MKD Panggil Aboe Bakar Usai Singgung Ulama Madura di Pusaran Narkoba

- MKD DPR RI memanggil Habib Aboe Bakar Al-Habsyi untuk klarifikasi pernyataannya soal dugaan keterlibatan tokoh agama di Madura dalam peredaran narkoba yang memicu perhatian publik.
- Dalam rapat dengan Kepala BNN, Aboe menyoroti indikasi keterlibatan oknum ulama dan pesantren di Madura dalam bisnis narkotika, yang dinilainya mengejutkan dan sensitif bagi masyarakat.
- Aboe juga menekankan lemahnya pengawasan di wilayah perbatasan dan pesisir sebagai jalur utama masuknya narkoba, serta menyerukan sinergi aparat dan masyarakat untuk memperkuat pemberantasan.
Jakarta, IDN Times - Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR RI memanggil Anggota Komisi III DPR RI Fraksi PKS, Habib Aboe Bakar Al-Habsyi, Selasa (14/4/2026). Pemanggilan ini menyusul pernyataannya yang menyinggung dugaan keterlibatan tokoh agama di Madura dalam pusaran peredaran narkoba.
MKD menyatakan telah melakukan verifikasi awal atas pernyataan tersebut. Karena itu, lembaga etik DPR itu meminta penjelasan langsung dari Aboe Bakar guna meluruskan konteks dan substansi ucapannya yang memicu perhatian publik.
"Kami sampaikan bahwa sehubungan dengan maraknya pemberitaan yang menjadi perhatian masyarakat terkait pernyataan saudara tentang keterlibatan ulama dan pesantren di Madura dalam pusaran narkoba," demikian bunyi undangan MKD, dikutip IDN Times, Senin (13/4/2026).
1. Tuding kiai di Madura masuk pusaran narkoba

Pernyataan kontroversial itu disampaikan Aboe Bakar saat rapat kerja bersama Kepala BNN, Suyudi Ario Seto, Selasa (7/4). Dalam forum tersebut, ia mengaku prihatin dengan indikasi peredaran narkoba yang mulai merambah lingkungan yang selama ini dianggap sakral, termasuk pesantren.
Ia menyinggung temuan di Madura yang dinilainya mengejutkan, lantaran diduga melibatkan oknum tokoh agama.
"Contoh, Madura. Saya itu kaget, Pak, ulama sudah mulai ikut terlibat juga dengan narkotika, coba cek benar tidak? Pesantren-pesantren itu juga, Pak. Ini ada apa? Ternyata ada cuan di situ, Pak. Ada cuan di situ, cuan-nya banyak, bukan dikit," kata Habib Aboe dalam rapat tersebut.
Pernyataan ini kemudian memicu reaksi luas di masyarakat, terutama karena menyangkut institusi keagamaan yang memiliki posisi strategis dan sensitif.
2. Soroti lemahnya pengawasan di wilayah perbatasan

Selain menyoroti dugaan keterlibatan oknum di lingkungan masyarakat, Aboe Bakar juga mengkritik lemahnya pengawasan di sejumlah titik rawan peredaran narkoba, khususnya di wilayah perbatasan dan pesisir.
Ia menilai jalur-jalur tersebut kerap menjadi pintu masuk utama bagi peredaran narkotika, sehingga membutuhkan pengawasan lebih ketat dari aparat.
"Kita harus pikirkan itu daerah-daerah perbatasan, daerah-daerah pinggiran laut, dan sebagainya. Saya nggak sebutkan lah di mana-dimananya. Itu pasti menjadi pusat perjalanan barang-barang tersebut, ya," ujarnya.
3. Pernyataan Habib Aboe yang singgung tokoh agama di Madura

Berikut pernyataan lengkap yang mengantarkan Habib Aboe diperiksa MKD:
Oleh karena itu, saya pikir Komisi III ini berkomitmen ya, untuk mendorong regulasi adaptif, progresif, serta mampu memberikan dasar hukum yang kuat bagi aparat dalam memberantas jaringan narkotika hingga ke akar-akarnya. Kami juga menegaskan pentingnya sinergi antara BNN, Polri, dan Pemerintah Daerah, serta seluruh elemen masyarakat dalam memerangi narkoba. Tanpa kolaborasi yang solid, upaya kita tidak akan mencapai hasil yang optimal.
Contoh, Madura. Saya itu kaget, Pak, ulama sudah mulai ikut terlibat juga dengan narkotika, coba cek benar tidak? Pesantren-pesantren itu juga, Pak. Ini ada apa? Ternyata ada cuan di situ, Pak. Ada cuan di situ, cuan-nya banyak, bukan dikit. Nah, saya khawatir yang bermain-main ini, ya maaf ya, saya, kita tidak tendensius, saya khawatir yang bermain ya yang punya posisi-posisi, Pak. Karena ini, atau pebisnis-pebisnis besar.
Kita harus pikirkan itu daerah-daerah perbatasan, daerah-daerah pinggiran laut, dan sebagainya. Saya nggak sebutkan lah di mana-dimananya. Itu pasti menjadi pusat perjalanan barang-barang tersebut, ya. Jadi perlu kita perhatikan itu. Tentunya kita semua berharap pertemuan kita ini dapat menghasilkan rumusan yang konstruktif dan komprehensif.

















