Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Takut Dikira Drone, Otoritas Krimea Rusia Larang Penggunaan Motor

Takut Dikira Drone, Otoritas Krimea Rusia Larang Penggunaan Motor
Orang-orang sedang mengendarai sepeda motor. (pexels.com/Thang Cao)
Intinya Sih
  • Otoritas Krimea melarang penggunaan motor, skuter, dan sepeda roda empat pada malam hari karena suaranya mirip drone yang bisa mengganggu pasukan Rusia.
  • Larangan bersifat sementara dan tidak berlaku untuk mobil, diterapkan mulai 17 Juni 2026 pukul 18.00–20.00 waktu setempat tanpa batas waktu berakhir yang jelas.
  • Langkah ini muncul di tengah meningkatnya serangan drone Ukraina ke Krimea dan Moskow, sementara upaya perdamaian dari Presiden Zelenskyy ditolak oleh Putin.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Otoritas Krimea, Semenanjung Ukraina yang sudah dikuasai Rusia sejak 2014, melarang penggunaan kendaraan bermotor pada malam hari. Kendaraan bermotor yang dimaksud terdiri dari skuter, sepeda roda empat, dan sepeda motor.

Menurut keterangan Gubernur Krimea, Sergei Aksyonov, Selasa (16/6/2026), kebijakan ini diterapkan untuk menjaga kinerja pasukan Rusia yang berjaga di wilayahnya. Sebab, suara motor mirip seperti suara serangan drone. Hal ini sering membuat pasukan Rusia terkecoh saat menjalankan tugasnya.

1. Larangan hanya berlaku sementara

Drone Ukraina.
potret drone Ukraina (commons.wikimedia.org/Maxim Subotin)

Aksyonov menambahkan, larangan penggunaan kendaraan bermotor di Krimea mulai berlaku pada Rabu (17/6/2026) dari pukul 18.00 sampai 20.00 malam waktu setempat. Larangan ini hanya akan berlaku sementara alias tidak permanen. Namun, Aksyonov tidak menjelaskan kapan larangan ini akan berakhir. Ia juga menambahkan bahwa larangan ini tidak berlaku untuk mobil.

"Suara bising sepeda motor menghambat kerja sistem pertahanan. Mesinnya terdengar mirip (dengan drone). Musuh merekrut anak-anak anda untuk berkendara di malam hari," kata Oleg Kryuchkov, Penasihat Aksyonov, dalam pernyataan terpisah dilansir Jerusalem Post

2. Ukraina sedang gencar menyerang Krimea

Semenanjung Krimea.
potret peta Semenanjung Krimea, Rusia (commons.wikimedia.org/Crimea republic)

Larangan ini sebetulnya tidak lepas dari serangan Ukraina. Sebab, dalam beberapa hari terakhir, pasukan Ukraina sedang gencar melakukan serangan drone ke Krimea. Serangan itu sering ditargetkan ke markas armada laut Rusia.  

Pada 11 Juni lalu, Ukraina juga menyerang Krimea. Kala itu, serangan ditujukan ke museum bersejarah milik Rusia yang ada di Sevastopol, salah satu kota yang ada di Krimea. Museum itu berisi dokumentasi Perang Krimea antara Kerajaan Rusia dan Kerajaan Ottoman dari Turki yang meletus pada 1853 sampai 1856. Dalam perang tersebut, Kerajaan Rusia dan Kerajaan Ottoman memperebutkan Krimea. Namun, Kerajaan Rusia kalah dalam perang tersebut.  

3. Ukraina juga menyerang Moskow

Suasana Kota Moskow.
potret Kota Moskow, Rusia (pexels.com/rescriptt rescriptt)

Selain menyerang Krimea, Ukraina juga kerap melakukan serangan drone ke Ibu Kota Moskow. Menurut pejabat militer Rusia, Sergei Sobyanin, ada sepuluh drone Ukraina yang menyasar Moskow pada Selasa malam waktu setempat. Beruntungnya, semua drone itu berhasil dilumpuhkan oleh sistem pertahanan udara Rusia. 

Hingga saat ini, perang antara Rusia dan Ukraina masih belum menunjukkan tanda-tanda usai. Sebab, Rusia dan Ukraina masih saling serang. Padahal, sejak Februari, perang kedua negara sudah genap berlangsung empat tahun.   

Untuk mengakhiri perang, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, telah mengirim surat ke Presiden Rusia, Vladimir Putin, pada 4 Juni lalu. Dalam surat itu, ia mengajak Putin bertemu langsung untuk membahas perdamaian. Sayangnya, ajakan itu ditolak mentah-mentah oleh Putin. Bahkan, Putin menyebut tindakan Zelenskyy yang mengirim surat secara langsung kepadanya tidak sopan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella

Related Articles

See More