Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Dokter di India Keluarkan 80 Kg Limbah Plastik dari Perut Sapi

Dokter di India Keluarkan 80 Kg Limbah Plastik dari Perut Sapi
Default Image IDN

New Delhi, IDN Times - Hampir semua orang tahu, sapi adalah binatang herbivora alias pemakan rumput. Terlebih bila rumputnya masih segar dan berwarna hijau. Namun, sapi-sapi yang ada di India ini berbeda dari sapi kebanyakan.

Betapa tidak. Kawanan sapi ini terbiasa mengonsumsi plastik. Ironis dan menyedihkan. Bagaimana ceritanya?

1. Dibiarkan pemiliknya, sapi-sapi ini memakan sampah plastik

indiatimes.com
indiatimes.com

Pemilik sapi di wilayah Hanuman Nagar, Patna Selatan, India ini benar-benar tidak berperikehewanan untuk tidak menyebut biadab. Betapa tidak, untuk menghindari pengeluaran uang guna memberi makan, dia membiarkan sapi-sapinya memakan apa saja di sekitarnya.

Sapi-sapi yang ditinggalkan pemiliknya tersebut akhirnya memakan apa saja. Termasuk sampah makanan yang sebagian besar terbungkus sampah plastik di jalanan. Sampah plastik itu ikut dikonsumsi sapi, seperti dikutip dari Indiatimes.com

Sapi-sapi ini tidak bisa membedakan antara sampah makanan dan plastik di tempat pembuangan sampah. Hewan-hewan malang ini seringkali mengonsumsi sampah plastik yang tidak dapat dicerna dan ternyata beracun di dalamnya. Dalam beberapa kasus, sampah beracun tersebut menyebabkan kematian.

 

2. Operasinya memakan waktu tiga jam

hindustantimes.com
hindustantimes.com

Tengah pekan lalu, sekelompok dokter dari Biha Veterinary di Patna, India, melakukan operasi pada seekor sapi yang berusia enam tahun. Hasilnya sungguh mencengangkan.

Dikutip dari Hindustantimes, dalam kasus operasi tersebut, tim dokter berhasil mengeluarkan 80 kg sampah plastik dari perut sapi. Seluruh proses operasi tersebut memakan waktu lebih dari tiga jam untuk menyelesaikannya.

Doktor GD Singh, asisten profesor di departemen bedah dan radiologi di perguruan tinggi yang memimpin tim operasi tersebut mengatakan, kasus operasi tersebut adalah yang pertama dalam karier profesionalnya sebagai dokter.

"Ini adalah kasus pertama dalam 13 tahun praktik profesional saya saat kami membuang lebih dari 80 kg limbah polietilen (Plastik) dari perut sapi", ujar Dr GD Singh.

3. Limbah plastik jadi "pembunuh" sapi di India, pemerintah anggap ini isu serius

indiatimes.com
indiatimes.com

Selama bertahun-tahun, plastik telah muncul sebagai alasan utama di balik kematian banyak sapi dan hewan di India. Satu alasan terbesar di balik itu adalah orang-orang yang membuang sampah makanan di dalam kantong plastik.

"Saat membuang sampah, banyak orang memasukkan kulit sayur, kotoran dan sebagainya ke dalam plastik kemudian membuangnya," ujar Vineet Arora, kepala pengobatan Society for Prevention of Cruelty to Animals.

Di beberapa kota besar di India, pemilik biasanya membiarkan ternak mereka untuk merumput dengan bebas. Ada banyak yang mencari makan di sekitar tempat. Sapi menelan makanan dan membawanya kembali ke mulut untuk mengunyahnya sebelum mengirimnya ke perut, yang memiliki empat bilik.

Plastik yang tersimpan di perut menyebabkan lambatnya penyerapan nutrisi dan komplikasi lainnya yang bisa menyebabkan kematian hewan tersebut.

Pemerintah setempat telah berencana untuk mengatasi bahaya yang ditimbulkan oleh limbah plastik dengan lebih serius. Menteri Lingkungan India, Harsh Vardhan dalam konferensi pers pekan lalu menyebut akan mengakhiri ancaman plastik.

Apalagi, India akan menjadi tuan rumah Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2018 dengan fokus pada polusi plastik. "Termasuk untuk kesehatan hewan, terutama sapi dan lainnya. Begitu banyak plastik ditemukan di perut mereka, sangat sulit bagi mereka," ujar Hars Vardhan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Topics
Editorial Team
Hadi Santoso
EditorHadi Santoso
Follow Us

Latest in News

See More

Jepang Mulai Operasikan Rudal Jarak Jauh di Dua Pangkalan Militer

04 Apr 2026, 10:09 WIBNews