ASEAN Siaga Merah, Risiko Kabut Asap Parah Mengintai pada 2026

- SIIA mengeluarkan peringatan siaga merah untuk ASEAN pada 2026 karena meningkatnya risiko kabut asap lintas batas akibat potensi cuaca kering dari fenomena El Niño.
- Laporan Haze Outlook 2026 mencatat peluang 63 persen El Niño berkembang menjadi kuat, meningkatkan ancaman kekeringan panjang di Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei.
- Peringatan siaga merah menjadi ajakan bagi pemerintah dan perusahaan agar segera mengambil langkah mitigasi guna mencegah terulangnya kabut asap parah di kawasan.
Jakarta, IDN Times - Singapore Institute of International Affairs (SIIA) mengeluarkan peringatan siaga merah atau red alert terkait potensi kabut asap lintas batas di Asia Tenggara pada 2026. Peringatan ini dikeluarkan seiring meningkatnya risiko cuaca kering akibat fenomena El Nino yang dinilai dapat memicu kebakaran lahan dan hutan.
Senior Executive, Policy and Stakeholder Engagement SIIA, Yi Jie Chua, menegaskan pihaknya tidak mengeluarkan status siaga merah secara sembarangan. Menurut dia, peringatan tersebut didasarkan pada analisis meteorologi dan rekam jejak historis kabut asap di kawasan.
“Kami tidak mengeluarkan peringatan siaga merah secara sembarangan. Kami pernah mengeluarkannya pada 2023, dan prakiraan kami cukup akurat karena memang terjadi lebih banyak kabut asap pada tahun tersebut,” kata Yi Jie Chua dalam media briefing peluncuran Haze Outlook 2026 Report, Rabu (24/6/2026).
1. El Nino akan lebih kuat dalam beberapa bulan ke depan

Dia menjelaskan, kondisi cuaca saat ini menunjukkan El Nino sudah mulai terjadi dan berpotensi berkembang menjadi lebih kuat dalam beberapa bulan ke depan. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap musim kabut asap yang lebih buruk di kawasan ASEAN.
“Sebagai kesimpulan, prakiraan cuaca memperjelas bahwa El Nino telah tiba, dan El Nino yang parah sangat mungkin terjadi,” ujarnya.
2. Risiko kekeringan akan meningkat

Menurut laporan tersebut, saat ini terdapat peluang sebesar 63 persen bahwa El Nino akan berkembang menjadi fenomena kuat. Jika skenario ini terjadi, risiko kekeringan berkepanjangan pada musim kemarau akan meningkat, terutama di wilayah Asia Tenggara bagian selatan, termasuk Indonesia, Malaysia, Singapore, dan Brunei.
“Tahun ini, El Nino sudah ada, dan terdapat peluang 63 persen bahwa fenomena ini akan berkembang menjadi peristiwa yang kuat,” ujar Yi Jie.
3. Peringatan sebagai seruan untuk pemerintah

SIIA mencatat 2026 menjadi tahun kedua sejak laporan Haze Outlook diterbitkan pada 2019 yang mendapatkan status siaga merah. Sebelumnya, peringatan serupa juga diberikan pada 2023, sementara pada 2024 status risiko berada di level hijau dan 2025 di level amber atau sedang.
Meski demikian, Yi Jie menegaskan status siaga merah bukan berarti kabut asap parah pasti terjadi. Menurut dia, peringatan ini justru merupakan seruan agar pemerintah dan perusahaan segera melakukan langkah mitigasi.
“Ya, penilaian merah berarti kondisi meteorologi sangat mendukung terjadinya kabut asap yang parah. Jika pemerintah dan perusahaan segera mengambil langkah mitigasi yang proaktif, kita dapat mencegah skenario terburuk,” ujarnya.



















