Perjalanan Haji Tanah Air Sebelum Abad ke-19, Lebih dari 5 Bulan

- Pada masa kolonial, perjalanan haji dari Nusantara ke Tanah Suci memakan waktu lebih dari lima bulan menggunakan kapal dagang yang bergantung pada angin dan kondisi laut.
- Para jemaah harus singgah di berbagai pelabuhan seperti Batavia, Aceh, hingga India sebelum tiba di Jeddah, sering kali bekerja sementara untuk menambah bekal selama perjalanan panjang.
- Selain menghadapi cuaca ekstrem dan wabah penyakit, jemaah juga mengalami perlakuan buruk dari awak kapal serta wajib menjalani karantina di pulau khusus saat kembali ke Tanah Air.
Jakarta, IDN Times - Menuju tahap akhir proses ibadah haji, saat ini sedang berlangsung kepulangan gelombang kedua jemaah haji Indonesia dari Arab Saudi menuju Tanah Air.
Berdasarkan laman Kementerian Haji dan Umrah, per 7 Juni 2026 sebanyak 95 kloter dengan total 37.459 jemaah dan petugas telah diberangkatkan dari Arab Saudi menuju Indonesia.
Dengan segala fasilitas dan kemudahan yang tersedia saat ini, perjalanan haji pada masa kini tentu sangat berbeda dibandingkan masa lampau.
Pada era kolonial Belanda, perjalanan haji membutuhkan kegigihan dan perjuangan besar agar bisa menapakkan kaki di Tanah Suci.
Perjuangan panjang tersebut menjadi bagian dari sejarah perjalanan haji Indonesia hingga akhirnya jemaah kini dapat menikmati fasilitas yang jauh lebih nyaman.
Table of Content
1. Jemaah haji harus menumpang kapal dagang menuju Tanah Suci selama berbulan-bulan

Menyadur jurnal Perjalanan Haji Indonesia di Masa Kolonial (2017), para calon jemaah haji pada masa kolonial harus menempuh perjalanan menggunakan kapal dagang karena teknologi uap dan motor belum dikenal luas.
Para jemaah menumpang kapal pedagang yang berlayar melintasi Samudra Hindia dari Singapura, Aceh, maupun India. Perjalanan dari Jakarta, Singapura, Aceh, atau Padang menuju Makkah menempuh jarak sekitar 8.000 kilometer.
Perjalanan tersebut memakan waktu setidaknya lima bulan dari pelabuhan besar di Nusantara menuju pelabuhan Aden, Yaman dengan hanya mengandalkan tiupan angin untuk mencapai ke Tanah Suci.
Jika pada masa kini para calon jemaah haji sudah menggunakan pesawat dengan fasilitas yang nyaman, berbeda halnya dengan penumpang kapal pada masa kolonial yang harus berdesak-desakan di dek dan lorong kapal bersama barang bawaan mereka.
Bahkan, para jemaah kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari di atas kapal. Untuk melaksanakan salat saja sering kali tidak memungkinkan. Sementara urusan buang air besar dan kecil harus dilakukan di tempat duduk mereka dengan berbagai keterbatasan lainnya.
Meski demikian, segala rintangan yang harus dihadapi tak menghalangi niat mereka untuk melakukan ibadah haji. Terlebih lagi, perjalanan haji juga dimanfaatkan sebagai bagian dari misi diplomatik pada masa itu.
2. Rute perjalanan haji harus melalui berbagai pelabuhan di Nusantara

