Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Badai Musim Dingin Lumpuhkan 2 Pertiga Wilayah Amerika Serikat

ilustrasi badai musim dingin
ilustrasi badai musim dingin (pexels.com/Momo)
Intinya sih...
  • Badai musim dingin melumpuhkan 2/3 wilayah AS.
  • Sistem badai luas dipicu gangguan polar vortex, lapisan es tebal memperparah risiko infrastruktur dan lalu lintas.
  • Korban jiwa bertambah saat status darurat meluas, badai diperkirakan bergerak ke timur laut menuju Maritimes Kanada.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Badai musim dingin yang menyapu sebagian besar wilayah Amerika Serikat (AS), memicu ancaman serius bagi keselamatan warga dari Texas hingga New England. Dampaknya meluas, mulai dari pemadaman listrik massal hingga gangguan besar pada sektor transportasi udara.

Hingga Minggu (25/1/2026) sore, lebih dari satu juta rumah tangga masih tanpa aliran listrik dengan Tennessee menjadi wilayah paling terdampak, termasuk lebih dari 200 ribu pemadaman di Nashville dan sekitarnya. Gangguan serupa juga terjadi di Mississippi, Texas, Louisiana, Kentucky, Georgia, Virginia, serta Alabama, sementara lebih dari 10 ribu penerbangan dibatalkan.

1. Sistem badai luas dipicu gangguan polar vortex

ilustrasi badai salju (pexels.com/Amel Uzunovic)
ilustrasi badai salju (pexels.com/Amel Uzunovic)

Badan Cuaca Nasional Amerika Serikat (NWS) menyatakan badai mulai memengaruhi sekitar dua pertiga wilayah timur AS sejak Minggu (25/1/2026) dan diperkirakan berlanjut hingga pekan depan. Salju lebat tercatat turun dari Lembah Ohio hingga Timur Laut, sementara lapisan es tebal menutup Lembah Mississippi Bawah, Mid-Atlantic, dan kawasan Tenggara, dengan sekitar 213 juta orang berada dalam berbagai peringatan cuaca musim dingin.

Dalam penjelasannya, meteorolog NWS Allison Santorelli menyoroti skala badai yang jarang terjadi dan cakupan wilayah yang sangat luas.

“Badai ini memengaruhi wilayah dari New Mexico, Texas, hingga ke New England, jadi kita berbicara tentang penyebaran sekitar 2 ribu mil [3.220 km],” kata Santorelli, dikutip dari Al Jazeera.

Ia juga menjelaskan bahwa lapisan salju dan es akan mencair dengan sangat lambat sehingga tak akan hilang dalam waktu dekat, kondisi yang berpotensi menghambat proses pemulihan di banyak daerah.

Fenomena ini berawal dari polar vortex yang melemah dan meregang, memungkinkan udara dingin Arktik bergerak jauh ke selatan. Ketika massa udara tersebut bertemu aliran udara hangat dari selatan, terbentuk sistem badai yang sangat kuat, sementara sejumlah pakar mengaitkan kejadian serupa yang kian sering dengan perubahan iklim dan kenaikan suhu permukaan laut.

2. Lapisan es tebal memperparah risiko infrastruktur dan lalu lintas

ilustrasi rambu lalu lintas tertutup salju
ilustrasi rambu lalu lintas tertutup salju (pexels.com/Valentin Ivantsov)

Akumulasi es menjadi ancaman paling berbahaya karena mampu merobohkan tiang listrik, mematahkan pepohonan, serta membuat jalan raya tak bisa dilalui atau sangat licin. Pada peristiwa ini, ketebalan es di beberapa negara bagian bahkan melampaui perkiraan awal.

Di wilayah selatan yang jarang menghadapi cuaca seekstrem ini, suhu anjlok 15-20 derajat Celsius di bawah rata-rata musiman, disertai hujan beku yang membentuk es setebal hingga satu inci. Pejabat setempat mengingatkan bahwa siklus mencair di siang hari lalu membeku kembali pada malam hari akan terus menimbulkan risiko serius bagi keselamatan lalu lintas dan infrastruktur.

3. Korban jiwa bertambah saat status darurat meluas

ilustrasi hujan salju (pexels.com/Zeeshaan Shabbir)
ilustrasi hujan salju (pexels.com/Zeeshaan Shabbir)

Sedikitnya tiga orang dilaporkan meninggal dunia akibat badai ini, terdiri dari dua korban hipotermia di Caddo Parish, Louisiana, kawasan Shreveport, serta satu orang yang terpapar dingin ekstrem di Austin, Texas. Di Kota New York, Wali Kota Zohran Mamdani menyebut sedikitnya lima kematian sedang diselidiki penyebabnya dan mengingatkan bahwa cuaca dingin setiap tahun merenggut nyawa warga.

Presiden AS Donald Trump menyebut badai tersebut sebagai peristiwa bersejarah dan menyetujui deklarasi bencana darurat federal untuk hampir 20 negara bagian serta Distrik Columbia.

“Kami akan terus memantau, dan tetap berhubungan dengan semua Negara bagian yang berada di jalur badai ini. Tetap Aman, dan Tetap Hangat,” tulis Trump melalui Truth Social.

Seiring itu, hampir separuh negara bagian AS bersama Distrik Columbia telah menetapkan status darurat cuaca.

“Kami sedang mengalami badai salju terbesar dalam satu dekade di DC akhir pekan ini,” kata Wali Kota Washington Muriel Bowser, dikutip dari BBC.

Badan Manajemen Darurat Federal (FEMA) menyatakan telah menyiapkan logistik, personel, serta tim pencarian dan penyelamatan di wilayah terdampak. Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem juga mengimbau warga agar bersiap menghadapi cuaca ekstrem.

“Ini akan sangat, sangat dingin. Jadi kami mendorong semua orang untuk menimbun bahan bakar, menimbun makanan, dan kami akan melewati ini bersama,” katanya, sembari memastikan tim utilitas bekerja memulihkan pasokan listrik secepat mungkin.

Departemen Energi AS mengeluarkan perintah darurat yang mengizinkan operator jaringan PJM Interconnection memanfaatkan sumber daya tertentu di kawasan mid-Atlantic dengan mengesampingkan sejumlah regulasi negara bagian dan ketentuan izin lingkungan. Udara dingin yang mengancam nyawa diperkirakan bertahan hingga sepekan setelah badai berlalu, terutama di Northern Plains dan Upper Midwest, dengan wind chill turun di bawah minus 50 derajat Fahrenheit atau sekitar minus 45 derajat Celsius.

Maskapai penerbangan besar mengingatkan penumpang untuk bersiap menghadapi perubahan jadwal mendadak dan pembatalan penerbangan, sementara FlightAware mencatat lebih dari 10 ribu penerbangan dibatalkan dan ribuan lainnya tertunda. Sekolah-sekolah di daerah terdampak meniadakan kegiatan belajar, Senat AS menunda agenda pemungutan suara, dan badai diperkirakan bergerak ke timur laut menuju Maritimes Kanada meski udara dingin berbahaya masih mendominasi hingga awal bulan depan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More

Badai Musim Dingin Lumpuhkan 2 Pertiga Wilayah Amerika Serikat

27 Jan 2026, 01:09 WIBNews