Perempuan di Balik Kemudi Bus Transjakarta, Taklukkan Jalan Dua Dekade

- Endang Moeryanti, pramudi Transjakarta sejak 2007, telah menembus stigma gender dengan mengemudikan berbagai jenis bus, dari diesel hingga listrik, selama hampir dua dekade di Jakarta.
- Perjalanan kariernya dimulai dari pengalaman membawa mobil boks katering keluarga hingga menjadi pengemudi profesional yang dikenal ramah dan peduli terhadap penumpang, termasuk penyandang disabilitas.
- Meski masih menghadapi pandangan meremehkan terhadap pramudi perempuan, Endang terus menunjukkan profesionalisme tinggi dan disiplin menjaga kebugaran demi keselamatan serta pelayanan terbaik bagi penumpang.
Jakarta, IDN Times – Di balik kemudi bus listrik Transjakarta yang senyap namun canggih, duduk sosok wanita tangguh dengan tatapan fokus. Mengenakan jas hitam, tangannya cekatan mengendalikan panel-panel instrumen modern.
Hal ini kontras dengan stigma bahwa dunia otomotif berat adalah dominasi kaum adam. Dialah Endang Moeryanti, perempuan kelahiran 27 Maret 1976 yang telah menghabiskan hampir separuh hidupnya mengantar warga Jakarta membelah kemacetan Ibu Kota.
Hampir dua dekade, tepatnya 19 tahun, Endang telah menjadi saksi evolusi transportasi publik Jakarta. Bergabung sejak tahun 2007 di Jakarta Mega Trans (JMT), ia telah merasakan segala jenis armada, mulai dari bus bermesin diesel konvensional, bus gandeng Scania yang bongsor, hingga kini dipercaya mengawaki bus listrik teknologi terbaru.
IDN Times menemui Endang di Kantor Transjakarta selepas dinas. Senyum Perempuan itu mengembang saat memperkenalkan diri, berseragam putih hitam dengan logo Transjakarta. Endang mulai bercerita.
"Saya merasa tertarik dengan profesi ini untuk mematahkan stigma bahwa pekerjaan di transportasi publik hanya untuk kaum laki-laki saja," ucap Endang, Kamis (26/2/2026).
1. Berawal dari Mobil Boks Katering

Ketertarikan Endang pada dunia kemudi bukan muncul tiba-tiba. Jiwa "tomboi" dan rasa percaya diri tumbuh saat ia harus menggantikan sopir usaha katering keluarganya yang berhalangan hadir.
"Saya bawa boks Isuzu 100 PS ke pabrik. Kemasan makanan di dalam rantang rapi semua, tidak ada yang tumpah kalau saya yang bawa. Di situ saya jadi percaya diri," kenang Endang sambil tersenyum.
Inspirasi itu kian kuat saat ia melihat para pramudi jet bus di televisi yang tampak gagah. Bermodal nekat dan tekad, ia meningkatkan lisensi mengemudinya dari A Umum ke B1 Umum, lalu melamar menjadi pramudi Transjakarta.
"Di situ saya kok jadinya percaya diri. Saya mulai pelan-pelan meningkatkan SIM saya. Dari istilahnya saya bikin A Umum ke B1 Umum, baru saya berani untuk melamar. Di tahun 2007," ujarnya.
2. Pelatihan sampai momen emosional pertama mengemudikan bus

Namun, siapa sangka, di awal kariernya pada tahun 2007, "raksasa" jalanan itu sempat membuatnya gemetar. Bagi Endang, transisi dari mengemudikan mobil boks katering ke bus kota bukanlah lompatan kecil. Ada perbedaan dimensi dan tanggung jawab yang masif.
Ia mengenang masa-masa pelatihan awalnya di pool. Di sana, ia harus mengakrabkan diri dengan deretan panel instrumen yang rumit, jauh berbeda dengan dashboard mobil biasa.
Saat mulai turun ke jalan untuk Operasional (OR), ia tak langsung dilepas sendiri. Ada senior yang duduk di sampingnya, menjadi mentor sekaligus penjaga. Namun, hanya butuh waktu seminggu bagi Endang untuk menyerap ilmu itu sebelum akhirnya dipercaya membawa bus seorang diri.
Momen paling emosional justru terjadi bukan saat ia sedang menyetir, melainkan saat ia berhenti untuk mengisi bahan bakar gas (BBG). Saat itu, Endang turun dan memandang armadanya dari kejauhan. Ukuran bus yang begitu besar tiba-tiba terasa mengintimidasi.
"Sempat kayak kaget sih. Apalagi waktu saya mengisi gas, saya pandangi dari jauh itu mobil. Batin saya berkata, 'Ini enggak salah nih, segede ini saya yang bawa?'" kenang Endang sambil tersenyum geli mengingat.
3. Grogi kala membawa penumpang pertama

Tantangan mental berlanjut saat ia mulai mengangkut penumpang. Membawa ratusan nyawa di belakang punggungnya memberikan tekanan tersendiri. Endang mengaku saat pertama kali membawa penumpang dia terlewat tiga shelter (halte) karena rasa grogi.
Namun, di tengah kegugupan itu, jiwa tomboi dan tekad bajanya mengambil alih. Ia sadar, jika terus memelihara rasa takut, roda tidak akan berputar dan penumpang tidak akan sampai tujuan.
"Terus kalau saya grogi terus, ini gimana? Akhirnya saya ya sudah, berani di situ. Lama-lama bisa," ujarnya mantap.
Kini Ia bahkan pernah menaklukkan bus gandeng (articulated bus) Scania dari tahun 2011 hingga 2016, sebuah armada yang membutuhkan feeling dan perhitungan matang saat bermanuver karena "buntut" bus yang mengikuti pergerakan kepala
4. Endang dikenal banyak penumpang