Selain hanya mengandalkan tiupan angin, perjalanan haji juga dilakukan menggunakan perahu layar yang sangat bergantung pada musim.
Berdasarkan buku Sejarah Ibadah Haji Indonesia dari Masa ke Masa (2023), para jemaah harus berbagai pelabuhan di Nusantara sebelum menuju Tanah Suci.
Misalnya, jemaah dari Tanah Jawa harus menuju pelabuhan di Batavia terlebih dahulu, sebelum melanjutkan perjalanan ke Aceh sebagai pelabuhan terakhir di Nusantara.
Setelah itu, para jemaah harus menunggu kapal laut menuju India agar dapat melanjutkan perjalanan ke Hadramaut, Yaman atau langsung menuju Jeddah.
Perjalanan melalui jalur laut tersebut bisa memakan waktu selama enam bulan atau lebih karena para jemaah kerap harus bertukar kapal atau mencari bekal tambahan dengan bekerja di negeri yang disinggahi.
3. Jemaah haji menghadapi berbagai marabahaya selama perjalanan

Selain perjalanan yang panjang, para calon jemaah haji pada masa kolonial juga harus menghadapi berbagai marabahaya selama perjalanan. Mulai dari ancaman cuaca buruk, badai laut, wabah penyakit, hingga perlakuan buruk awak kapal.
Pada masa 1602–1800, sektor perdagangan dan pelayaran dimonopoli oleh VOC. Perjalanan ibadah haji pun menjadi salah satu ladang bisnis yang dianggap menguntungkan, karena belum ada maskapai pelayaran khusus untuk mengangkut jemaah menuju Jeddah.
VOC kemudian memonopoli bisnis pelayaran tersebut dengan mematok biaya mahal, tetapi tidak diimbangi pelayanan yang layak dan manusiawi. Para penumpang ditempatkan di sela-sela muatan barang tanpa perlindungan memadai dari panas, hujan, maupun ombak laut.
Ketika ombak besar menerjang pada malam hari, air laut dapat masuk dan membasahi tubuh para penumpang, bahkan barang bawaan mereka berisiko hanyut ke laut sehingga hanya menyisakan pakaian yang dikenakan.
Tak hanya itu, wabah penyakit seperti kolera, pes, hingga penyakit menular lainnya juga menjadi ancaman serius bagi para jemaah selama perjalan laut yang berlangsung berbulan-bulan.
Terlebih, jika ada penumpang yang wafat dalam perjalanan yang hanya akan dimakamkan di pelabuhan terdekat.
4. Jemaah haji harus menjalani karantina di pulau khusus

Perjuangan jemaah haji pada masa kolonial juga berlanjut setibanya mereka di Tanah Air.
Pemerintah kolonial Belanda membangun lokasi karantina di Pulau Onrust dan Pulau Cipir, Jakarta untuk jemaah asal Jawa. Sementara Pulau Rubiah digunakan sebagai lokasi karantina bagi jemaah asal Sumatra.
Para calon jemaah haji yang hendak berangkat maupun baru kembali dari Tanah Suci, wajib menjalani pemeriksaan kesehatan untuk mencegah penyebaran berbagai wabah penyakit menular.
Jika terdeteksi terinfeksi penyakit seperti kolera, pes, atau demam tinggi, para jemaah akan dipisahkan untuk menjalani perawatan khusus di lokasi karantina.
Namun, realitanya banyak jemaah yang kesulitan membayar biaya perawatan setelah dinyatakan sembuh. Akibatnya, sebagian dari mereka harus bekerja sebagai tenaga paksa untuk melunasi biaya pengobatan tersebut.
5. Perjalanan haji berubah drastis dari kapal layar hingga pesawat modern

Perjalanan haji yang dahulu memakan waktu berbulan-bulan kini berubah jauh lebih cepat berkat perkembangan teknologi transportasi.
Jika dahulu jemaah harus bergantung pada kapal layar dan cuaca laut, kini perjalanan menuju Arab Saudi dapat ditempuh menggunakan pesawat hanya dalam hitungan jam.
Selain itu, fasilitas bagi jemaah juga semakin berkembang, mulai dari layanan kesehatan, akomodasi, konsumsi, hingga sistem keberangkatan yang lebih terorganisir.
Meski perjalanan haji kini jauh lebih mudah dibandingkan masa lampau, semangat dan perjuangan umat Islam untuk memenuhi panggilan ke Tanah Suci tetap tidak berubah dari masa ke masa.

















