Comscore Tracker

Berdakwah lewat Canda: Belajar dari Husein Ja’far Al Hadar

Simak wawancara khusus IDN Times bersama Husein Ja'far

Jakarta, IDN Times- Salah satu pendakwah yang kini digandrungi millennial adalah Husein Ja’far Al Hadar. Lelaki yang karib disapa Habib Husein ini dikenal sebagai da’i yang mengusung prinsip Islam cinta. Alih-alih berdakwah dengan lantunan ayat Alquran dan hadis, Husein lebih sering berdakwah melalui canda dan nada. 

Pemilik akun YouTube Jeda Nulis ini sering berkolaborasi dengan para content creator dalam memperkenalkan Islam. Makanya, jangan heran kalau kita lebih sering melihat Husein di akun YouTube Majelis Lucu Indonesia daripada di akun-akun dakwah lainnya. Dia sering membahas Islam bersama para komika, seperti Muslim, Coki, Uus, dan Arie “Kriting”.

Berdakwah dengan kelakar berawal dari keyakinannya bahwa banyak orang yang ingin mengenal Islam tapi tidak tahu harus mulai dari mana. “Ada ratusan DM yang mengatakan mereka ingin berubah tapi gak tahu harus bertanya kepada siapa dan harus dari mana,” kata Husein kepada IDN Times.

Atas segudang pertanyaan itulah Husein semakin komitmen berdakwah melalui jalur digital. Dia juga tidak ingin menampilkan diri bak pengkhotbah dengan jubah dan balutan sorban, sehingga orang-orang segan dengannya. Dalam menyampaikan pesan-pesan Allah SWT, Husein ingin menampilkan diri selayaknya seorang sahabat yang mengajak temannya untuk berbuat baik.

Bagaimana kelanjutannya? Yuk simak wawancara khusus IDN Times bersama Husein Ja’far Al Hadar di bawah ini.

Anda dikenal sebagai pendakwah millennial yang memanfaatkan media sosial dan kerap ceramah dengan canda. Kenapa Anda memilih berdakwah melalui jalur itu?

Berdakwah lewat Canda: Belajar dari Husein Ja’far Al HadarInstagram/@husein_hadar

Karena kalau dakwah-dakwah yang di masjid, di majelis taklim, di tempat-tempat dakwah umumnya, itu sudah banyak ustaz di sana. Kemudian, yang lebih butuh pada konten-konten agama sebenarnya adalah orang-orang yang gak ke majelis taklim. Kalau orang-orang yang ke majelis taklim pasti orang-orang yang ingin meningkatkan keimanannya.

Adapun dakwah bukan hanya mengajak orang untuk meningkatkan keislaman dan keimanan, tapi juga mengajak orang yang belum kenal sama sekali untuk kemudian kenal agama. Karena itu saya memilih media YouTube, segmen anak muda, kalau offline banyak di kafe-kafe, untuk ajak mereka ke masjid. Kalau sudah di masjid ya itu utusan ustaz yang di masjid, bukan lagi urusan saya.

Baca Juga: Makna Hijrah dan Cara Dakwah ala Qari Kondang Muzammil Hasballah

Perkara tampilan, Anda lebih sering pakai kaos, tidak seperti pendakwah pada umumnya yang pakai baju koko atau jubah dengan sorban. Pernah ada yang mempertanyakan hal itu?

Berdakwah lewat Canda: Belajar dari Husein Ja’far Al HadarInstagram @husein_hadar

Kalau kritik tidak ya, cuma mempertanyakan. Jadi mereka mempertanyakan kenapa pakaiannya gitu, kenapa gak pake jubah? atau minimal pake baju koko? Yang pertama, karena segmennya anak muda, jadi saya menyesuaikan, bukan hanya dari segi konten, tapi juga dari segi pakaian dan bahasa, supaya orang gak berjarak sama saya. Karena kalau sudah berjarak, percuma, gak akan diterima dakwah kita. Dan itu sebenarnya kita belajar dari Nabi Muhammad, karena Nabi menganggap umatnya itu sahabat, tidak sebagai murid atau santri.

Nah itu yang saya lakukan, yaitu menjadikan mereka sebagai sahabat saya, karena itu saya berbicara seolah-olah sesama sahabat. Bagi saya sama seperti orang pakai baju renang ke pesta, ya gak matching. Makanya kalau ke kafe ya pakai baju biasa aja.

Anda juga sering kolaborasi dalam berdakwah dengan Majelis Lucu Indonesia (MLI). Sering juga dengan YouTuber dan stand-up comedians. Apakah dakwah dengan cara seperti itu efektif?