Di balik ketegasannya menyetir, naluri keibuan Endang tetap lekat. Ia dikenal akrab dengan penumpangnya, terutama di rute-rute yang ia layani seperti 1E (Blok M - Pondok Labu) atau D21 (Lebak Bulus - UI).
Ia hafal wajah-wajah pelanggannya, mulai dari anak-anak sekolah hingga penyandang disabilitas.
Khusus untuk penumpang tunanetra, Endang punya perlakuan istimewa. Mengingat bus listrik nyaris tanpa suara, ia punya kode khusus.
"Mereka biasanya berkelompok dan saling pegangan. Saya selalu bunyikan klakson pelan, 'tet-tet', sebagai sinyal suara. Saya rapatkan bus benar-benar dekat trotoar agar mereka mudah naik. Kalau suara voice announcer bus tertutup keramaian, saya bantu dengan suara saya sendiri," tutur ibu tunggal yang telah membesarkan anak-anaknya seorang diri sejak 2002 ini.
5. Tangkap pencuri Apar di bus dengan tangan sendiri

Pengalaman 19 tahun tak hanya berisi cerita manis. Endang pernah menjadi "detektif dadakan" saat terjadi pencurian Alat Pemadam Api Ringan (APAR) di armadanya sekitar 5-6 tahun lalu.
Saat manajemen kebingungan karena hilangnya 12 unit APAR, Endang berinisiatif memanjat dan memperbaiki posisi CCTV bus, melakukan investigasi.
"Digrup itu ramai APAR banyak yang dicuri. Saya penasaran dong. Itu pagi-pagi, saya benarkan semua posisi CCTV saya, saya panjat, saya arahkan ke APAR semua. Dan itu ya alhamdulillah, ketangkap sama saya sendiri. Selama seminggu enggak bisa ada yang menangkap, itu saya yang menangkap sendiri. Dan itu barang bukti ada di dalam tas," katanya.
Ia mengaku langsung menangkap terduga pelaku di lokasi. Meski harus “bablas” beberapa shelter di Koridor 6, ia menyebut langkah itu dilakukan demi mengamankan barang bukti dan menghindari kecurigaan terhadap sesama pramudi jika terjadi kehilangan.
“Saya memang agak melanggar, tapi di situ saya minta pengertian dari Bapak Korwil untuk Koridor 6. Mohon maaf, ini saya bablas beberapa shelter agar bisa jadi bukti. Soalnya imbasnya ke kami pramudi-pramudi juga kalau sampai kehilangan terus, nanti ada kecurigaannya,” ujarnya.
Ia menambahkan, barang yang diduga dicuri tersebut ternyata dijual ke pengepul dengan harga sekitar Rp60 ribu
6. Tidak sedikit yang masih memandang sebelah mata

Meski puluhan tahun memegang kendali kemudi, Endang mengakui masih adanya keraguan dan perlakuan berbeda yang diterima pramudi perempuan di lapangan.
Ia menyebut sebagian masyarakat masih memandang sebelah mata dan menganggap perempuan kurang mampu mengemudikan bus dengan baik.Namun, menurutnya, anggapan tersebut justru menjadi motivasi untuk membuktikan profesionalisme.
"Kalau untuk keraguan dan perlakuan perbedaan masih ada. Sebagai masyarakat yang memandang sebelah mata ya, menganggap perempuan kurang mampu menjalankan bus dengan baik. Tapi justru dengan mengemudikan armada listrik yang canggih kami bisa menunjukkan keprofesionalisme kami. Mengemudi tetap dalam keadaan tenang walaupun dalam keadaan macet," ucapnya.
7. Ingatkan kendaraan pribadi yang menyerobot jalur busway

Endang juga menyoroti masih maraknya kendaraan pribadi, baik sepeda motor maupun mobil, yang nekat menerobos jalur khusus Transjakarta (Busway). Pramudi senior ini mengungkapkan bahwa kehadiran kendaraan pribadi di jalur Transjakarta sangat mengganggu operasional bus.
"Wah, sangat mengganggu ya. Kalau bisa sih jangan. Sebab saya sendiri, pengemudi Busway, tidak berani masuk ke jalur Busway (pakai kendaraan pribadi). Karena saya tahu seperti apa risikonya," ujar Endang.
Endang menjelaskan bahwa risiko terbesar bagi penerobos jalur bukan hanya sekadar terkena tilang polisi di ujung jalur, melainkan risiko kecelakaan fatal akibat titik buta (blind spot) bus yang besar.
"Bahaya kalau sampai maksa masuk ke pinggir-pinggiran Busway, itu bisa kejepit. Kalau tidak dilihat sama pengemudi, ya namanya kami juga manusia, kadang-kadang kan lengah. Kita lihat ke kanan aman, taunya mereka masuk dari kiri. Kita sudah start jalan, ternyata mereka sudah kena ban belakang atau keseret," jelasnya memperingatkan.
8. Rahasia agar selalu bugar

Kini, di usianya yang menjelang 50 tahun, stamina Endang masih prima. Rahasianya sederhana: disiplin tinggi.
Ia bangun jam 3 pagi, menghindari gorengan, dan rutin mengonsumsi buah-buahan. Baginya, pekerjaan ini bukan sekadar mengejar setoran kilometer, melainkan sebuah pengabdian.
"Santai saja, jangan emosi di jalan. Rezeki tidak akan ke mana. Yang penting penumpang selamat, apalagi banyak penumpang saya lansia dan pengguna kursi roda. Saya tungguin sampai mereka duduk nyaman, baru saya jalan," katanya

















