Penemuan Mayat Dimutilasi di Turki Picu Aksi Protes di Seluruh Negeri

- Penemuan mayat perempuan Uzbekistan tanpa kepala dan kaki di kontainer sampah Istanbul memicu kemarahan publik dan protes kelompok perempuan.
- Polisi menangkap tiga warga Uzbekistan terkait kasus mutilasi, dengan bukti rekaman CCTV yang menghubungkan para tersangka dengan kejadian pembunuhan brutal.
- Kasus mutilasi perempuan ini memicu aksi protes luas dari kelompok hak perempuan di Turki, menuntut penegakan hukum yang memadai atas gelombang femisida dan kekerasan berbasis gender.
Jakarta, IDN Times - Penemuan mayat seorang perempuan tanpa kepala dan tanpa kedua kaki di dalam kontainer sampah di Distrik Sisli, Istanbul, memicu kemarahan publik dan gelombang protes dari kelompok perempuan di seluruh Turki. Jasad tersebut ditemukan pada Sabtu malam (24/1/2025), oleh seorang pemulung, terbungkus seprai di antara tumpukan sampah.
Kasus ini segera memicu kecemasan baru di tengah meningkatnya angka femisida, pembunuhan terhadap perempuan karena gender, yang selama beberapa tahun terakhir menjadi isu serius di Turki. Polisi masih menyelidiki identitas korban serta kemungkinan adanya unsur kekerasan domestik dalam kasus tersebut.
1. Polisi temukan jasad perempuan Uzbekistan dimutilasi dalam kontainer sampah di Istanbul
Jasad seorang perempuan berkewarganegaraan Uzbekistan berusia 37 tahun ditemukan dalam kondisi termutilasi di sebuah kontainer sampah di kawasan Duatepe, Distrik Sisli, Istanbul. Penemuan tersebut terjadi sekitar pukul 20.45 waktu setempat ketika seorang pemulung yang mencari barang daur ulang menemukan tubuh korban terbungkus seprai tanpa kepala dan kedua kaki. Polisi segera menyimpulkan bahwa kejadian ini merupakan kasus dugaan pembunuhan brutal.
Begitu laporan diterima, aparat kepolisian tiba di lokasi dan langsung memasang garis polisi serta menutup akses di sekitar area penemuan. Tim forensik dan unit identifikasi melakukan pemeriksaan intensif, termasuk menggeledah sejumlah kontainer sampah di area sekitar untuk mencari bagian tubuh korban yang belum ditemukan.
2. Tiga warga Uzbekistan ditangkap terkait kasus mutilasi perempuan di Istanbul
Polisi Turki menangkap tiga warga negara Uzbekistan yang diduga terlibat dalam kasus pembunuhan dan mutilasi. Dua di antara mereka ditahan di Bandara Istanbul hanya beberapa jam setelah jasad korban ditemukan, saat keduanya diduga berupaya meninggalkan Turki menuju luar negeri. Seorang tersangka lainnya kemudian ditangkap dalam operasi lanjutan, sehingga total tiga orang diamankan untuk penyelidikan awal.
Upaya pengungkapan kasus ini berawal dari penelusuran rekaman kamera pengawas (CCTV) di sekitar lokasi penemuan jasad. Rekaman memperlihatkan dua pria yang terlihat membuang sebuah koper di kontainer sampah lain di kawasan berbeda di Istanbul. Meski isi koper tersebut belum diumumkan kepada publik, rekaman itu menjadi bukti penting yang menghubungkan para tersangka dengan kejadian pembunuhan brutal tersebut.
Polisi kini menelusuri ratusan rekaman CCTV di berbagai titik kota untuk memetakan pergerakan para tersangka sebelum dan sesudah pembuangan jasad korban.
3. Kasus mutilasi perempuan picu aksi protes dan kecaman atas maraknya femisida di Turki
Kasus pembunuhan dan mutilasi ini memicu kemarahan luas dari kelompok hak perempuan di Turki. Mereka menilai insiden tersebut sebagai bagian dari pola kekerasan fatal terhadap perempuan yang terus berulang tanpa penegakan hukum yang memadai.
Sejumlah organisasi perempuan menyerukan aksi protes di Istanbul dan Ankara pada Minggu (25/1/2026), pukul 16.00 waktu setempat. Aksi ini digagas untuk menuntut tindakan tegas negara dalam menangani gelombang femisida dan kekerasan berbasis gender yang meningkat.
Kelompok Feminists Against Femicide menyatakan di platform X bahwa mereka akan membawa kemarahan ke jalan sebagai bentuk penolakan terhadap kekerasan pada perempuan.
“Kami belum tahu nama perempuan yang dibunuh itu, tapi kami tahu kejahatan ini adalah hasil dari kekerasan laki-laki,” tulis kelompok tersebut, dikutip The Straits Times.
Menurut data organisasi We Will Stop Femicides, sepanjang 2025 sedikitnya 294 perempuan dibunuh oleh laki-laki di Turki, sementara 297 lainnya ditemukan meninggal dalam kondisi yang dikategorikan sebagai kematian mencurigakan. Laporan tersebut menyoroti minimnya data resmi dari pemerintah, sehingga upaya pencatatan bergantung pada pemantauan media dan aktivitas organisasi masyarakat sipil.
Para aktivis menilai kasus di Sisli ini mencerminkan kegagalan sistemik dalam melindungi perempuan baik di ruang publik maupun domestik. Wali Kota Sisli yang kini dipenjara, Resul Emrah Sahan, turut mengkritik lemahnya penegakan hukum di Turki.
“Pembunuhan perempuan telah berubah menjadi pembantaian yang terus meluas akibat impunitas, kelalaian, dan sikap diam,” tulisnya di media sosial, dikutip The Sun.


