Berdakwah lewat Canda: Belajar dari Husein Ja’far Al HadarInstagram @husein_hadar

Bagi saya sangat efektif karena memang mereka itu bukan sebenarnya tidak ingin mengenal Islam, bukan tidak ingin mendalami Islam. itu terbukti di DM (direct message). Mungkin secara terang-terangan mereka gak menujukkan, tapi ada ratusan DM yang mengatakan kepada saya, kalau jauh dari Islam tapi saya sangat ingin berubah. Tapi mereka gak tau harus bertanya ke siapa.

Makannya konten saya di MLI, kontennya kultum pemuda tersesat, saya mau karena pertanyaan itu mungkin terkesan porno atau tidak etis, tapi itu terjadi di masyarakat, di anak muda, dan gak mungkin bertanya ke ustaz-ustaz yang bersorban itu. Karena kalau tanya ke mereka, mereka (ustaznya) sungkan. Yang kedua, ustaznya juga sungkan untuk ngomong apa adanya.

Kalaupun ada media sosial yang tidak mendidik, seperti TikTok misalnya, bagi saya justru malah bukan dengan ngata-ngatain TikTok. Bilang jangan maik TikTok karena kontennya negatif, tapi solusinya adalah kita harus buat konten positif di TikTok. Makanya saya punya recehan dakwah yang isinya 30 detik atau 40 detik. Karena ada orang yang ingin tahu tapi butuh jawaban yang asik.

Baca Juga: Sore-Sore Berkah: Belajar Hijrah yang Benar

Apa sih tantangan berdakwah dengan segmentasi millennial?

Berdakwah lewat Canda: Belajar dari Husein Ja’far Al HadarInstagram/@husein_hadar

Pertama, mereka gak bisa hanya dihukumi atau di-judgje, sehingga ilmu agama Islam saja gak cukup, tapi juga butuh ilmu menjelaskan Islam yang enak di teman millennial. Kedua, millennial itu gak bisa serta-merta kamu ajak ke masjid, kami haramin ini-itu, kita ajaknya pelan-pelan. Jadi ikutin cara Alquran, kalau ada peminum minuman keras, itu gak bisa langsung diharamin, meskipun hukumnya haram.

Media sosial ramai dengan perdebatan takut kepada Allah atau corona. Tidak jarang yang ikut hanyut dalam perdebatan itu adalah millennial. Menurut Anda, bagaimana menyikapi fenomena seperti itu?

Berdakwah lewat Canda: Belajar dari Husein Ja’far Al HadarIlustrasi virus corona. (IDN Times/Mia Amalia)

Jadi seolah-olah agama harus menghukumi segala hal, harus tahu segala hal, harus menabrak segala hal, jadi kemudian ada orang berkebudayaan gak boleh, karena seolah-olah gak dekat dengan agama. Ada orang yang gak boleh modern, seolah-olah modern gak dekat agama. Seolah-olah kalau percaya sains tidak percaya Tuhan. Padahal, di dalam Alquran ayat yang berisi dorongan untuk menggunakan akal banyak sekali. Kurang lebih ada 49 ayat yang menantang manusia untuk berpikir, berpikir itu turunannya pengetahuan umum, sosiologi, filsafat, dan sains. Jadi, kita dituntut untuk mengembangkan sains.

Nah karena sains itu bersifat panca indera, maka dia harus diteliti dengan pendekatan empiris. Mencari fakta sains dari Alquran itu tidak benar. Alquran fungsinya mendorong orang untuk belajar sains. Memang ada ayat-ayat yang bersifat saintis, tapi Alquran bukan kitab sains. Yang kedua, ayat-ayat sains itu tetap harus dibaca dengan kacamata empiris. Kata sains yang paling kecil itu atom, dalam Alquran yang paling kecil itu biji dzarrah, maka itu seolah-olah agama yang jadi salah.

Agama telah mendidik kita untuk melihat agama dari kacamata sains. Dan melihat sains dengan kacamata sains itu adalah agamis, karena itu perintah agama. Karena itu, bagi saya, takut kepada corona adalah bagian takut kepada Allah, karena corona adalah makhluk Allah. Sama kaya kita takut gempa bumi, karena Allah katakan kalau ada bencana kamu harus pergi.

Saya menyimpulkannya begini, sains itu kan satu pembuktian yang berbasis kepada empirik, sedangkan agama adalah satu hal yang berbasis spiritual. Agama mendorong kita untuk mendalami sains, banyak ulama yang juga saintis, ada Ibnu Sina. Bagi saya, titik temunya adalah sains biarkan saja berkembang hingga agama masuk ketika sains dikembangkan secara tidak bermoral.

