Damai AS-Iran Disambut Dunia, Harga Minyak Brent Langsung Anjlok

- AS dan Iran sepakat akhiri konflik Timur Tengah, mencabut blokade serta sanksi minyak, sementara Iran berjanji membuka kembali Selat Hormuz dalam 30 hari.
- Harga minyak dunia langsung turun usai pengumuman damai, dengan Brent merosot 4 persen dan WTI jatuh hampir 5 persen akibat meredanya ketegangan energi global.
- Negara Eropa dan pemimpin dunia menyambut positif kesepakatan ini, memuji peran mediator seperti Pakistan dan Qatar serta menekankan pentingnya stabilitas kawasan.
Jakarta, IDN Times – Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik Timur Tengah yang berlangsung lebih dari tiga bulan. Kesepakatan yang dicapai pada Minggu (14/6/2026) itu menjadi langkah penting bagi pemulihan ekonomi global. Upacara penandatanganan resmi dijadwalkan berlangsung di Swiss pada Jumat (19/6/2026), sekaligus memulai tenggat 60 hari untuk pembicaraan lanjutan terkait program nuklir Iran.
Presiden AS Donald Trump mengumumkan pencabutan blokade angkatan laut negaranya. Draf memorandum setebal 14 halaman yang belum dirilis sepenuhnya juga memuat penghapusan sanksi minyak terhadap Iran. Sebagai imbalannya, Iran berjanji membuka kembali Selat Hormuz dalam 30 hari agar pelayaran global dapat berlangsung tanpa pembatasan.
Konflik yang dimulai sejak akhir Februari sebelumnya mengguncang pasar energi dan memunculkan kekhawatiran resesi. Setelah pengumuman tersebut, harga minyak Brent crude turun 4 persen menjadi 83 dolar AS per barel (setara Rp1,47 juta), sedangkan West Texas Intermediate (WTI) merosot 4,8 persen ke 80,8 dolar AS per barel (setara Rp1,42 juta).
1. Negara E4 mendorong pelaksanaan kesepakatan

Kelompok E4 yang beranggotakan Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia meminta agar implementasi kesepakatan dapat berjalan cepat. Dalam pernyataan bersama, mereka menyampaikan bahwa pembukaan Selat Hormuz tanpa syarat merupakan hal yang penting dan kembali mengingatkan bahwa Iran tak boleh memiliki senjata nuklir. E4 juga menyatakan kesiapan bekerja sama dengan AS, Iran, dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dalam mengawal proses tersebut.
Para pemimpin Eropa memberikan apresiasi kepada Pakistan, Qatar, dan mediator lainnya yang membantu tercapainya terobosan diplomatik ini. E4 menyatakan siap mencabut sanksi terkait apabila Iran memperlihatkan langkah nyata yang bisa diverifikasi pada program nuklirnya. Selain itu, mereka kembali menyuarakan dukungan terhadap stabilitas, kedaulatan, dan gencatan senjata yang kuat di Lebanon.
2. Sejumlah pemimpin dunia menyambut kesepakatan
Perdana Menteri (PM) Pakistan Shehbaz Sharif menyampaikan bahwa kesepakatan tersebut menetapkan penghentian perang secara langsung dan permanen. PM Inggris Keir Starmer juga menyambut perkembangan ini sebagai langkah maju yang penting serta menekankan pentingnya Selat Hormuz tetap terbuka secara permanen. Dari Asia, PM Jepang Sanae Takaichi memandang kesepakatan tersebut sebagai kemajuan besar dalam penyelesaian situasi di Timur Tengah.
Takaichi menyampaikan harapannya terhadap implementasi memorandum tersebut.
“Kami sangat berharap bahwa memorandum ini akan terus dilaksanakan, bahwa navigasi yang bebas dan aman di Selat Hormuz akan benar-benar dipastikan, dan bahwa kesepakatan akhir tentang masalah nuklir Iran dan hal-hal lainnya akan direalisasikan pada tanggal sedini mungkin,” tulisnya lewat X, dikutip CNBC.
3. Para mediator memperoleh apresiasi internasional

Keberhasilan diplomasi ini turut didukung kerja sama sejumlah pihak di belakang layar. PM Qatar Mohammed bin Abdulrahman secara khusus menyampaikan terima kasih atas peran Pakistan dan Doha dalam proses mediasi utama. Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, juga menilai kesepakatan tersebut sebagai tonggak penting bagi perdamaian jangka panjang di kawasan serta berharap negosiasi lanjutan dapat berlangsung secara konstruktif.
Dilansir The National, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres turut menyambut baik hasil yang dicapai tersebut. Ia menilai pencapaian ini menjadi langkah penting untuk mengakhiri perang di Timur Tengah. Guterres juga mendorong seluruh pihak terkait memanfaatkan momentum baru demi mewujudkan penyelesaian konflik secara final.


















