Wamen Komdigi Ingatkan Risiko Anak Terlalu Bergantung pada AI

Nezar Patria mengingatkan ketergantungan anak pada AI dapat mengganggu kepribadian dan kemampuan berpikir kritis.
Sekitar 70 juta anak Indonesia akan tumbuh dalam ekosistem digital yang menghadirkan sejumlah risiko.
PP TUNAS dan fitur Parental Control diperkenalkan untuk mendukung ruang digital yang aman bagi anak.
Jakarta, IDN Times - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, mengingatkan risiko anak terlalu bergantung pada kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI). Ketergantungan itu dikhawatirkan membuat anak kehilangan kepribadian dan kemampuan berpikir kritis.
“Jangan sampai anak kita menjadi tergantung dengan artificial intelligence, sehingga mereka kehilangan kepribadiannya sendiri, mereka kehilangan kemampuan berpikir kritis. Ini yang saya kira paling berisiko buat generasi kita ke depan,” ujar Nezar dalam peluncuran Kelas Pengasuhan Digital di Jakarta Selatan, dikutip Sabtu (17/10/2026).
1. Sekitar 70 juta anak tumbuh di ekosistem digital

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria. (IDN Times/Herka Yanis) Nezar menyebut sekitar 70 juta anak Indonesia akan tumbuh di tengah ekosistem digital yang semakin kompleks, termasuk dengan kehadiran AI. Dia mengingatkan risiko lain, seperti interaksi dengan orang asing, paparan konten tidak sesuai, ancaman terhadap data pribadi, dan kecanduan digital.
Menurut Nezar, pemerintah, platform digital, serta orang tua perlu berkolaborasi agar anak dapat menggunakan teknologi secara aman dan sehat.
2. Pemerintah andalkan PP TUNAS

Wakil Menteri Komdigi, Nezar Patria. (IDN Times/Tunggul) Pemerintah telah menghadirkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP TUNAS, sebagai landasan membangun ruang digital yang aman bagi anak.
“Kita punya tanggung jawab yang cukup besar bagaimana menjamin ruang yang aman dan sehat buat anak-anak kita itu. Itu sebabnya pemerintah membuat PP TUNAS dalam rangka membangun ruang aman dan sehat bagi anak di dalam ekosistem digital. Melindungi anak kita adalah melindungi peradaban,” kata Nezar.
3. WhatsApp perkenalkan fitur Parental Control

Ilustrasi aneka gadget. (pexels.com/Jakub Zerdzicki) Dalam kegiatan tersebut, WhatsApp memperkenalkan fitur Parental Control untuk membantu orang tua mendampingi aktivitas digital anak remaja. Fitur ini memungkinkan orang tua melihat informasi grup dan kanal yang terhubung dengan akun anak, mengatur pilihan terkait konten, serta menerima notifikasi atas perubahan tertentu pada akun.
Wakil Presiden Business Operations and External Affairs WhatsApp, Victoria Grant, mengatakan fitur itu dirancang untuk mendukung keselamatan anak tanpa mengharuskan orang tua membaca percakapan pribadi mereka.
“Dengan begitu, tidak ada pengaturan yang tiba-tiba muncul dan mengejutkan anak Anda. Anda dapat membuka dan mengatur fitur-fitur tersebut bersama-sama,” ujar Grant.
Program pengasuhan digital ini merupakan kolaborasi WhatsApp dengan Kementerian Komunikasi dan Digital, ICT Watch, serta Keluarga Kita. Setelah digelar di Jakarta, pelatihan direncanakan berlanjut ke Padang dan Cirebon.




