Misalnya, orang mau mengembangkan energi nuklir ya gak ada masalah. Tapi ketika nuklir digunakan untuk kepentingan perang, maka agama masuk di sana, melarang. Bukan pada aspek di mana agama mengurusi teknis. kata Imam Syafi’i, siapa yang berakal maka dia akan bertemu dengan agama. Jadi kalau kamu menggunakan akal dengan maksimal, maka kamu akan ketemu agama. Dan itu juga yang menjadi core dakwah saya, saya berbicara dengan orang secara logis, jarang saya menggunakan ayat dan hadis. Saya menggunakan tema dan pendekatan yang universal dan itu lebih diterima.

Salah satu karakter millennial adalah bersemangat dalam segala hal, menggebu-gebu. Tidak jarang millennial juga semangat ketika berdebat perkara agama di media sosial. Bagaimana kita millennial seharusnya menanggapi hal-hal semacam itu?

Berdakwah lewat Canda: Belajar dari Husein Ja’far Al HadarIDN Times/Ashari Arief

Agama itu lahir bukan dalam skema persaingan. Sejak awal kalau kita mengacu pada agama-agama Ibrahim; Yahudi, Nasrani, dan Islam, itu semangatnya bukan bersaing atau berkonflik. Nabi Muhammad misalnya mengatakan dia diutus untuk menyempurnakan akhlak, bukan membawa akhlak baru. Jadi akhlak atau ajaran nabi sebelumnya, Nabi Muhammad tetap lestarikan itu. Adapun yang tidak sesuai, ya Nabi Muhamamd ganti.

Di Islam ada Puasa Asyura, yang mana itu dilakukan oleh nabi-nabi sebelumnya, tapi tetap Islam lanjutkan kok. Makanya bersaing atau berkonflik dengan agama lain dan menjelekkan agama lain atas nama agama kita, itu tidak ada dasarnya dan bertentangan dengan semangat agama. Karena itu, ketika membangun Kota Madinah, Nabi Muhammad mengatakan kota ini bukan hanya kota Islam saja, tapi juga kota untuk umat-umat lainnya. Mereka dilindungi dengan hak-hak yang sama seperti hak-hak umat Islam. Bahkan dalam keadaan perang pun, sudah paling kacau ya, itu rumah ibadah dan tokoh agama lain tidak boleh dihancurkan dan disakiti.

Banyak juga ya teman-teman dakwah anda adalah orang-orang yang bertato, bahkan suka mabuk-mabukan. Bagaimana Anda melihat mereka?

Berdakwah lewat Canda: Belajar dari Husein Ja’far Al HadarInstagram/@husein_hadar

Saya bilang gini, sering kali konflik antar-agama, konflik antar-umat, sering terjadi hanya karena kita salah paham. Makanya saya bilang, tak kenal maka ta’aruf, sering kali konflik itu terjadi karena gak kenal. Dulu saya memandang teman-teman yang sekarang saya sering berdakwah, Coki-Muslim, Uus, orang-orang yang kayaknya itu, “wah udah gak tertolong”, “gak mungkin mengislamkan mereka.” Ternyata, setelah saya kenal, saya malah banyak belajar dari mereka. Ternyata mereka juga punya idealisme yang bagus, hanya saja perspektifnya yang beda, ya perbedaan pendapat yang bisa kita pahami.

Kita harus sadar bahwa perbedaan itu adalah sunnatullah, bahwa perbedaan itu yang buat Allah. Maka kalau menentang itu, anda berarti menentang Allah. Jadi, hidup saja dengan perbedaan. Jangankan dengan perbedaan, dengan kemaksiatan saja kita harus mendampingi mereka supaya mereka ikut kita ke kebaikan. Paling buruk adalah Firaun yang mengaku Tuhan, tapi ketika Allah memerintahkan Musa, dibilang datang dengan lemah lembut. Itu dengan musuh Allah lho. Makanya sangat tidak pantas dijadikan masalah bagi mereka yang beda agama.

Baca Juga: Makna Hijrah dan Cara Dakwah ala Qari Kondang Muzammil Hasballah

Hijrah sudah jadi tren di millennial. Tapi, berdasarkan Indonesia Millennial Report 2020, ternyata 24 persen menganggap hijrah berarti mengganti pakaian. Bagaimana Anda melihat fenomena hijrah yang dipahami sekadar berganti pakaian?

Berdakwah lewat Canda: Belajar dari Husein Ja’far Al HadarInstagram @husein_hadar

Bagi saya, hijrah itu metode dakwah yang kebetulan mendapat banyak perhatian dari banyak orang. Sebagaimana pendekatan saya dengan komedi dan musik, maka hijrah adalah pendekatan dakwah lain. Jadi bagi saya itu sah-sah saja. Tapi, kalau kemudian ketika kita sudah berhijrah, melihat metode yang lain salah atau dengan pandangan buruk, itu yang bagi saya kecelakaan. Karena yang sudah hijrah seharusnya sadar bahwa yang belum hijrah posisinya seperti dulu kita saat belum berhijrah.

