RSUD Bekasi Buka Suara soal Isu Potong Gaji Karyawan Gegara Utang Rp70 M

- Direktur Utama (Dirut) RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi, Ellya Niken Prastiwi, membantah telah memotong tunjangan atau remunerasi sejumlah karyawannya imbas utang Rp70 miliar.
- Keterlambatan pembayaran tunjangan pegawai disebut akibat proses klaim ke BPJS Kesehatan.
- Sejumlah karyawan terpaksa pinjam uang ke teman dan pinjol karena pembayaran tunjangan disebut tidak pasti.
Bekasi, IDN Times - Direktur Utama (Dirut) RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi, Ellya Niken Prastiwi, membantah telah memotong tunjangan atau remunerasi sejumlah karyawannya imbas utang Rp70 miliar.
Ellya memastikan manajemen tetap membayarkan hak pegawai setiap bulannya. Meski begitu, terdapat mekanisme dan proses administrasi yang harus dilalui.
“Tidak demikian. Jadi setiap bulan kami menurunkan semua hak-haknya. Setiap bulan pasti ada yang kami bayarkan untuk jasa-jasanya,” kata Ellya, Senin (19/1/2026).
1. Akui ada keterlambatan pembayaran

Ellya menjelaskan pembayaran tunjangan pegawai tidak pernah dihentikan. Namun, ia mengakui adanya keterlambatan lantaran harus menunggu pencairan dari BPJS Kesehatan.
“Kan kami klaim dulu ke BPJS, setelah itu ada jeda waktu untuk pembayaran. Jadi bukan ditunda, tapi memang ada mekanisme prosesnya,” kata dia.
Ellya juga memastikan seluruh karyawan RSUD Kota Bekasi mendapatkan haknya setiap bulan. Manajemen, kata dia, tetap berupaya menunaikan kewajiban sesuai kemampuan keuangan rumah sakit.
“Setiap bulan pasti ada yang kami bayarkan. Tidak ada yang tidak turun sama sekali,” jelas dia.
2. Sejumlah karyawan memilih pinjol imbas gaji dipotong

Sebelumnya, salah satu pekerja di RSUD Kota Bekasi yang tidak ingin disebut namanya menceritakan, pendapatan setiap bulan yang diterima terpaksa harus dipotong.
“Uang transport yang biasanya Rp1 juta, sekarang bisa dipotong Rp200 ribu sampai Rp300 ribu. Yang paling parah uang jaga malam, dari Rp62.500 jadi Rp25 ribu,” katanya kepada jurnalis, Kamis, 15 Januari 2026.
Dia juga menyebut sejak November 2025, sejumlah pekerja belum mendapatkan haknya. Bahkan, banyak yang akhirnya pinjam uang ke teman hingga saudara.
“RSUD masih ngutang ke kami. Pembayaran baru sampai November, sementara sekarang sudah Januari. Akhirnya banyak yang terpaksa pinjam ke sana-sini," kata dia.
Yang paling parah, terdapat beberapa pekerja yang terlilit pinjaman online atau pinjol, lantaran harus memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Untuk makan, beli beras saja, ada teman-teman yang sampai pinjam Rp300 ribu. Ada juga yang akhirnya ke pinjol karena sudah tidak punya pilihan,” katanya.
3. Pembayaran tunjangan yang tidak pasti

Dia mengatakan, rata-rata pendapatan pekerja di RSUD Kota Bekasi sekitar Rp5,1 juta per bulan. Rinciannya, gaji pokok Rp1,9 juta untuk tingkat pendidikan S1 dan selebihnya merupakan tunjangan.
“Pendapatan segitu, tapi keluarnya tidak jelas waktunya. Gaji pokok memang akhir bulan, tapi tunjangan lainnya tidak pasti,” katanya.
Meski begitu, seluruh pekerja tidak berani menyampaikan keluh kesahnya kepada pihak manajemen, karena khawatir berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK).
Dia berharap, RSUD Kota Bekasi dapat menyelesaikan utang tersebut, agar kesejahteraan pekerja terjamin dan pelayanan kepada pasien tetap dijaga.
“Kami tidak minta berlebihan. Hak kami dibayar penuh dan tepat waktu saja sudah sangat membantu,” harap dia.


















