Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Viral, Penjaga Pantai China Pukul Kepala Pelaut Filipina dengan Tongkat

Viral, Penjaga Pantai China Pukul Kepala Pelaut Filipina dengan Tongkat
ilustrasi perahu karet (pexels.com/Harold Granados)
Intinya Sih
  • Video berdurasi 25 detik menunjukkan penjaga pantai China memukul pelaut Filipina di Beting Second Thomas, memicu luka dan kerusakan perahu dalam insiden di Laut China Selatan.
  • Pemerintah Filipina mengecam keras tindakan agresif China, menilai aksi itu provokatif dan ilegal, sementara Beijing membantah tuduhan serta menuding Manila melanggar batas wilayah.
  • Ketegangan terbaru ini dibahas dalam pertemuan menteri luar negeri ASEAN di Manila, dengan fokus pada upaya merumuskan pakta nonagresi antara negara anggota dan China.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times – Sebuah video berdurasi 25 detik yang dirilis militer Filipina memperlihatkan aksi kekerasan di perairan sengketa Laut China Selatan pada Senin (20/7/2026). Menurut laporan The Independent, seorang personel Penjaga Pantai China memukul kepala pelaut Filipina menggunakan tongkat kayu dalam insiden di Beting Second Thomas. Peristiwa itu bermula ketika perahu karet kaku milik China yang mengangkut delapan personel mendekati BRP Sierra Madre, kapal perang Filipina yang sengaja dikandaskan sejak 1999 sebagai pos terdepan wilayah teritorialnya.

Dua perahu karet Angkatan Laut Filipina lalu mendekati lokasi untuk meminta pihak China menjauh secara nonkonfrontatif. Namun, personel China merespons secara agresif hingga melukai seorang pelaut serta merusak perahu karet Filipina. Tim medis masih memeriksa tingkat keparahan luka korban guna menentukan kebutuhan evakuasi medis.

1. Otoritas Filipina mengecam tindakan penjaga pantai China

Bendera Filipina
Bendera Filipina (unsplash.com/XT7 Core)

Insiden tersebut memicu kecaman keras dari otoritas Filipina. Departemen Pertahanan Nasional (DND) Filipina menyatakan bahwa intimidasi itu tidak akan menghalangi pelaksanaan mandat konstitusional mereka di Laut Filipina Barat, sebutan Manila untuk wilayah tersebut.

“Tindakan kekerasan dan pelecehan terbaru yang dilakukan penjaga pantai China… menambah pola jelas dari perilaku provokatif dan bermusuhan, serta memperlebar defisit kepercayaan terhadap Republik Rakyat China,” menurut pernyataan resmi DND, dikutip NDTV.

Militer Filipina juga mendesak Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) dan Penjaga Pantai China untuk segera menghentikan tindakan yang dinilai ilegal serta koersif. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Filipina menilai aksi kekerasan tersebut tidak dapat diterima dan menyatakan siap menempuh langkah diplomatik.

Di sisi lain, Beijing membantah tuduhan bertindak agresif dan justru menuduh Manila melanggar batas wilayah. Hingga berita ini diturunkan, Kedutaan Besar China di Manila maupun Kementerian Pertahanan China belum menyampaikan komentar resmi.

2. China menuntut Filipina menarik BRP Sierra Madre

ilustrasi bendera China (pexels.com/aboodi vesakaran)
ilustrasi bendera China (pexels.com/aboodi vesakaran)

Beting Second Thomas, yang oleh Beijing disebut Terumbu Renai, berada sekitar 1.300 kilometer dari daratan utama China. Namun, kawasan itu berada di dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) 200 mil laut Filipina. China terus menuntut Filipina menarik BRP Sierra Madre dari atol yang kini dikepung oleh kapal-kapal China tersebut.

Filipina berulang kali menuduh China mengganggu misi rutin pengiriman logistik bagi pasukan yang bertugas di BRP Sierra Madre. Konflik di kawasan tersebut juga pernah memicu bentrokan serupa pada Juni 2024 yang menyebabkan seorang pelaut Filipina kehilangan jari tangannya. Pasca-insiden tahun 2024 itu, kedua negara sebenarnya sempat mencapai kesepakatan sementara untuk mengizinkan kelancaran misi pengiriman pasokan logistik.

3. Sengketa Laut China Selatan masuki agenda pertemuan ASEAN

ilustrasi perbatasan kawasan laut
ilustrasi perbatasan kawasan laut (pexels.com/Matej Bizjak)

Sengketa di Laut China Selatan melibatkan sejumlah pihak, yakni Brunei Darussalam, Malaysia, Vietnam, Taiwan, serta China dan Filipina. Ketegangan terbaru di kawasan ini menjadi agenda utama dalam pertemuan tingkat tinggi para menteri luar negeri Asosiasi Negara-Negara Asia Tenggara (ASEAN) yang berlangsung di Manila pekan ini.

Pertemuan tahunan tersebut dijadwalkan dihadiri oleh Menteri Luar Negeri China, Wang Yi. Saat ini, ASEAN dan China tengah merundingkan pakta nonagresi untuk mencegah konflik bersenjata dalam skala besar yang dapat menyeret Amerika Serikat (AS). AS sendiri telah berkomitmen membantu menangkal agresi China sekaligus menjaga kebebasan navigasi di jalur pelayaran internasional yang sibuk tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More