Siswa SD NTT Akhiri Hidup, Cak Imin: Kasusnya Sepele, Harusnya Tak Terjadi

- Bantuan harus diberikan segera
- Kasus sepele, tidak boleh terjadi lagi
- Kasus ini berkaitan dengan pola pengasuhan dan lingkungan sekolah
Jakarta, IDN Times - Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PMK), Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, meminta kepada semua jajarannya untuk bisa melihat situasi yang terjadi di masyarakat. Hal itu seiring munculnya kasus siswa SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengakhiri hidupnya karena tak bisa beli buku dan peralatan sekolah.
"Jadi saya sudah minta kepada seluruh jajaran, baik pemerintah pusat maupun daerah, dan juga kepada masyarakat, untuk betul-betul terbuka terhadap keadaannya," ujar Cak Imin di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (3/2/2026).
1. Bila ada yang butuh bantuan, segera diberi

Cak Imin menyampaikan, apabila ada yang membutuhkan bantuan, seperti siswa SD ingin kebutuhan sekolah, harus segera diberikan. Jangan sampai beban ekonomi membuat masyarakat semakin stres.
"Apabila memang membutuhkan bantuan alat tulis, bantuan apapun, itu harus segera ditangkap dan disampaikan. Jangan sampai beban-beban ekonomi tidak tersampaikan kepada para pejabat ataupun tokoh masyarakat," ucap dia.
2. Kasusnya sepele, harusnya tidak terjadi

Dalam kesempatan itu, Cak Imin mengatakan, kasus tersebut sepele, harusnya tidak terjadi.
"Karena kasusnya sepele yang kemudian sangat mengharukan itu, tidak boleh terjadi lagi. Jadi kepada masyarakat, kalau ada masalah soal ekonomi, soal utang, soal apa saja, soal alat tulis, pendidikan terutama, sampaikan kepada kita. Kita akan bertindak cepat," kata dia.
3. Ada surat yang dibuat korban
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai, kasus ini tidak bisa dilihat dari satu faktor semata, melainkan berkaitan dengan pola pengasuhan, lingkungan sekolah, hingga potensi perundungan.
"Di kasus ini memang kita turut prihatin karena kejadiannya anak seharusnya mendapatkan hak pendidikan. Begitu ya, itu kan fasilitas pendidikan. Tetapi anak tidak memperoleh itu sehingga sampai mengakhiri hidup," kata Komisioner KPAI Diyah Puspitarini, kepada IDN Times, Rabu (4/2/2026).
Diyah mengatakan, kasus mengakhiri hidup anak di Ngada ini juga tidak bisa dilihat dari satu sisi saja, tidak mampu untuk beli buku dan pena, tetapi juga dari sisi pengasuhan karena orang tuanya tidak ada di samping sang anak. Korban, YBR, diketahui berada di bawah pengasuhan sang nenek. Pada malam hari dia datang ke rumah sang ibu untuk meminta uang membeli pena dan buku.
Sebelum mengakhiri hidupnya, sang anak meninggalkan sepucuk surat untuk ibundanya. Berikut isi surat itu, sebagaimana telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia.
“Surat buat Mama **** Mama saya pergi dulu Mama relakan saya pergi Jangan menangis ya Mama Tidak perlu Mama menangis dan mencari, atau mencari saya Selamat tinggal Mama”.
Bunuh diri merupakan masalah kesehatan jiwa serius yang sering diabaikan masyarakat. Jika kamu membutuhkan pertolongan atau mengenal seseorang yang membutuhkan bantuan, kamu bisa menghubungi layanan konseling pencegahan bunuh diri, di nomor telepon gawat darurat (emergency) hotline (021) 500–454 atau 119, bebas pulsa.
NGO Indonesia pencegahan bunuh diri:
Jangan Bunuh diri || telp: (021) 9696 9293 || email: janganbunuhdiri@yahoo.com
Organisasi INTO THE LIGHT || message via page FB: Into The Light Indonesia (@IntoTheLightID) || direct message via Twitter: @IntoTheLightID
Kementrian Kesehatan Indonesia || telp: (021) 500454



















