Korut Dukung Mojtaba Khamenei Pimpin Iran, AS dan Israel Dikecam

- Korea Utara menyatakan dukungan terhadap penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran dan menegaskan penghormatan atas keputusan rakyat Iran.
- Korut mengecam keras serangan udara gabungan AS-Israel ke Teheran yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei, menyebutnya agresi ilegal yang mengancam perdamaian global.
- Donald Trump menolak pengangkatan Mojtaba, meragukan stabilitas kepemimpinan Iran, serta mengisyaratkan kemungkinan tindakan ekstrem termasuk penyitaan ladang minyak Iran.
Jakarta, IDN Times – Korea Utara (Korut) secara terbuka menyatakan menghargai keputusan Iran yang menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru. Mojtaba berusia 56 tahun dan merupakan putra mendiang Ayatollah Ali Khamenei yang wafat setelah serangan udara gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel menghantam kediamannya di Teheran pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut memicu konflik bersenjata yang masih berlangsung hingga kini.
Pernyataan resmi disampaikan juru bicara Kementerian Luar Negeri Korut melalui kantor berita pemerintah Korean Central News Agency (KCNA).
“Mengenai pengumuman resmi terbaru bahwa Majelis Ahli Iran telah memilih pemimpin baru Revolusi Islam, kami menghormati hak dan pilihan rakyat Iran untuk memilih Pemimpin Tertinggi mereka,” ujarnya pada Rabu (11/3/2026), dikutip dari Al Jazeera.
1. Korut mengecam serangan AS-Israel terhadap Iran

Korut turut melontarkan kritik keras kepada AS dan Israel atas serangan tersebut. Pemerintah di Pyongyang menyebut aksi itu sebagai agresi ilegal yang merusak fondasi perdamaian serta keamanan kawasan, sekaligus memperbesar ketidakstabilan di tingkat global.
Selain itu, Korut menilai serangan tersebut melanggar sistem politik serta integritas teritorial suatu negara. Karena itu Pyongyang menyerukan agar tindakan tersebut dikutuk oleh komunitas internasional, sebab dinilai tak dapat ditoleransi dan pantas mendapat penolakan luas di seluruh dunia. Sebelumnya, Korut juga pernah menyebut operasi militer AS-Israel di Timur Tengah sebagai perilaku seperti gangster.
2. Kim Jong Un mengawasi uji coba rudal jelajah strategis

Dilansir NDTV, Pemimpin Korut, Kim Jong Un, terlihat memantau langsung peluncuran rudal jelajah strategis dari kapal perusak terbesar negaranya, Choe Hyon. Pengujian tersebut menjadi peluncuran kedua dari kapal yang sama yang diawasi oleh Kim.
Dalam kesempatan itu, Kim menekankan pentingnya mempertahankan sekaligus memperluas kemampuan pencegah perang nuklir yang kuat dan dapat diandalkan. Ia juga menyampaikan telah tercapai kemajuan penting dalam penempatan aset serangan strategis dan taktis, serta pernah menyatakan bahwa Korut sedang mempersenjatai Angkatan Lautnya dengan senjata nuklir.
Foto resmi yang dirilis memperlihatkan Kim memantau peluncuran melalui layar video dari jarak jauh. Ia terlihat didampingi putrinya, Kim Ju Ae, yang kerap dipandang sebagai kandidat penerus kepemimpinan negara tersebut.
3. Trump mengkritik pengangkatan Mojtaba

Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyatakan ketidaksetujuannya terhadap penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran. Dalam wawancara dengan NBC News, ia menyampaikan keraguan atas keberlanjutan kepemimpinan tersebut.
“Saya tidak tahu apakah ini akan bertahan … Saya pikir mereka melakukan kesalahan,” katanya, dikutip dari TRT World.
Dalam wawancara lain dengan New York Post, Trump menyatakan dirinya tidak senang dengan keputusan tersebut dan mengatakan bahwa langkah itu seharusnya mendapat persetujuan dari pihaknya. Laporan Wall Street Journal yang mengutip pejabat AS saat ini dan mantan pejabat menyebut Trump secara pribadi mengatakan kepada para pembantunya bahwa ia terbuka untuk membunuh Mojtaba apabila pemimpin baru Iran itu menolak tuntutan AS, termasuk pembongkaran penuh program nuklir Iran. Gedung Putih menolak memberikan komentar terkait laporan tersebut.
Trump juga menyebut kemungkinan Amerika Serikat menyita ladang minyak Iran. Ia menyinggung kasus Venezuela sebagai contoh, ketika AS berhasil mengamankan lebih dari 80 juta barel minyak setelah menangkap pemimpin Nicolas Maduro pada awal tahun ini. Menurut Trump, gagasan penyitaan ladang minyak Iran memang telah dibahas banyak pihak, tetapi ia menilai masih terlalu dini untuk membicarakannya secara serius.


















