Comscore Tracker

Keluarga Dituduh Radikal karena Cadar dan Serban, Ini Kata Wiranto 

Wiranto ungkap anaknya meninggal saat baca Alquran

Jakarta, IDN Times - Foto keluarga Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto langsung viral di dunia maya sesaat setelah pemakaman cucunya, Achmad Daniyal Al Fatih, Jumat (16/11) lalu. 

Penyebabnya, tak lain karena dalam foto itu tampak anak-anak dan cucu Wiranto yang perempuan mengenakan cadar dan berbusana serba hitam. Sedangkan yang pria mengenakan gamis dan serban putih.    

Banyak pihak mempertanyakan hal itu, dan tak sedikit yang menuding bahwa anak-anak Wiranto menganut Islam garis keras atau radikal.   

Menanggapi hal ini, Wiranto pun angkat suara. Dalam siaran pers yang dikutip dari Antara, Selasa (20/11), mantan Panglima ABRI/TNI itu menjelaskan, bukan kali ini saja ia dicerca dan dituding terkait cara berpakaian anak-anaknya. Berikut penjelasan Wiranto soal tersebut. 
 

Baca Juga: Cucu Wiranto Meninggal Usai Terpleset di Kolam Ikan

1. Cerita Wiranto anaknya dituduh kader terorisme, padahal mendalami Alquran di pondok pesantren bebas politik

Keluarga Dituduh Radikal karena Cadar dan Serban, Ini Kata Wiranto (Menkopolhukam Wiranto ketika di prosesi pemakaman cucunya) Istimewa

Wiranto mengungkapkan, tuduhan dan cemoohan anak-anaknya menganut aliran Islam radikal pernah menerpanya ketika anak bungsunya, Zainal Nurizky, meninggal dunia di Afrika Selatan, 2013 lalu.  

"Ada sebagian orang mengatakan bahwa anak Wiranto menganut Islam radikal, masuk Islam garis keras, kader terorisme dan seterusnya," ujar Wiranto.  

Padahal, kata pendiri Partai Hanura ini, anaknya sedang belajar mendalami Alquran di sebuah pondok pesantren internasional di wilayah Land Asia Afrika Selatan. Pondok pesantren itu, kata dia, bebas politik dan mengedepankan persaudaraan dan kedamaian, bukan sekolah teroris.   

Menurut Wiranto, almarhum Zainal mendalami Alquran atas keinginan sendiri untuk memantapkan akhlak dan moralnya, sebagai basis pengabdian ke depan sebagai generasi penerus.    

"Dengan kesadarannya sendiri dia minta izin untuk keluar dari Universitas Gadjah Mada yang sangat bergengsi itu, karena keprihatinan dan kesadarannya melihat perilaku sebagian generasi muda yang tidak lagi memiliki kepribadian yang terpuji," jelasnya.  
 

2. Meninggal di Afrika Selatan karena sakit saat membaca Alquran

Keluarga Dituduh Radikal karena Cadar dan Serban, Ini Kata Wiranto ANTARA FOTO/Fransiska Ninditya

Sayang sekali baru satu tahun belajar dari 7 tahun yang harus dijalaninya, Zainal meninggal dunia di tempatnya belajar. Wiranto menegaskan, anaknya meninggal karena sakit.  

"Meninggal di sana karena sakit, saat membaca ayat-ayat suci," ucap mantan ajudan Soeharto ini. 

Karena itu, saat ada orang yang mencibir dan memfitnah bahwa anaknya meninggal terkait aksi teroris, Wiranto mengaku hanya tertawa. "Karena memang tidak perlu saya layani," tegasnya. 
 

3. Wiranto kembali Dituduh keluarganya menganut Islam radikal saat pemakaman sang cucu

Keluarga Dituduh Radikal karena Cadar dan Serban, Ini Kata Wiranto (Menkopolhukam Wiranto memakamkan cucunya di Karanganyar) Istimewa

Wiranto kembali mendapat cibiran bahwa anak-anaknya menganut Islam radikal saat cucu termudanya meninggal dunia.  

"Sekarang ini pada saat cucu saya Ahmad Daniyal Al Fatih meninggal dunia, ibu, ayah dan kakak-kakaknya mengenakan busana muslim yang bercadar, bersorban, banyak masyarakat terkejut, media sosial ramai membincangkan tentang mereka," kata Wiranto. 

