, sementara jumlah kasus meningkat tajam dibanding tahun lalu. Padahal, vaksin campak sudah tersedia dan menjadi bagian imunisasi rutin. Meski demikian, dia tidak menjelaskan asal dua kasus meninggal karena campak itu.

Pemerintah menargetkan percepatan imunisasi di 100 kabupaten atau kota dengan distribusi vaksin tambahan, serta dukungan tenaga kesehatan dari puskesmas dan rumah sakit.

"Saya terkejut karena seluruh dunia lagi naik. Indonesia naik, Bima juga naik. Bima naik. Saya koreksi. Udah ada dua yang meninggal anak-anak. Jadi tahun lalu setahun berapa? 40-an gitu. Sekarang sebulan aja udah 40-an. Februari juga 50-an. Nah ini yang meninggal udah ada dua yang saya dengar," katanya.

2. Targetkan Juni seluruh anak selesai vaksin campak

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meninjau fasilitas layanan RSUD Kota Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam program peningkatan kelas rumah sakit pemerintah daerah setempat.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meninjau fasilitas layanan RSUD Kota Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam program peningkatan kelas rumah sakit pemerintah daerah setempat. (IDN Times/Lia Hutasoit)

Budi menargetkan seluruh anak di bawah usia lima tahun selesai imunisasi campak pada Juni, guna menekan penyebaran yang sangat cepat dan mencegah kematian yang sebenarnya bisa dihindari.

"Saya sudah ngambil keputusan 100 kabupaten kota, kita akan drop vaksin banyak. Cuma saya untuk bisa nyuntiknya, butuh bantuan teman-teman dari Puskesmas, dari RSUD, bupati, wali kota untuk mendorong," katanya.

"Saya maunya Juni selesai. Juni semua anak-anak di bawah 5 (tahun) selesai. Kayak polio kemarin juga sudah bisa kita tangani ya," kata dia.

3. Data campak 2025 tinggi dibanding 2024

Seorang perawat merawat anak yang sedang sakit campak.
ilustrasi campak (IDN Times/NRF)

Kemenkes mencatat, terdapat 8.224 suspek campak hingga Februari 2026 dengan empat kematian, serta 21 KLB suspek dan 13 KLB terkonfirmasi di 17 kabupaten/kota pada 11 provinsi.

Sepanjang 2025 terdapat 63.769 kasus suspek campak, meningkat 147 persen dibanding tahun sebelumnya, hingga mendorong penguatan surveilans dan pelaporan cepat melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons.

Share
Topics
Editorial Team
Sunariyah Sunariyah
EditorSunariyah Sunariyah
Follow Us

Latest in News

See More