Sabrang Buka Suara soal Kontroversi Jabatannya di DPN hingga Bahas Perang

- Sabrang sebut perang modern tak hanya senjata fisik
- Menurut Sabrang perang kognitif mengancam kesadaran publik
- Sabrang juga buka suara soal kontroversi dia diangkat sebagai Tenaga ahli Dewan Pertahanan Nasional (DPN)
Jakarta, IDN Times – Tenaga ahli Dewan Pertahanan Nasional (DPN), Sabrang Mowo Damar Panuluh alias Noe Letto menegaskan, ancaman terhadap negara di era modern tidak lagi sebatas perang fisik atau adu senjata. Menurutnya, perang hari ini telah berevolusi menjadi bentuk-bentuk yang lebih kompleks, termasuk perang ekonomi hingga perang kognitif yang menyasar cara berpikir masyarakat.
Putra budayawan dan cendikiawan muslim Emha Ainun Najib ini menilai, pertahanan negara tidak hanya dimaknai sebagai kekuatan militer, tetapi sebagai kemampuan menghadapi berbagai jenis ancaman yang bisa menghancurkan negara dari dalam.
Hal tersebut disampaikan Sabrang dalam video yang diunggah di kanal YouTube miliknya. Melalui konten itu, ia juga membahas soal polemik pengangkatan dirinya sebagai tenaga ahli di DPN.
1. Perang tak lagi sekadar senjata

Sabrang menyebut, perang kinetik seperti penggunaan roket, peluru, tank, dan persenjataan lainnya, hanyalah satu kluster dari ancaman pertahanan negara. Menurutnya, banyak negara justru runtuh tanpa pernah mengalami perang fisik. Ia menegaskan, perang kini bisa hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari perang ekonomi, perang fisik, hingga yang paling modern, yakni perang kognitif.
“Banyak negara yang hancur tanpa ada perang sama sekali, misalnya ekonominya runtuh. Sudah nggak percaya lagi negaranya, bisa hancur. Jadi perang itu bisa macem-macem, bisa perang ekonomi, bisa perang kinetik, perang fisik. Dan yang paling modern adalah yang namanya perang kognitif," ucap dia dalam konten tersebut, dikutip Kamis (22/1/2026).
2. Perang kognitif dan disintegrasi bangsa

Sabrang menjelaskan, perang kognitif adalah bentuk perang yang menyerang cara berpikir manusia. Target utamanya bukan wilayah, melainkan kesadaran dan kepercayaan publik. Ia mencontohkan kondisi masyarakat saat ini yang mudah terpecah belah dan sulit saling percaya.
Menurut Sabrang, hal tersebut menunjukkan betapa rentannya bangsa terhadap manipulasi informasi dan disinformasi, terutama melalui media sosial.
“Perang kognitif itu berhubungan dengan yang kamu pakai sehari-hari ini, memengaruhi otak, nih. Itu bisa menghancurkan negara. Contohnya kayak kita sekarang ini menurutmu baik-baik aja. Kita terpecah belah satu sama lain, susah banget kok percaya satu sama lain. Yeah, make sense, karena kita tidak punya parameter bagaimana kita bisa mempercayai satu sama lain,” kata dia.
3. Kompetensi dan sikap independen Sabrang

Terkait kompetensinya di bidang pertahanan, Sabrang mengakui dirinya bukan jenderal dan tidak memahami taktik militer secara teknis. Namun, ia menilai pengalamannya sebagai pembicara dan peneliti isu sosial menjadi bekal utama dalam membaca ancaman non-fisik terhadap negara.
“Jadi kompetensi saya di mana? Mungkin kalau anda ngetrek pendidikan, ngetrek video yang sudah saya lakukan, mungkin ngetrek dari saya dipercaya oleh orang untuk menjadi pembicara, itu lebih banyak dari panggung saya dari Letto. Pembicara dari pelosok desa sampai Moskow,” ujarnya.
Sabrang lantas melontarkan kelakar, agar publik bisa memerika ke akal imitasi (AI), apakah ia kompeten atau tidak di bidang pertahanan nasional modern.
"Apakah Sabrang qualified? Gitu aja karena Anda sudah percaya Grok kok. Tanya Grok udah percaya, tanya Gemini yang bisa riset, deep riset. Apakah saya kompeten di situ?" ucap dia.
Ia juga menegaskan independensinya meski bergabung ke DPN. Jabatan sebagai tenaga ahli DPN yang diambil sudah melewati berbagai proses dan pertimbangan panjang. Sikap kritisnya tidak akan berubah hanya, karena terlibat dalam struktur resmi pemerintahan. Sabrang juga membantah merapat ke pemerintahan karena semata-mata untuk mendapatkan pekerjaan.
"Kalau anda melihat saya setahun terakhir ngomong dan anda mengatakan saya cukup kritis pada timeframe salah satu tahun terakhir itu, ada fakta di belakang layar bahwa dalam satu tahun itu saya juga ngasih input ke DPN. Ngasih input bukan sebagai ingin dapat jabatan, tapi memang saya terus melakukan itu. Seperti saya pernah ngasih input ke beberapa kementerian, salah satunya ke DPN juga," tutur Sabrang.
"Jadi kalau melihat fakta itu, input yang saya berikan itu bersinggungan dengan ketika kamu mengatakan bahwa saya kritis. Kalau logikanya adalah kemudian saya cari pekerjaan, setahun ini saya gak akan kayak gitu. Cari jabatan, setahun ini saya gak akan kritis. Setahun ini saya akan mulai baik-baik kepada pemerintah agar mendapatkan jabatan agar kemudian terus jadi baik-baik itu," imbuh dia.

















