Ujian Mental Iringi Perjalanan Cucu Suryana Menuju Tanah Suci

- Cucu Suryana, teknisi mobil asal Tasikmalaya, akhirnya berangkat haji bersama istrinya setelah perjuangan panjang menabung dan menghadapi berbagai ujian mental serta kekhawatiran geopolitik.
- Sariyem, pensiunan guru dari Jawa Tengah, menunggu 13 tahun untuk bisa menunaikan ibadah haji bersama suaminya dengan tabungan yang dikumpulkan sedikit demi sedikit.
- Kisah Cucu dan Sariyem menggambarkan keteguhan, kesabaran, serta pengorbanan jemaah haji Indonesia dalam mewujudkan impian spiritual menuju Tanah Suci.
Jakarta, IDN Times - Langkah kaki Cucu Suryana terasa mantap meski beban di pundaknya bukan sekadar tas bawaan. Pria asal Tasikmalaya yang lama menetap di Ciracas, Jakarta Timur ini, akhirnya bersiap berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji tahun 2026.
Perjalanan religi ini merupakan cita-cita yang dipupuknya sejak kecil. Tahun ini, pria berusia 56 tahun itu bisa segera merealisasikan cita-citanya.
Dia tak berangkat sendiri. Ada istri tercinta, Marlinar, yang berada di sampingnya untuk pergi ke Tanah Suci. Perjalanan mereka menuju Baitullah penuh dengan cerita kesabaran dan perjuangan mengumpulkan pundi-pundi rupiah.
Cucu memiliki latar belakang sebagai seorang teknisi mobil besar di Tanjung Priok , Jakarta Utara. Dari hasil keringatnya itulah, ia pelan-pelan mengumpulkan biaya haji.
Menariknya, sang istri justru lebih dulu mendaftar pada 2013. Cucu baru menyusul mendaftar tiga tahun kemudian, tepatnya pada 2015. Karena sistem pendampingan, ia akhirnya bisa berangkat bersamaan dengan sang istri tahun ini.
"Sebenarnya yang dipanggil duluan itu istri saya. Kebetulan istri harus ada pendamping, saya jadi pendampingnya," ujar Cucu saat ditemui di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Selasa (21/4/2026).
1. Ujian mental

Cucu mengaku, banyak ujian mental yang menghampiri. Masalah kesehatan hingga berbagai kendala teknis sempat membayangi langkahnya.
"Banyak cobaan. Cobaannya banyak banget. Ya, situasi di kesehatan lah, itu lah, ini lah, banyak lah," kata Cucu.
Namun, dia tetap teguh pada keyakinannya. Selain masalah pribadi, situasi geopolitik di Timur Tengah juga menjadi perhatiannya. Kabar perang Iran dengan Amerika Serikat sempat menimbulkan rasa khawatir. Sebagai manusia biasa, dia tak menampik adanya rasa takut di dalam hati.
Meski begitu, Cucu memilih untuk berserah diri sepenuhnya kepada Sang Pencipta. Dia memegang prinsip hidup dan mati sudah ada yang mengatur.
"Kalau kita mau diambil di sana (meninggal dunia), ambil. Pasrah, ikhlas. Tapi, kita berdoa untuk kembali lagi ke tanah air," ucap dia.
Fokus utamanya saat ini adalah menjaga kesehatan agar ibadah haji pertamanya ini berjalan lancar.
2. Kisah Sariyem, penantian 13 tahun sang pahlawan tanpa tanda jasa

Cerita serupa datang dari Sariyem (68). Pensiunan guru asal Jawa Tengah yang kini tinggal di Cibubur ini harus menunggu selama 13 tahun untuk bisa berangkat haji. Perasaan senang dan haru bercampur aduk saat namanya masuk dalam daftar jemaah yang berangkat tahun ini.
Sariyem berangkat bersama suaminya, Lasito (70). Tabungan yang dia kumpulkan selama bertahun-tahun akhirnya membuahkan hasil
"Pertama bayar Rp25 juta, setelah dapat panggilan selanjutnya baru dilunasi. Jadi uang tabungan yang ada langsung dimasukkan," ujar Sariyem.
3. Doa Sariyem di Tanah Suci

Bagi Sariyem, tidak ada doa muluk yang dipanjatkannya di depan Kakbah nanti. Dia hanya berharap keluarga besarnya senantiasa diberikan kesehatan, umur panjang, serta rezeki yang berkah.
Kisah Cucu dan Sariyem menjadi potret nyata perjuangan jemaah haji Indonesia. Ada tahun-tahun penuh kesabaran, tabungan yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, serta mental yang terus diuji hingga kaki benar-benar berpijak di Tanah Suci.


















