Pemda Ngada Lamban Tangani Kasus Anak SD Akhiri Hidup, Gubernur NTT: Gila!

- Gubernur NTT marah karena pemda lambat tangani kasus siswa SD meninggal akibat kemiskinan
- Mengaku malu dan menegur pimpinan daerah Ngada, mengancam akan dicincang jika Prabowo tahu
Jakarta, IDN Times - Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, menegur Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Ngada karena belum ada jajaran pemerintag daerah yang melayat ke rumah keluarga YB, anak SD yang mengakhiri hidup karena tak mampu membeli buku dan alat tulis sekolah.
Kemarahan Melki terjadi saat memberikan pidato di Universitas Citra Bangsa, Kupang, Kamis (5/2/2026). Dia meminta seluruh pejabat daerah yang hadir untuk menjadikan peristiwa ini sebagai bahan evaluasi agar tidak terulang.
"Ini Pak Sekda ada ini, tadi malam saya cek terakhir belum ada Pemda Ngada datang mewakili, pergi mengucapkan berduka kepada keluarga korban. Ini gila ini! Gak boleh, Pak Sekda. Gak boleh! Kirim orang secara resmi dari pemerintah Ngada! Itu kita gagal sebagai pemerintah. Tadi malam saya masih belum ada pemda turun secara resmi ya, itu gak boleh!" kata dia.
1. Malu ada kasus orang meninggal karena miskin

Di depan jajaran pemerintahan NTT, Melki juga mengaku malu karena di wilayahnya masih ada warga yang meninggal akibat kemiskinan.
"Agak terganggu juga. Saya mau jawab itu saya punya lidah juga kelu, tangan saya juga susah jawab," kata dia.
Dia mengaku telah menghubungi pimpinan daerah Ngada, tetapi respons yang diterima sangat lambat.
"Saya WA pimpinan daerahnya, lama sekali kasih respons. Akhirnya saya minta orang saya sendiri turun periksa, mungkin ini sudah biasa orang mati kali itu daerah," ujar dia.
2. Jika Prabowo tahu saat rakornas, pemda bisa dicincang

Melki mengatakan, meninggalnya YB menjadi alarm bagi semua pihak. Dia mengatakan, apabila Presiden Prabowo mengetahui kasus ini saat Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Bogor lalu, maka pemerintah daerah akan sangat dipermalukan.
"Dan syukur kejadian ini Pak Wali, bapak-ibu, kita-kita yang hadir di Jakarta ini syukur diketahui publik setelah kita Rakornas, bayangkan kalau itu Pak Prabowo (tahu saat rakornas) pasti mati kita dicincang," kata dia.
Menurut dia, Prabowo sangat tidak menyukai kasus-kasus semacam ini karena menunjukkan kegagalan dalam menangani kemiskinan.
"Pemerintahan kita juga provinsi sama Kabupaten Ngada juga sama. Kita punya pranata agama juga gagal, pranata budaya juga gagal sampai ada orang mati orang miskin begini," ujar dia.
3. NTT punya uang untuk urus warga miskin

Melki mengatakan, pemerintah daerah telah gagal jika masih ada warga yang meninggal karena kemiskinan. Dia menilai hal tersebut tidak bisa dibenarkan.
"Malu kita sebagai pemerintah model begini ada warga kita mati hanya karena model begini, harus ke sana! Kuburannya tidak boleh pakai tanah, kuburkan dia dengan layak. Kita juga harus seperti Mother Teresa, dia pun mati sebagai manusia, gak boleh model begini! Malu saya sebagai Gubernur," kata dia.
Melki menyatakan siap bertanggung jawab dan menuntut pihak-pihak yang tidak menjalankan tugasnya dengan baik apabila kejadian serupa terulang.
"Jangan ada model-model kejadian seperti ini! Besok ada lagi model begini, pasti saya tuntut orang-orangny! Kalau pun saya setiap dituntut, kesalahan itu ada di mana, saya siap dituntut untuk itu," kata dia.
Menurut dia, NTT memiliki alokasi anggaran untuk warga miskin sehingga kejadian seperti ini seharusnya tidak terjadi.
"Perangkat sosial di RT RW kalau ada yang miskin susah, kita urus! Uang ada kok walaupun terbatas. Uang kita ada, ini gak boleh lagi kejadian model begini. Ini cukup sudah yang terakhir saya berharap di sini cukup sudah! Kita tidak boleh lagi ada yang mati hanya karena miskin, uang kita masih ada untuk kasih makan orang hanya sekadar beli buku tulis dan pulpen, kita baku tahu, kita baku bantu," ucap dia.
Depresi bukanlah persoalan sepele. Bila kamu merasakan tendensi untuk melakukan bunuh diri, atau melihat teman atau kerabat yang memperlihatkan tendensi tersebut, amat disarankan untuk menghubungi dan berdiskusi dengan pihak terkait, seperti psikolog, psikiater, maupun klinik kesehatan jiwa.
Saat ini, tidak ada layanan hotline atau sambungan telepon khusus untuk pencegahan bunuh diri di Indonesia. Kementerian Kesehatan Indonesia pernah meluncurkan hotline pencegahan bunuh diri pada 2010. Namun, hotline itu ditutup pada 2014 karena rendahnya jumlah penelepon dari tahun ke tahun, serta minimnya penelepon yang benar-benar melakukan konsultasi kesehatan jiwa.Walau begitu, Kemenkes menyarankan warga yang membutuhkan bantuan terkait masalah kejiwaan untuk langsung menghubungi profesional kesehatan jiwa di Puskesmas atau Rumah Sakit terdekat.Kementerian Kesehatan RI juga telah menyiagakan lima RS Jiwa rujukan yang telah dilengkapi dengan layanan telepon konseling kesehatan jiwa:
RSJ Amino Gondohutomo Semarang (024) 6722565
RSJ Marzoeki Mahdi Bogor (0251) 8324024, 8324025
RSJ Soeharto Heerdjan Jakarta (021) 5682841
RSJ Prof Dr Soerojo Magelang (0293) 363601
RSJ Radjiman Wediodiningrat Malang (0341) 423444.
Selain itu, terdapat pula beberapa komunitas di Indonesia yang secara swadaya menyediakan layanan konseling sebaya dan support group online yang dapat menjadi alternatif bantuan pencegahan bunuh diri dan memperoleh jejaring komunitas yang dapat membantu untuk gangguan kejiwaan tertentu.Kamu juga bisa menghubungi LSM Jangan Bunuh Diri, lembaga swadaya masyarakat yang didirikan sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan jiwa.
Tujuan dibentuknya komunitas ini adalah untuk mengubah perspektif masyarakat terhadap mental illness dan meluruskan mitos serta agar masyarakat paham bunuh diri sangat terkait dengan gangguan atau penyakit jiwa. Kalian dapat menghubungi komunitas ini melalui nomor telepon 021-06969293 atau melalui email janganbunuhdiri@yahoo.com.



















