Jepang Mulai Operasikan Rudal Jarak Jauh di Dua Pangkalan Militer

- Jepang mulai mengoperasikan rudal jarak jauh di Kamp Kengun dan Kamp Fuji, menandai perubahan besar dari kebijakan pertahanan pasif menuju kemampuan serangan balasan.
- Pemerintah memperkuat kemampuan militer dengan teknologi AS dan Norwegia, termasuk rudal Tomahawk dan Joint Strike Missile, di bawah Komando Operasi Gabungan baru.
- Kebijakan ini memicu protes warga lokal yang khawatir terhadap risiko hukum internasional dan potensi ancaman bagi keselamatan daerah padat penduduk.
Jakarta, IDNTimes - Jepang resmi memulai operasional rudal jarak jauh dengan kemampuan counterstrike atau serangan balik di dua pangkalan Pasukan Bela Diri Darat (GSDF) pada Selasa (31/3/2026).
Langkah ini menandai pergeseran perubahan signifikan dari kebijakan pertahanan pasca Perang Dunia II, yang sebelumnya hanya berorientasi pada pertahanan diri semata menuju kemampuan serangan balasan, di tengah meningkatnya ketegangan kawasan. Hal ini merujuk pada meningkatnya konflik dengan China, dilansir Kyodo News.
1. Rudal jarak jauh dikerahkan di Kamp Kengun dan Kamp Fuji
Kementerian pertahanan mengonfirmasi bahwa dua instalasi militer utama kini telah dilengkapi persenjataan canggih. Pengerahan strategis tersebut berada di Kamp Kengun, Prefektur Kumamoto, yang dilengkapi rudal permukaan-ke-kapal Tipe 12 yang telah ditingkatkan dengan jangkauan sekitar 1.000 km. Rudal tersebut mampu menjangkau garis pantai benua Asia dari wilayah Kyushu.
Instalasi militer lainnya adalah Kamp Fuji di Prefektur Shizuoka, yang dilengkapi proyektil luncur berkecepatan tinggi (HVGP) untuk pertahanan pulau terpencil. Unit ini akan menjadi pusat pelatihan sebelum pengerahan di pangkalan, yakni ke Kamp Kamifurano di Hokkaido dan Kamp Ebino di Miyazaki pada tahun fiskal 2026.
Menteri Pertahanan Shinjiro Koizumi menegaskan bahwa langkah ini penting untuk memperkuat deterrence Jepang di tengah lingkungan keamanan yang paling berat dan kompleks di era pascaperang.
2. Ekspansi kemampuan serang Jepang
Selain rudal domestik, Jepang mempercepat penguatan militer melalui teknologi Amerika Serikat (AS) dan Norwegia. Kapal perusak Chokai milik Pasukan Bela Diri Maritim (MSDF), yang dilengkapi dengan teknologi Aegis, kini mampu meluncurkan rudal jelajah Tomahawk buatan AS dengan jangkauan 1.600 km.
Sementara itu, jet tempur siluman F-35A mulai menerima pasokan Joint Strike Missile buatan Norwegia, sebuah rudal jelajah yang memiliki jangkauan sekitar 500 km. Langkah ini menandai dimulainya fase operasional penuh dari kemampuan serangan balasan negara tersebut, dikutip dari NHK News.
Operasi rudal ini akan berada di bawah Komando Operasi Gabungan yang baru, dengan dukungan intelijen militer AS untuk identifikasi target jarak jauh. Pemerintah Jepang berencana terus meningkatkan jangkauan rudal hingga 2.000 km.
Langkah ini sebagai bagian dari Strategi Keamanan Nasional yang direvisi sejak 2022 di bawah pemerintahan Perdana Menteri Fumio Kishida. Saat itu, keputusan tersebut untuk pertama kalinya membuka jalan bagi kemampuan serangan balasan Jepang.
3. Kebijakan baru yang memicu kemarahan warga lokal

Meskipun pemerintah Jepang berargumen bahwa kemampuan ini diperlukan untuk mencegah serangan, tetapi kebijakan ini memicu perdebatan hukum dan sosial. Nantinya, dengan kemampuan baru ini Tokyo dapat menyerang pangkalan musuh, jika serangan dianggap akan segera terjadi.
Namun, kebijakan ini menuai kekhawatiran karena berisiko melanggar hukum internasional, jika terjadi kesalahan penilaian terkait preemptive strike atau serangan pendahuluan. Di Kumamoto, puluhan warga setempat menggelar protes di depan gerbang pangkalan militer Kamp Kengun saat pengerahan berlangsung.
"Ini adalah hari kemarahan. Daerah ini padat penduduk, pengerahan ini justru menjadikan kami target konflik," kata salah satu demonstran, Hidemitsu Horiuchi yang berusia 73 tahun.


















