Prabowo Diskusi dengan PM Australia Bahas Dampak Konflik Timur Tengah

- Presiden Prabowo dan PM Australia Anthony Albanese berdiskusi membahas dampak konflik Timur Tengah terhadap kawasan serta pentingnya menjaga stabilitas regional.
- Keduanya sepakat memperkuat kerja sama rantai pasok bahan pokok dan energi, termasuk dukungan ekspor pupuk dari Indonesia ke Australia.
- Indonesia mengekspor 250 ribu ton pupuk urea tahap awal ke Australia dan menargetkan total ekspor sekitar 1 juta ton ke beberapa negara lain tanpa mengganggu pasokan domestik.
Jakarta, IDN Times - Presiden RI, Prabowo Subianto berdiskusi dengan Perdana Menteri (PM) Australia, Anthony Albanese membahas soal dampak konflik Timur Tengah terhadap kawasan.
Hal tersebut disampaikan Albanese melalui akun media sosial resmi X (Twitter) miliknya, @albomp, Rabu (22/4/2026).
"Saya berbicara dengan Presiden @prabowo dari Indonesia. Kami membahas konflik di Timur Tengah dan dampaknya di wilayah kita," kata dia dalam keterangan tersebut.
1. Australia dan RI kerja sama bahan pokok dan rantai pasok energi

Albanese menyebut, Indonesia dan Australia berkomitmen untuk bekerja sama menjaga kelancaran pasokan bahan pokok dan pasokan energi.
"Australia dan Indonesia bekerja sama untuk mendukung aliran barang-barang pokok, serta membuat rantai pasok energi kita lebih tangguh untuk masa depan," ucapnya.
2. Ucapkan terima kasih kepada Prabowo

Lebih lanjut, Albanese mengucapkan terima kasih kepada Prabowo atas kesepakatan kerja sama ekspor pupuk dari Indonesia ke Australia.
"Saya mengucapkan terima kasih kepada Presiden Prabowo atas bantuannya dalam mengamankan lebih banyak pupuk untuk Australia. Hubungan yang kuat di wilayah kita lebih penting dari sebelumnya, dan dua negara kita adalah sahabat terdekat," tuturnya.
3. PM Australia telepon Prabowo, bahas ekspor 250 ribu ton pupuk urea

Sebagaimana diketahui, Prabowo menerima sambungan telepon dari PM Australia Anthony Albanese pada Selasa (21/4/2026) sore. Dalam komunikasi tersebut, Albanese menyampaikan apresiasi atas langkah Indonesia memulai ekspor pupuk urea ke Australia sebesar 250 ribu ton pada tahap awal.
“PM Albanese menyampaikan apresiasi atas persetujuan Bapak Presiden terkait ekspor pupuk urea Indonesia ke Australia sebesar 250.000 ton pada tahap pertama,” demikian disampaikan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dalam keterangan tertulisnya.
Selain Australia, Indonesia juga tengah memperluas jangkauan pasar ekspor pupuk dengan menjajaki pengiriman ke sejumlah negara lain sebagai bagian dari penguatan peran Indonesia dalam rantai pasok global. Total komitmen ekspor tersebut mencapai sekitar 1 juta ton.
“Ke depan, sebagian pupuk urea juga akan diekspor ke India, Filipina, Thailand, dan Brasil, dengan total komitmen ekspor mencapai kurang lebih 1 juta ton,” ungkap Teddy.
Di sisi lain, pemerintah menegaskan, kebijakan ekspor dilakukan secara terukur dengan tetap menjaga keseimbangan pasokan dalam negeri, seiring kapasitas produksi nasional yang memadai. Saat ini, jumlah produksi urea nasional berada di atas kebutuhan dalam negeri.
“Sesuai data Menteri Pertanian, total produksi urea nasional sebesar 7,8 juta ton dan kebutuhan dalam negeri sekitar 6,3 juta ton,” ucap Teddy.
Dengan pendekatan tersebut, ekspor tidak hanya memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional, tetapi juga tetap menjamin ketersediaan pupuk bagi kebutuhan petani di dalam negeri.
“Langkah ini diharapkan tetap menjaga ketahanan pasokan domestik sekaligus memperkuat kontribusi Indonesia di pasar global,” imbuh Teddy.


















