"Kurangi durasi latsarmil manajer KDKMP! Mereka sipil, bukan militer! Bahkan, sampai ada yang meninggal," tulis warganet di dunia maya.
YLBHI Sebut Calon Manajer Kopdes Digembleng Militer Bentuk Penyimpangan

- Ketua YLBHI, Muhammad Isnur, menilai pelibatan TNI dalam pelatihan calon manajer Koperasi Desa Merah Putih sebagai penyimpangan karena fungsi militer tidak relevan dengan pengelolaan koperasi sipil.
- Dua peserta SPPI, Anisa Muyassaroh dan Yonanda Muhammad Taufiq, meninggal dunia saat mengikuti latihan dasar militer akibat heat stroke dan henti jantung meski telah lolos tes kesehatan sebelumnya.
- Kemhan menyatakan pelatihan dasar militer berlangsung sebulan sebelum peserta mengikuti pelatihan manajerial 15 hari untuk mempersiapkan 35.476 calon pengelola Koperasi Desa dan Kampung Nelayan Merah Putih.
Jakarta, IDN Times - Ketua Umum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Muhammad Isnur, mengkritisi keterlibatan TNI dalam proses seleksi dan pelatihan program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI). Sebab, fungsi militer tidak dibutuhkan bagi individu yang akan dijadikan calon manajer untuk Koperasi Desa Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih. Apalagi, dua peserta pada pekan lalu meninggal dunia saat mengikuti latihan dasar militer.
"Ini jelas sekali kekeliruan dan penyimpangan ketika Kementerian Pertahanan (Kemhan) memberikan pelatihan militer bagi calon manajer Koperasi Desa atau Kelurahan Merah Putih. Kemhan seharusnya fokus pada urusan pertahanan, bukan ngurusin isu seleksi manajer koperasi. Jadi ini jelas sekali penyimpangan dari tugas-tugas TNI yang diamankan di dalam Undang-Undang TNI," ujar Isnur ketika dihubungi IDN Times, melalui telepon, Rabu (24/6/2026).
Isnur menilai tidak relevan ketika TNI ikut terlibat dalam pelatihan calon manajer Koperasi Desa Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih. Seharusnya warga sipil yang memahami tata kelola koperasi yang memberikan pelatihan bagi lulusan SPPI tersebut.
"Ini jelas juga kesalahan dalam pendidikan. Calon manajer itu seharusnya diberikan ilmu mengenai tata kelola manajerial dan retail. Apalagi kini dua peserta didik meninggal. Ini merupakan praktik dari rezim militeristik dan berbahaya bagi nyawa orang lain," tutur dia.
1. Dua peserta SPPI meninggal dunia di satuan pendidikan militer TNI yang berbeda

Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemhan, Brigjen TNI Rico Sirait, menjelaskan dua peserta SPPI yang meninggal dunia diketahui bernama Anisa Muyassaroh dan Yonanda Muhammad Taufiq. Keduanya sempat diberi bantuan medis tahap awal sebelum dirujuk ke rumah sakit.
"Peserta atas nama Anisa Muyassaroh meninggal ketika mengikuti pendidikan di Satdik Dodikjur Rindam VI/Mulawarman, Balikpapan pada Kamis, 18 Juni 2026. Berdasarkan keterangan medis, yang bersangkutan dinyatakan meninggal dunia akibat heat stroke," ujar Rico dalam keterangan tertulis, Selasa, 23 Juni 2026.
Sedangkan Yonanda Muhammad Taufiq, kata Rico, meninggal ketika mengikuti pendidikan latihan dasar militer di satuan pendidikan Puslatpur Kodiklatad Baturaja, Sumatra Selatan. Berdasarkan keterangan medis, Yonanda meninggal karena cardiac arrest (henti jantung).
Meninggalnya dua peserta SPPI menjadi sorotan warganet di media sosial. Bahkan, ada yang memprotes metode pelatihan calon manajer Koperasi Desa Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih itu.
"Lagian, mau buka toko kok pake wamil segala, ilmu wamilnya emang mau dipake untuk apa? Udah aja si fokus ke manajemen aja," kata warganet lainnya.
2. Peserta SPPI yang meninggal sudah lolos tes kesehatan

Lebih lanjut, kata Rico, dua peserta SPPI yang meninggal itu sudah mengikuti tes kesehatan. Keduanya dinyatakan memenuhi persyaratan mengikuti rangkaian pendidikan. Pendidikan latihan dasar militer berlangsung selama satu bulan dan digelar di satuan pendidikan TNI di seluruh wilayah Indonesia.
Ketika IDN Times menegaskan pendidikan latihan dasar militer jenis apa yang sedang dijalani Yonanda dan Anisa hingga kondisi kesehatannya menurun, Rico tak merespons. Jenderal bintang satu itu hanya mengatakan, Kemhan menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya Yonanda dan Anisa.
"Kemhan bersama TNI telah memberikan pendampingan kepada keluarga kedua peserta, serta memastikan seluruh proses penanganan dilaksanakan sesuai prosedur yang berlaku," katanya.
Rico menegaskan keselamatan dan kesehatan peserta latihan dasar militer merupakan prioritas utama dalam penyelenggaraan program ini. "Setiap masukan, evaluasi dan pembelajaran dari pelaksanaan kegiatan akan menjadi dasar penyempurnaan program ke depan, agar berlangsung semakin baik, aman, profesional dan akuntabel," imbuhnya.
3. Calon manajer akan mendapat pelatihan manajerial usai ikut latsar militer

Rico juga menjelaskan usai menuntaskan latihan dasar militer 30 hari, calon manajer masih akan mengikuti pelatihan manajerial selama 15 hari. "Selama itu, mereka akan mempersiapkan tugasnya sebagai pengelola koperasi desa atau kelurahan merah putih maupun kampung nelayan merah putih," tutur dia.
Mantan Dandim di Bekasi itu mengatakan berdasarkan perencanaan saat ini, ada 35.476 orang yang mengikuti pelatihan. Sebanyak 30 ribu merupakan calon pengelola Koperasi Desa Merah Putih dan 5.476 orang merupakan calon pengelola Kampung Nelayan Merah Putih.
Meski program latihan dasar dimulai pada Selasa, 16 Juni 2026, tetapi calon manajer Koperasi Desa Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih harus sudah tiba di barak militer pada Minggu, 14 Juni 2026.


















