- Pertama, bagaimana kita dapat menemukan kemakmuran di tengah pergeseran realitas perdagangan dan industri?
- Kedua, bagaimana kita dapat memahami fase selanjutnya dari lintasan ekonomi Tiongkok?
- Ketiga, bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk hasil dalam ekonomi riil?
- Keempat, bagaimana pertumbuhan dapat menciptakan lapangan kerja dan peluang bagi generasi mendatang?
- Kelima, bagaimana transisi energi dan iklim dapat menjadi sumber daya saing?
Potret WEF ke-17 Dalian, Bagaimana Ubah Inovasi Jadi Peluang Bisnis

- Forum Ekonomi Dunia ke-17 di Dalian, China, mempertemukan 1.500 pemimpin global untuk membahas cara mengubah inovasi dan teknologi menjadi pertumbuhan ekonomi serta peluang bisnis baru.
- Tema 'Innovating at Scale' menyoroti pentingnya kolaborasi antara sektor publik dan swasta guna mempercepat adopsi teknologi, memperkuat rantai pasokan, dan menciptakan kemakmuran bersama.
- Asia dipandang berperan besar dalam inovasi global, dengan tokoh-tokoh Indonesia seperti Anindya Bakrie dan Mangkoenagoro X turut hadir sebagai pembicara di ajang bergengsi ini.
Dalian, IDN Times - World Economic Forum menggelar Pertemuan Tahunan ke-17 di Dalian, China. Pertemuan tiga hari ini, 23-26 Juni 2026 diikuti 1.500 pemimpin dunia bisnis, pemerintahan, masyarakat sipil, dan akademisi, serta para inovator terkemuka dan pemimpin media.
Pertemuan ini mengusung tema “Innovating at Scale" fokus pada bagaimana institusi yang lebih kuat, peningkatan aliran modal, dan kebijakan yang berwawasan ke depan dapat mengubah inovasi dan potensi teknologi menjadi kemajuan ekonomi, lapangan kerja, dan peluang bisnis baru. Ini disadari, karena meski ekonomi global pada 2026 diproyeksikan hanya tumbuh 3,3 persen, pasar negara berkembang tumbuh hampir tiga kali lebih cepat daripada ekonomi negara maju.
“Untuk berinovasi dalam skala besar, kita membutuhkan model bisnis dan investasi yang fleksibel yang memberikan hasil yang luas bagi masyarakat,” kata Mirek Dušek, Direktur Pelaksana dan Anggota Dewan Pengelola, Forum Ekonomi Dunia.
“Ini membutuhkan kolaborasi yang lebih erat antara perusahaan, pengusaha, investor, dan pemerintah untuk mempercepat adopsi teknologi, memperkuat rantai pasokan, dan menerjemahkan inovasi menjadi pertumbuhan nyata dan kemakmuran bersama,” dia menambahkan.
Program pertemuan akan disusun berdasarkan lima pertanyaan kunci, di mana inovasi, kewirausahaan, dan kerja sama publik-swasta sangat penting:
Dusek menjelaskan, pertanyaan-pertanyaan ini berpusat pada inovasi, kewirausahaan, dan kerja sama publik-swasta, dan merupakan kunci untuk mengubah gangguan menjadi peluang sekaligus memicu kebijakan dan pendekatan baru untuk mendorong pertumbuhan.
Kenapa Asia? Menurut Gim Huay Neo, Direktur Pelaksana, Anggota Dewan Pengelola, Forum Ekonomi Dunia, Asia memainkan peran yang semakin penting dalam inovasi dan pertumbuhan global. “Dari manufaktur canggih hingga teknologi baru, para pengusaha dan perusahaan di kawasan ini membantu mengubah ide-ide baru menjadi peluang ekonomi nyata," kata dia.
Beberapa tokoh dari Indonesia menjadi narasumber dalam pertemuan ini. Berikut suasananya.
1. Pengusaha Indonesia yang juga pengurus KADIN, Anindya Bakrie, menjadi salah satu pembicara di WEF ke-17 Dalian

2. Robot dilibatkan dalam kegiatan WEF ke -17 Dalian sebagai barista

3. WEF Dalian yang diselenggarakan setiap tahun, secara informal dikenal sebagai “Davos Musim Panas”

4. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkoenagoro X menjadi salah satu pembicara dalam WEF

5. Salah satu topik yang dibahas dalam WEF adalah bagaimana pertumbuhan dapat menciptakan lapangan kerja

6. COO IDN William Utomo hadir dalam WEF ke-17 Dalian

7. Adopsi teknologi membutuhkan kolaborasi yang lebih erat antara pengusaha, perusahaan dan pihak terkait

















