Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

PDIP Dituding Jadi Beking Tiyo Ardianto, Guntur: Cocoklogi Dipaksakan

PDIP Dituding Jadi Beking Tiyo Ardianto, Guntur: Cocoklogi Dipaksakan
Politikus PDI Perjuangan, Guntur Romli, saat ditemui di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin (26/5/2025) (IDN Times/Aryodamar)
Intinya Sih
  • Guntur Romli membantah tudingan bahwa PDI Perjuangan berada di balik aksi mahasiswa yang menolak Program Makan Bergizi Gratis, menyebutnya sebagai fitnah tanpa dasar dan bentuk cocoklogi.
  • Ia menjelaskan tuduhan muncul dari upaya mengaitkan kepemilikan mobil warga sipil dengan hubungan keluarga sejumlah tokoh, lalu disimpulkan secara keliru sebagai keterlibatan PDIP dalam aksi mahasiswa.
  • Guntur menilai pelabelan aksi mahasiswa sebagai gerakan yang ditunggangi partai politik merendahkan independensi mereka, serta meminta negara melindungi warga yang bersuara kritis seperti Tiyo Ardianto.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times – Politikus PDI Perjuangan, Guntur Romli, membantah tudingan yang mengaitkan partainya dengan aksi-aksi mahasiswa yang menolak Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurut dia, tuduhan tersebut dibangun dari rangkaian asumsi yang tidak memiliki dasar kuat dan hanya mengandalkan pola pikir cocoklogi.

Guntur menilai pernyataan yang disampaikan kelompok yang menamakan diri "BEM Bersatu" telah menggiring opini publik melalui narasi yang tidak didukung fakta. Ia menyebut upaya menghubungkan sejumlah individu dengan PDI Perjuangan sebagai bentuk penalaran yang dipaksakan.

“Menanggapi siaran pers yang dikeluarkan oleh pihak yang menamakan diri "BEM Bersatu", kami memandang perlu untuk meluruskan distorsi informasi dan penyesatan opini yang secara sengaja dibangun melalui metode "cocokologi" yang sangat dipaksakan,” ujar Guntur, dikutip Jumat (19/6/2026).

1. PDIP bantah berada di belakang para pengkritik MBG

Politikus PDI Perjuangan Guntur Romli (IDN Times/Aryodamar)
Politikus PDI Perjuangan Guntur Romli (IDN Times/Aryodamar)

Ia juga menolak tuduhan yang menyebut PDI Perjuangan berada di belakang gerakan mahasiswa yang mengkritik program MBG. Menurutnya, tudingan tersebut tidak berdasar dan justru merendahkan independensi mahasiswa dalam menyampaikan aspirasi.

“Tuduhan yang mengaitkan aksi-aksi mahasiswa menolak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan PDI Perjuangan adalah fitnah yang tidak berdasar, absurd, dan mencederai integritas gerakan moral mahasiswa,” ucap dia.

Ia menegaskan PDI Perjuangan tidak memiliki keterlibatan dalam aksi mahasiswa terkait MBG, baik dalam bentuk pendanaan maupun fasilitasi kegiatan. Partai juga tidak pernah memberikan instruksi kepada kader atau pengurus untuk terlibat dalam teknis pergerakan mahasiswa.

“Kami menegaskan PDI Perjuangan sama sekali tidak terlibat, tidak mendanai, dan tidak memfasilitasi aksi-aksi mahasiswa dalam menyuarakan aspirasinya terkait program MBG. PDI Perjuangan juga tidak pernah menugaskan pengurus maupun kadernya untuk melibatkan diri dalam teknis gerakan mahasiswa tersebut,” katanya.

2. Bagaimana soal mobil Tiyo?

Politisi PDI Perjuangan, Mohammad Guntur Romli. (IDN Times/Santi Dewi)
Politisi PDI Perjuangan, Mohammad Guntur Romli. (IDN Times/Santi Dewi)

Guntur menjelaskan, tuduhan tersebut muncul dari upaya menghubungkan kepemilikan kendaraan milik seorang warga sipil dengan hubungan keluarga sejumlah tokoh, lalu dikaitkan dengan partai politik. Ia menegaskan Siti Nuraeni maupun Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso bukan kader ataupun pengurus PDI Perjuangan.

“Faktanya: Siti Nuraeni dan Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso bukanlah kader maupun pengurus PDI Perjuangan,” kata dia.

Menurut dia, menghubungkan kepemilikan mobil dengan relasi keluarga hingga kemudian menarik kesimpulan keterlibatan partai politik merupakan kesalahan logika yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

“Menghubungkan kepemilikan sebuah kendaraan (mobil Fortuner) milik seorang warga sipil (Siti Nuraeni), lalu ditarik ke hubungan persaudaraan (Setyo Sularso), kemudian ditarik lagi ke hubungan besan (Andika Perkasa), untuk kemudian melompat pada kesimpulan bahwa PDI Perjuangan berada di balik aksi mahasiswa, adalah sesat pikir (fallacy) yang nyata. Dalam realitas sosial dan politik, pilihan politik antara adik, kakak, maupun besan belum tentu sama dan tidak bisa digeneralisir secara serampangan,” ucap Guntur.

3. PDIP anggap ada tuduhan murahan

Juru bicara PDI Perjuangan, Guntur Romli (dok. Pribadi)
Juru bicara PDI Perjuangan, Guntur Romli (dok. Pribadi)

Guntur menilai, pelabelan terhadap aksi mahasiswa sebagai gerakan yang ditunggangi partai politik merupakan bentuk pengabaian terhadap daya kritis mahasiswa. Menurutnya, mahasiswa memiliki hak untuk menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah tanpa harus dicurigai sebagai alat kepentingan politik tertentu.

“Tuduhan murahan dari "BEM Bersatu" yang dengan mudahnya menyebut aksi mahasiswa "ditunggangi" atau "disusupi" oleh partai politik adalah bentuk penghinaan terhadap nalar kritis dan independensi mahasiswa,” ujar dia.

“Mahasiswa bergerak karena panggilan nurani dan analisis kritis mereka terhadap kebijakan negara yang dirasa menyentuh hajat hidup rakyat,” sambungnya.

Selain itu, Guntur mengingatkan pentingnya perlindungan negara terhadap setiap warga negara yang menyampaikan pendapat secara kritis. Ia menyinggung dugaan intimidasi yang dialami Tiyo Ardianto dan meminta perlakuan yang setara bagi seluruh masyarakat.

“Kami juga meminta Negara memberikan perlindungan bagi semua warga negara secara setara termasuk yang bersuara kritis, khususnya Saudara Tiyo Ardianto yang diduga mengalami intimidasi dan tokoh-tokoh lain. Perlidungan Negara bersifat wajib dan tidak boleh diskriminatif,” imbuhnya.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar

Related Articles

See More