Pertamina Jaga AI Tetap Aman dan Dorong Anak Muda Transformasi Bisnis

Pertamina menjadikan AI bagian penting dari operasional harian dan membangun kerangka tata kelola yang sesuai regulasi untuk menjaga keamanan serta kepatuhan penggunaan teknologi.
Perusahaan menerapkan on-premise cloud buatan sendiri agar data tetap aman, memberi fleksibilitas seperti sistem cloud publik namun dengan kendali penuh atas infrastruktur internal.
Sigit Pratopo mengajak generasi muda memanfaatkan AI untuk menciptakan nilai dan transformasi bisnis, menegaskan bahwa adaptasi cepat jadi kunci menghadapi perubahan industri.
Jakarta, IDN Times – Artificial Intelligence (AI) bukan lagi sekadar eksperimen di PT Pertamina (Persero), namun sudah jadi bagian dari operasional perusahaan beroperasi sehari-hari. Tetapi seiring luasnya penggunaan AI di berbagai lini bisnis, ada satu pertanyaan yang muncul. Bagaimana memastikan teknologi ini berjalan dalam koridor yang aman dan patuh?
Senior Vice President of Pertamina Digital Hub, Sigit Pratopo, menjawab pertanyaan itu langsung di Indonesia Summit 2026 (18/6). Ia memaparkan bagaimana Pertamina membangun kerangka AI compliance yang solid, sekaligus mengajak generasi muda untuk tidak hanya jadi penonton dalam gelombang inovasi ini.
1. Pastikan tata kelola AI sesuai regulasi

Dari segi compliance-nya, Sigit memastikan Pertamina memiliki tata kelola AI yang kuat. Ia mengungkapkan, Perseroan saat ini telah memiliki infrastruktur yang mumpuni untuk menerapkan AI di operasional bisnisnya. Kedaulatan data-data konsumen dari Pertamina dijaga dengan ketat mengikuti ketentuan yang berlaku.
“AI governance ini kita kembangkan dengan merujuk kepada regulasi dan ketentuan-ketentuan Pemerintah,” ujarnya.
2. Penerapan on-premise cloud Pertamina

Untuk memastikan data perusahaan tetap aman dan tidak bocor, Pertamina juga menerapkan langkah khusus dalam infrastruktur teknologinya. Pertamina mengimplementasikan on-premise cloud yang dikembangkan secara mandiri.
Model infrastruktur teknologi ini menggabungkan fleksibilitas sistem cloud dengan kendali penuh atas perangkat keras milik sendiri. Berbeda dengan layanan cloud publik seperti AWS atau Google Cloud yang menyimpan data di server milik vendor, on-premise cloud menempatkan seluruh infrastruktur secara fisik di dalam fasilitas perusahaan itu sendiri. Dengan begitu, keamanan data dan kepatuhan regulasi tinggi bisa diterapkan.
3. Ajak generasi muda memanfaatkan AI

Sebagai penutup, Sigit berpesan kepada generasi muda supaya tidak ragu dalam memanfaatkan AI untuk menciptakan perubahan. Baginya, potensi terbesar teknologi ini justru ada di tangan para entrepreneur muda yang belum terbebani kebiasaan lama.
"Indikator keberhasilan AI itu hanya ada dua. Pertama adalah value creation-nya, yang kedua adalah transformasi bisnisnya," tegasnya.
Sigit menekankan bahwa generasi muda memiliki keunggulan yang tidak dimiliki semua orang, yaitu kemampuan untuk berubah dan mendorong perubahan. Di era di mana AI semakin menjadi tulang punggung bisnis, mereka yang berani beradaptasi lebih awal adalah yang akan menentukan arah industri ke depan. (WEB)















