Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

AS Tegaskan Masih Mau Negosiasi dengan Iran, Tapi Ada Syaratnya!

AS Tegaskan Masih Mau Negosiasi dengan Iran, Tapi Ada Syaratnya!
potret Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio (flickr.com/Max Goldberg via commons.wikimedia.org/Max Goldberg)
Intinya Sih
  • AS menegaskan masih membuka peluang negosiasi dengan Iran, namun mensyaratkan Teheran untuk membuka Selat Hormuz dan menghentikan serangan terhadap kapal yang melintas.
  • Pemerintah AS tetap menjaga keamanan di Selat Hormuz demi kelancaran pelayaran internasional, sambil menilai tindakan Iran sebagai pelanggaran hukum yang tidak dapat diterima.
  • Donald Trump meminta negara-negara Teluk membayar biaya perlindungan Selat Hormuz, sementara mereka menyetujui pembayaran tersebut namun menolak kontrol Iran atas jalur perairan itu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengatakan pihaknya masih membuka pintu negosiasi dengan Iran. Sebab, Washington sebetulnya ingin mengutamakan negosiasi daripada peperangan untuk menyelesaikan konflik dengan Teheran. Namun, Menteri luar Negeri AS, Marco Rubio, mengatakan, jika negosiasi ingin berlanjut, maka Iran harus membuka Selat Hormuz terlebih dahulu. 

"Ini harus jelas. Ini harus berupa kesepakatan yang mereka bersedia patuhi. Lihat, Iran seminggu yang lalu seharusnya mengeluarkan pernyataan yang mengatakan bahwa Selat Hormuz akan dibuka dan bahwa mereka tidak akan lagi menyerang kapal (yang melintas di sana). (Namun), alih-alih melakukan itu, mereka (malah) menyerang tiga kapal (di Selat Hormuz). Saya pikir itu terjadi Jumat atau Sabtu lalu. Jadi, maksud saya, perilaku mereka harus berubah agar perilaku kita juga berubah," jelas Rubio kepada wartawan pada Minggu (19/7/2026) malam waktu setempat, seperti dilansir Jerusalem Post.  

1. AS akan tetap memberi pengamanan di Selat Hormuz

Selat Hormuz.
potret Selat Hormuz (commons.wikimedia.org/European Space Agency)

Rubio menambahkan, AS akan tetap melakukan pengamanan di Selat Hormuz selama Iran masih menutup perairan tersebut. Langkah ini dilakukan untuk memberikan pengamanan terhadap semua kapal agar bisa melintas di sana dengan aman tanpa ancaman serangan dari Iran. 

"Jadi, pada dasarnya, kami menyediakan layanan untuk melindungi kapal-kapal ini atas nama dunia. Kami satu-satunya yang melakukan sesuatu tentang hal itu. Dunia harus memutuskan apakah akan mengizinkan jalur perairan internasional berada di bawah kendali negara seperti ini (Iran) yang sepenuhnya ilegal, melanggar hukum, dan tidak dapat diterima," lanjut Rubio.

2. Donald Trump meminta bayaran untuk pengamanan di Selat Hormuz

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang menyampaikan pidato di Gedung Putih.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang menyampaikan pidato di Gedung Putih. (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)

Meski begitu, pengamanan di Selat Hormuz ini sebetulnya tidak gratis. Sebab, Presiden AS, Donald Trump, pada pekan lalu mengatakan dirinya akan meminta bayaran kepada negara-negara Teluk, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Kuwait, dan Bahrain karena sudah mengamankan selat tersebut. 

Dalam pernyataannya, Trump meminta kelima negara Teluk tadi untuk membayar sebesar 20 persen dari total biaya yang sudah digelontorkan Negeri Paman Sam untuk melakukan perlindungan dan pengawasan di Selat Hormuz. Sebab, biaya yang sudah digelontorkan AS untuk menjaga selat tersebut dari ancaman Iran tidak murah. Oleh karena itu, negara-negara Teluk harus menggantinya. 

“Ya, saya ingin mendapatkan penggantian biaya karena kita melindungi sebagian besar wilayah kaya di dunia, kita mengeluarkan uang, dan karena itu kita akan mendapatkan penggantian biaya perlindungan,” jelas Trump, seperti dilansir The Hill.

3. Negara-negara Teluk tidak keberatan membayar AS untuk pengamanan di Selat Hormuz

Negara-negara Teluk.
potret negara-negara Teluk (pexels.com/Lara Jameson)

Menurut seorang pejabat AS dan sumber anonim dari Timur Tengah, negara-negara Teluk tidak keberatan untuk membayar AS karena sudah melindungi pelayaran di Selat Hormuz. Namun, mereka tetap menolak kontrol Iran di selat tersebut. Sebab, Selat Hormuz merupakan wilayah perairan internasional sehingga kapal dari negara mana pun berhak melintas di sana dengan bebas.

“Bagi beberapa negara Teluk, kerugian akibat serangan itu sebenarnya tidak terlalu penting. Secara finansial, hal itu tidak berpengaruh signifikan bagi keuntungan mereka. (Namun), mereka menginginkan stabilitas. Hal yang tidak diinginkan negara-negara Teluk adalah Iran memiliki hak veto atas siapa yang dapat keluar dan masuk di Selat Hormuz. Mereka tidak ingin Iran dapat membalik saklar,” kata seorang pejabat AS dan sumber anonim dari Timur Tengah kepada Middle East Eye.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More