Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Menlu ASEAN Bertemu, China-Filipina Ribut Lagi di Laut China Selatan

Menlu ASEAN Bertemu, China-Filipina Ribut Lagi di Laut China Selatan
kapal militer berpatroli di Laut China Selatan (commons.wikimedia.org/Anonymous United States Navy photographer)
Intinya Sih
  • China dan Filipina kembali bersitegang di Second Thomas Shoal, saling menuduh sebagai pemicu bentrokan antara penjaga pantai kedua negara menjelang pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN di Manila.
  • Menlu AS Marco Rubio hadir di Manila, menegaskan komitmen Amerika Serikat terhadap kebebasan navigasi di Asia Tenggara serta mengkritik potensi dominasi China atas Laut China Selatan.
  • Pertemuan ASEAN membahas isu strategis seperti sengketa Laut China Selatan, krisis Myanmar, dan ketahanan energi kawasan yang terdampak konflik global serta gangguan distribusi minyak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Ketegangan di Laut China Selatan kembali meningkat menjelang dimulainya rangkaian Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN (ASEAN Foreign Ministers’ Meeting/AMM) di Manila, Filipina. China dan Filipina saling melontarkan tuduhan terkait bentrokan yang terjadi di sekitar Ren’ai Jiao atau Second Thomas Shoal, Senin (20/7/2026).

Di saat bersamaan, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio tiba di Manila untuk menghadiri pertemuan para menteri luar negeri ASEAN yang berlangsung hingga 24 Juli. Pertemuan tersebut diperkirakan akan membahas berbagai isu strategis kawasan, termasuk sengketa Laut China Selatan, konflik Myanmar, hingga ketahanan energi.

Pada Selasa (21/7/2026), China merilis rekaman video yang diklaim memperlihatkan konfrontasi antara personel Penjaga Pantai China (China Coast Guard/CCG) dan aparat Filipina di wilayah yang disengketakan tersebut.

Video yang dipublikasikan media pemerintah China Daily itu muncul sehari setelah Filipina menuduh personel Penjaga Pantai China melukai seorang pelaut Filipina dalam insiden di Second Thomas Shoal.

1. China dan Filipina saling tuding jadi pemicu bentrokan

Kapal China yang merapat ke kapal Filipina di Laut China Selatan pada Maret 2022. (dok. Phillipines Coast Guard)
Kapal China yang merapat ke kapal Filipina di Laut China Selatan pada Maret 2022. (dok. Phillipines Coast Guard)

Dalam keterangannya, China Coast Guard menuduh personel Filipina mengabaikan sejumlah peringatan saat mendekati kapal patroli China menggunakan dua perahu karet.

Beijing menyatakan kapal Filipina melaju dengan kecepatan tinggi, berupaya mengepung serta menabrak kapal patroli China. China juga menuduh aparat Filipina memukul petugasnya menggunakan dayung dan tongkat panjang.

Menurut China Coast Guard, petugasnya merespons dengan memberikan peringatan lisan, melakukan manuver kapal, serta mengambil “langkah-langkah balasan yang sesuai” untuk mengendalikan situasi.

China juga menuding Filipina telah memutarbalikkan fakta dan mendesak Manila menghentikan tindakan yang disebut sebagai pelanggaran wilayah serta provokasi.

Di sisi lain, Filipina sebelumnya menyatakan personel Penjaga Pantai China menyerang pelaut Filipina di sekitar kapal yang menjadi pos militer Manila di kawasan sengketa tersebut. Tuduhan itu telah dibantah Beijing.

2. Rubio soroti kebebasan navigasi di Asia Tenggara

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio (Gage Skidmore from Peoria, AZ, United States of America, CC BY-SA 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/2.0>, via Wikimedia Commons)

Di tengah meningkatnya ketegangan tersebut, Marco Rubio tiba di Manila untuk menghadiri pertemuan para menteri luar negeri ASEAN. Sebelum bertolak dari Washington, Rubio menyatakan terbuka untuk menggelar pertemuan dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi yang juga dijadwalkan menghadiri forum tersebut.

Dalam artikel opini yang diterbitkan di Filipina, Rubio menegaskan komitmen Amerika Serikat terhadap kebebasan navigasi di Asia Tenggara.

“Kebebasan ini sama sekali tidak bisa dianggap sebagai sesuatu yang terjamin. Jika perairan ini berada di bawah kendali kekuatan yang bersedia menggunakan perdagangan sebagai senjata geopolitik, maka Amerika Serikat maupun negara-negara ASEAN akan menghadapi ancaman serius terhadap kedaulatan, keamanan, dan masa depan ekonomi mereka,” tulis Rubio.

Pernyataan itu dinilai merujuk pada klaim China atas hampir seluruh wilayah Laut China Selatan yang sebelumnya telah dinyatakan tidak memiliki dasar hukum oleh putusan arbitrase internasional.

3. Laut China Selatan hingga Myanmar jadi agenda ASEAN

Pertemuan ke-59 Menteri Luar Negeri ASEAN (AMM) di Manila, Filipina.
Pertemuan ke-59 Menteri Luar Negeri ASEAN (AMM) di Manila, Filipina. (Dok. ASEAN Secretariat)

Ketegangan terbaru di Second Thomas Shoal diperkirakan menjadi salah satu perhatian utama dalam rangkaian pertemuan ASEAN pekan ini. Insiden tersebut juga kembali memunculkan keraguan terhadap proses perundingan Code of Conduct (CoC) antara ASEAN dan China yang telah berlangsung selama bertahun-tahun untuk mengatur perilaku para pihak di Laut China Selatan.

Selain isu Laut China Selatan, para menteri luar negeri ASEAN juga dijadwalkan membahas perkembangan situasi di Myanmar, termasuk implementasi konsensus lima poin (Five-Point Consensus/5PC) yang hingga kini belum menunjukkan kemajuan signifikan.

Agenda lain yang akan dibahas mencakup dampak konflik global terhadap ketahanan energi kawasan, termasuk gangguan distribusi minyak melalui Selat Hormuz, serta penguatan kerja sama energi di antara negara-negara ASEAN.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More