Kemudian, kita gak tahu masa depan kita, apakah tetep baik atau tidak. Jangan-jangan kita ke depannya gak baik. Mereka pun kita gak tahu masa depannya gimana, emang kita tahu masa depan mereka? Jadi memandangnya harus dengan kasih sayang, jangan dengan sentimen, apalagi kemudian mengukur keislaman seseorang dari sisi pakaian saja, itu masalah.

Saya ada cerita lucu tentang Bahlul. Dia ini pergi ke pasar pakai jubah dan sorban. Kemudian ditanya oleh pedagang, apa hukumnya ini, apa hukumnya itu. kata Bahlul gak tahu. Kata pedagangnya, lah kamu gimana pakai sorban dan jubah tapi gak tahu hukum ini dan itu. Oh begitu, kata Bahlul. Dia bukan sorban dan jubahnya dipakaikan ke orang itu. Terus ditanya sama Bahlul, sekarang saya tanya, hukumnya yang tadi kamu tanya tahu gak sekarang? Gak tahu, sama saja kata Bahlul.

Jadi menyudutkan orang dari segi penampilan itu bermasalah, memandang orang dari segi kelakuannya saja sudah bermasalah, karena kita gak tahu isi hati orang. Karena itu menilai orang lain harus hat-hati banget, harus dengan kerendahan hati yang tinggi. Kalau kita memandang orang lain dengan sinis, justru dosanya di kita bukan di orang lain.

Jadi menurut anda berhijrah dengan mengubah pakaian saja belum cukup?

Berdakwah lewat Canda: Belajar dari Husein Ja’far Al Hadarhttps://pixabay.com/

Bagi saya itu boleh, tapi jangan berhenti di sana. Mengubah tampilan itu boleh, tapi saya gak bilang wajib. Tapi yang gak mengubah tampilan, itu juga Islami. Misal dari hal pakaian, Islam itu memerintahkan menutup aurat, bukan pakai hijab atau sarung, selama kita menutup aurat, itu sudah Islami. Mau pakai apa pun pakaiannya terserah. Mengubah pakaian itu terserah, tapi yang lebih baik tetap menjaga keIndonesiaannya, karena Islam itu tidak identik dengan jubah, tetap aja kita hargai keindonesiaan, karena itu bagian dari Islamis.

Agama itu memerintahkan untuk cinta Tanah Air. Nabi Muhammad itu menangis ketika meninggalkan Mekkah, begitu juga Madinah sangat dicintai nabi. Jadi, mengubah penampulan gak masalah. Jangankan mengubah penampilan, anda salat saja dan berhenti di salat gak cukup. Dikatakan kalau kamu cuma salat, tapi salat tidak mengubah kelakuan kamu menjadi baik, maka solat kamu gak ada gunanya.

Terakhir, mungkin Anda bisa berbagi saran kepada millennial, bagaimana bisa memanfaatkan media sosial untuk berdakwah sesuai etika agama?

Berdakwah lewat Canda: Belajar dari Husein Ja’far Al HadarInstagram @husein_hadar

Kalau kita gak ngerti agama, etika berdakwah dalam Islam minimal sebarkan hal-hal yang bermanfaat. Dakwah gak mesti ngomogin ayat dan hadis, tapi menunjukkan kita bermanfaat sebagai seorang muslim kepada semua orang. Itu namanya dakwah dengan tingkah laku.

Jadi sebarkan saja hal-hal yang bermanfaat. Kalau dalam kondisi gini, mengampanyekan di rumah saja sudah tinggi sekali pahalanya. Makanya saya bilang salah kaprah kalau ada artis hijrah, pemusik, pemain band, terus dakwahnya berceramah. Keahlian anda bermusik, maka kalau anda hijrah, lakukanlah dengan musik-musik Islami, bukan dengan berceramah.

Dulu saya dibilang, wah bagaimana musik bisa dijadikan dakwah, candaan bisa dijadikan dakwah, itu mah akal-akalan saja. Gak kok, nyatanya saya sekarang punya acara bareng Coki, Muslim, Kikan, untuk memadukan antara nada, canda, dan dakwah, musik stand-up comedy, dan dakwah. Dan itu responsnya sangat bagus sekali. Yang penting adalah niatnya berdakwah, asal niatnya positif, InsyaAllah akan dibantu oleh Allah.

Baca Juga: Yuk, Ngabuburit di Rumah dengan Dakwah Asyik ala 5 Kanal YouTube Ini! 

Topic:

  • Vanny El Rahman
  • Anata Siregar

Berita Terkini Lainnya