Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Iran Tuduh Serangan AS di Selat Hormuz Tewaskan 5 Warga Sipil

Iran Tuduh Serangan AS di Selat Hormuz Tewaskan 5 Warga Sipil
kapal AS membersihkan ranjau di Selat Hormuz (NAVCENT Public Affairs, Public domain, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Iran menuduh militer AS menyerang kapal sipil di Selat Hormuz hingga menewaskan lima warga, sementara AS mengklaim targetnya adalah kapal cepat Iran yang dianggap mengancam pelayaran.
  • Eskalasi konflik meluas ke UEA setelah fasilitas minyak Fujairah diserang drone dan rudal, dengan kedua pihak saling tuduh sebagai penyebab kekacauan di kawasan Teluk.
  • Presiden AS Donald Trump mengancam akan menghancurkan Iran jika menyerang kapal AS, sementara ketegangan ini membuat gencatan senjata dan stabilitas ekonomi global semakin terancam.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Iran menuduh militer Amerika Serikat (AS) telah melancarkan serangan mematikan terhadap kapal sipil di Selat Hormuz pada Senin (4/5/2026). Insiden tersebut dilaporkan telah menewaskan lima orang warga sipil.

Serangan ini merupakan bagian dari operasi militer AS yang dijuluki "Project Freedom" untuk mengamankan lalu lintas Selat Hormuz. Ketegangan terbaru dikhawatirkan akan mengancam kesepakatan gencatan senjata antara kedua negara.

1. Iran tegaskan target serangan adalah kapal sipil

kapal di Selat Hormuz
kapal di Selat Hormuz (MC2 Indra Beaufort, Public domain, via Wikimedia Commons)

Media pemerintah Iran melaporkan, kapal yang diserang bukanlah kapal milik Garda Revolusi Islam (IRGC). Kedua kapal tersebut merupakan perahu pengangkut barang dan penumpang yang berlayar dari Khasab, Oman, menuju pesisir Iran.

"Pasukan AS menyerang dua perahu kecil yang membawa warga sipil dalam perjalanan menuju pesisir Iran. AS harus dimintai pertanggungjawaban penuh atas kejahatan ini," ungkap seorang komandan militer Iran, dilansir Al Jazeera.

Tuduhan ini membantah klaim awal Komando Pusat AS (CENTCOM) yang menyatakan pasukannya telah menghancurkan enam kapal cepat Iran. Militer AS sebelumnya menuduh kapal Iran tersebut telah bermanuver mengancam keselamatan pelayaran komersial.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyayangkan insiden tersebut. Ia menegaskan, krisis politik di kawasan tidak bisa diselesaikan melalui jalur konfrontasi militer.

2. UEA laporkan fasilitas minyaknya diserang lagi

bendera Uni Emirat Arab
bendera Uni Emirat Arab (unsplash.com/Saj Shafique)

Gelombang eskalasi dengan cepat menjalar dan memicu serangan terhadap negara sekutu AS di kawasan Teluk. Uni Emirat Arab (UEA) melaporkan rentetan serangan drone dan rudal balistik telah menghantam fasilitas kilang minyak utama mereka di Fujairah.

Kebakaran besar melanda fasilitas energi krusial tersebut dan melukai tiga orang pekerja asal India. Sementara itu, sebuah kapal kargo milik Korea Selatan juga melaporkan insiden ledakan di area ruang mesin saat melintasi Selat Hormuz.

CENTCOM menuduh Iran sebagai dalang di balik kekacauan ini. Di sisi lain, otoritas Iran balik menuding operasi militer AS sebagai penyebab utama ketidakstabilan.

"Republik Islam tidak memiliki program yang direncanakan sebelumnya untuk menyerang fasilitas minyak yang disebutkan, dan apa yang terjadi adalah hasil dari aksi militer AS yang menciptakan jalur transit ilegal melalui perairan terlarang di Selat Hormuz," kata seorang pejabat Iran, dilansir Al Jazeera.

3. Trump ancam hapus Iran dari muka bumi

Presiden AS, Donald Trump
Presiden AS, Donald Trump (The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)

Presiden AS Donald Trump kembali mengancam pemerintah Iran. Ia berjanji akan menghapus Iran dari muka bumi jika mereka berani menargetkan kapal AS yang sedang beroperasi.

Militer AS mengklaim dua kapal komersial berbendera Amerika telah berhasil melewati blokade selat dengan pengawalan kapal perusak. Namun, pihak IRGC kembali membantah klaim AS.

Rangkaian bentrokan terbaru membuat masa depan gencatan senjata yang dimediasi oleh Pakistan berada di ujung tanduk. Penutupan Selat Hormuz sendiri telah memicu lonjakan harga komoditas energi global dan menumbuhkan kekhawatiran resesi ekonomi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More