4 Lampu Kuning Board of Peace, Dino Patti Djalal: Ini Berisiko bagi RI

- Dominasi Donald Trump dalam Board of Peace- Piagam tidak referensi Palestina atau Gaza- Struktur organisasi sangat tidak setara- Trump penentu segalanya.
- Trump penentu segalanya- Surat Presiden Trump kepada Perdana Menteri Kanada- Keputusan diambil bukan berdasarkan pertimbangan objektif- Bahaya bagi prinsip multilateral.
- Risiko Indonesia dimanfaatkan lewat Board of Peace- Kehadiran Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, problematik- Ketimpangan pengaruh antaranggota- Risiko kehadiran Indonesia dimanfaatkan Israel.
Jakarta, IDN Times - Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, menyampaikan analisis kebijakan terkait keanggotaan Indonesia dalam Board of Peace, sebuah inisiatif internasional yang baru ditandatangani di Davos. Dalam pernyataannya, Dino menilai pemerintah Indonesia perlu mencermati secara serius implikasi politik dan prinsip luar negeri dari keanggotaan tersebut.
Dalam video di Instagram-nya, Senin (26/1/2026), Dino mengatakan ia ingin menyampaikan empat ‘lampu kuning’ dari Board of Peace tersebut. Ia menegaskan, analisis ini penting bagi arah politik luar negeri bebas aktif Indonesia.
Menurut Dino, meskipun Board of Peace diklaim sebagai forum perdamaian global, terdapat sejumlah persoalan mendasar yang justru bertentangan dengan semangat keadilan, kesetaraan, dan kemanusiaan yang selama ini dijunjung Indonesia.
1. Dominasi Donald Trump dalam Board of Peace

Lampu kuning pertama yang disoroti Dino adalah isi piagam Board of Peace yang dinilainya bermasalah sejak awal. “Piagam Board of Peace sama sekali tidak ada referensi mengenai Palestina atau Gaza,” ungkapnya.
Hal ini dinilai membingungkan karena gagasan Board of Peace justru lahir dari rencana perdamaian Gaza. “Keagasan Board of Peace itu dilahirkan dalam 20 point plan untuk mencapai pendamaian di Gaza,” ujar Dino.
Lebih jauh, Dino menilai struktur organisasi Board of Peace sangat tidak setara. “Kalau kita lihat kata per kata, pasal demi pasal dari piagam, Board of Peace ini praktis menjadi organisasi internasional yang sepenuhnya dibentuk dan dikontrol oleh pribadi Donald Trump,” tegasnya.
Ia menjelaskan, menurut piagam tersebut, seluruh keputusan harus disetujui oleh Trump. “Semua keputusan dan agenda harus di-approve oleh Chairman Trump, dan posisinya tidak ada batas waktu, bisa seumur hidup,” kata Dino.
Ia menilai struktur tersebut sangat hierarkis dan tidak adil.
2. Trump penentu segalanya

Lampu kuning kedua berkaitan dengan surat Presiden Donald Trump kepada Perdana Menteri Kanada, Mark Carney. Dino menyebut undangan Kanada ke Board of Peace dibatalkan secara sepihak.
“Ini artinya Trump menganggap Board of Peace sebagai klub miliknya, di mana dia yang menentukan segalanya,” ujar Dino. Ia menilai keputusan tersebut diambil bukan berdasarkan pertimbangan objektif.
Menurutnya, mekanisme ini berbahaya bagi prinsip multilateral. “Semuanya berdasarkan like and dislike, berdasarkan ego, dan bukan pertimbangan objektif,” katanya.
Dino menegaskan, bahkan negara sekutu pun bisa dikeluarkan jika bersikap kritis. “Orang yang kritis terhadap Trump, bahkan sekutunya sekalipun, tidak boleh masuk,” ujarnya.
3. Risiko Indonesia dimanfaatkan lewat Board of Peace

Lampu kuning ketiga yang disoroti Dino adalah kehadiran Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam Board of Peace. “Jujurnya kita banyak merasa terusik dengan hal ini, karena yang meratakan dan menghancurkan Gaza justru Netanyahu sendiri,” kata Dino.
Ia menilai kehadiran Netanyahu sangat problematik karena Palestina justru tidak diberikan ruang. “Sementara yang menjadi korban, yaitu Palestina, tidak diberikan tempat dalam Board of Peace,” ujarnya.
Dino juga menyoroti ketimpangan pengaruh antaranggota. “Walaupun sama-sama anggota Board of Peace, pengaruh Indonesia jauh lebih kecil dibandingkan Israel,” katanya.
Ia bahkan mengingatkan potensi manipulasi. “Ada risiko kehadiran Indonesia dimanfaatkan Israel untuk meluluhkan dan memperdayai Indonesia.”
Lampu kuning keempat muncul dari rangkaian pidato dalam inaugurasi Board of Peace di Davos. “Saya tidak merasakan empati terhadap penderitaan luar biasa yang dialami Palestina dalam dua tahun terakhir,” ujar Dino.
Ia menambahkan, tidak ada penyebutan korban Gaza yang mencapai sekitar 70 ribu orang. “Bahkan kata freedom pun tidak digunakan untuk merujuk warga Palestina,” ujarnya.


















