Pramono Akui Polusi Jakarta Buruk, Tuding PLTU Banten Penyebabnya

- Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengakui kualitas udara Jakarta masih termasuk yang terburuk di dunia.
- Pramono menyebut polusi bukan hanya dari transportasi, tetapi juga emisi industri sekitar Jakarta, termasuk PLTU Suralaya di Cilegon, Banten.
- Ia meminta koordinasi Pemprov DKI dan pemerintah pusat karena kebijakan transportasi Jakarta belum cukup jika industri sekitar masih memakai pembangkit batu bara.
Jakarta, IDN Times – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung mengakui kualitas udara Jakarta masih menjadi salah satu yang terburuk di dunia.
“Teman-teman ketahui (Polusi Udara), tetapi memang terburuk di dunia, dan saya harus mengakui itu," ucap Pramono di Jakarta Selatan, Kamis (20/8/2026).
1. Polusi udara juga disebabkan industri sekitar Jakarta

Polusi Udara di Jakarta memburuk. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay) Ia menilai persoalan polusi udara tidak hanya disebabkan oleh sektor transportasi, tetapi juga emisi dari kawasan industri di sekitar Jakarta salah satunya PLTU di kawasan Suralaya, Cilegon, Banten
"Tetapi memang problemnya bukan hanya semata-mata transportasi di Jakarta. Ada persoalan-persoalan lain, misalnya pembakaran industri-industri di selingkaran Jakarta, salah satunya yang terkenal adalah Suralaya, yang menggunakan bahan bakar yang masih tidak ramah lingkungan," ujar Pramono.
2. Harus ada koordinasi dengan daerah

Polusi Udara di Jakarta memburuk. (ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin) Menurutnya, persoalan emisi dari wilayah sekitar Jakarta perlu ditangani melalui koordinasi antara Pemprov DKI Jakarta dan pemerintah pusat.
“Sehingga dengan demikian, saya sebagai Gubernur Jakarta berharap bahwa ada juga koordinasi dengan pemerintah pusat agar yang memberikan kontribusi menyebabkan emisi yang masih tinggi itu bisa diatur bersama-sama,” katanya.
3. Sumber emosi masih ada

Polusi Udara di Jakarta memburuk. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay) Pramono menilai berbagai kebijakan yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta untuk menekan emisi kendaraan seperti meminta warga beralih ke transportasi publik belum menyelesaikan persoalan polusi apabila sumber emisi dari daerah masih ada.
“Apa pun yang dilakukan pemerintah di dalam Jakarta dengan membuat mobil listrik, transportasinya diperbaiki, orang yang dulu naik transportasi pribadi ke transportasi umum, menurut saya belum sepenuhnya akan menyelesaikan kalau di sub-urban area atau daerah yang melingkupi Jakarta ini masih diizinkan untuk industrinya menggunakan pembangkit listrik tenaga batu bara,” jelasnya.



