"Ada yang senang dan ada pula yang mencerca dengan prasangka dan cara mereka. Bahkan mencoba menghubung-hubungkan dengan tugas dan jabatan saya sebagai Menko Polhukam," dia melanjutkan.  

4. Prinsip hidup yang diajarkan Wiranto kepada keluarganya

Keluarga Dituduh Radikal karena Cadar dan Serban, Ini Kata Wiranto IDN Times/Teatrika Handiko Putri

Terkait prasangka yang ditujukan kepada keluarganya, Wiranto menjelaskan, prinsip-prinsip kehidupan yang dijalani keluarganya. 

Sebagai orang yang telah mengabdi setengah abad (50 tahun) kepada bangsa dan negara, 32 tahun dalam penugasan sebagai militer aktif dan 18 tahun dalam politik dan pemerintahan, Wiranto menegaskan, banyak yang telah dilakukan untuk menjaga keutuhan, kedaulatan, dan kehormatan negara. 

"Prestasi, pujian juga fitnah dan cercaan sudah tak terbilang banyaknya, namun tidak menggoyahkan kecintaan saya kepada negeri ini dan keyakinan saya tentang ideologi negara Pancasila, Saptamarga yang telah merasuk dalam jiwa raga saya," tegasnya.  

Dengan modal itu, Wiranto mengaku mengajarkan anak-anak dan keluarganya untuk merasa memiliki, mencintai, membela negeri ini di mana pun posisi mereka, apa pun pekerjaan mereka karena di negara inilah mereka dilahirkan, dibesarkan, dididik, mendapatkan kehidupan bahkan tempat peristirahatan yang terakhir. 

"Jangan campur adukkan agama dengan ideologi negara, jangan jual agama untuk kepentingan politik dan jangan jual agama untuk mencari keuntungan finansial. Dalami agama untuk bekal di akhirat dan memberikan kebaikan bagi sesama, bangsa dan negara," ujarnya. 
 

5. Membebaskan anak-anaknya mengenakan pakaian apapun dan menjadi apapun

Keluarga Dituduh Radikal karena Cadar dan Serban, Ini Kata Wiranto (Menkopolhukam Wiranto dalam upacara pemakaman cucunya) Istimewa

Wiranto mengaku memberikan kebebasan anak-anak dan keluarganya untuk mengenakan pakaian apa pun selama merasa nyaman dan tidak memamerkan keislaman mereka.  

"Karena kedalaman agamamu bukan diukur dari pakaianmu atau penampilanmu, tetapi akhlak dan perilakumulah yang lebih utama," ucapnya. 

Wiranto juga membebaskan mereka untuk menjadi apapun dan melakukan apa saja, sepanjang tidak keluar dari rambu-rambu kehidupan yang telah dipesankan kepada mereka.  

"Saya selalu menekankan kepada mereka untuk berusaha memberikan kebaikan kepada negeri ini dan bukan malah merepotkan negeri ini," tegasnya.   

6. Tidak ada anak atau menantu seorang pun yang ikut jejak Wiranto jadi TNI atau pengurus partai

Keluarga Dituduh Radikal karena Cadar dan Serban, Ini Kata Wiranto IDN Times/Linda Juliawanti

Wiranto mengaku beruntung pernah dipercaya menjadi Panglima ABRI/TNI, tapi tidak ada seorang pun anak atau menantu yang mengikuti jejaknya sebagai militer, atau menjadi rekanan untuk pengadaan alutsista.

Begitu juga, tidak ada seorang pun anggota keluarganya yang menjadi pengurus partai, meskipun dia mendirikan Partai Hanura. 

"Saya memang meminta dengan sungguh-sungguh kepada mereka untuk jangan sekali-kali memanfaatkan jabatan saya untuk kepentingan pribadi. Saya bersyukur sampai detik ini kami sekeluarga masih dapat mempertahankan komitmen itu," ujarnya. 

Wiranto pun mengucapkan terima kasih kepada siapa saja yang memberikan atensi dan doa saat cucunya, Ahmad Daniyal Al Fatih, meninggal dunia. 

"Semoga semua itu akan menjadi bekal yang menerangi jalan baginya untuk menghadap Tuhan Yang Maha Kasih, Amiin," ujar Wiranto. 

Baca Juga: Wiranto: Banyak yang Menunggangi Isu Pembakaran Bendera

Topic:

  • Sunariyah
  • Dwifantya Aquina

Just For You