Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Dua Wajah Masjid Quba: Meresapi Sejarah dan Mencari Keutamaannya

Dua Wajah Masjid Quba: Meresapi Sejarah dan Mencari Keutamaannya
Masjid Quba terlihat indah pada malam hari dengan pencahayaan lembut yang menerangi menara dan kubahnya.(IDN Times/Yogie Fadila/MCH 2026)
Intinya Sih
  • Masjid Quba di Madinah menampilkan dua suasana berbeda saat musim haji, dari ketenangan senja hingga keramaian ribuan jemaah yang datang untuk beribadah dan mengenang sejarah Islam.
  • Quba menjadi masjid pertama dalam sejarah Islam, dibangun langsung oleh Nabi Muhammad SAW saat hijrah ke Madinah, dan disebut dalam Al-Qur’an sebagai masjid yang berdiri atas dasar takwa.
  • Selain nilai historis, Masjid Quba memiliki keutamaan spiritual besar dengan pahala setara umrah bagi yang shalat di sana; kini diperluas lewat proyek Raja Salman untuk menampung lebih banyak jemaah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Madinah, IDN Times - Berada di Madinah pada musim haji selalu menyajikan kejutan. Kota ini bisa terasa begitu syahdu pada satu waktu, namun seketika berubah menjadi lautan manusia yang riuh pada waktu lainnya. Hal ini pulalah yang saya rasakan ketika mengunjungi Masjid Quba dalam dua kesempatan yang berbeda pada musim haji 2026.

Kesempatan pertama datang tatkala senja mulai merayap turun. Kala itu, musim haji baru saja mengetuk pintu. Hanya segelintir jemaah dari negara-negara tetangga Arab Saudi dan beberapa wajah Indonesia yang tampak berlalu-lalang. Ketika azan Magrib mengalun memecah langit Madinah, suasananya tetap tenang. Tidak ada ketergesaan; jemaah melangkah pelan, leluasa memilih saf terbaik tanpa harus berdesakan. Dalam keheningan senja itu, Quba terasa magis, seolah memberi ruang bagi jiwa untuk benar-benar merenung.

Namun, kunjungan kedua saya menyajikan lanskap yang sangat kontras. Pagi itu matahari bersinar terik. Hampir dua minggu sudah Madinah membuka keran kedatangannya, dan dampaknya sangat terasa. Pelataran hingga bagian dalam Masjid Quba telah disesaki lautan manusia. Penjagaan pun diperketat demi menjaga ritme dan ketertiban ribuan peziarah yang datang silih berganti.

Napak tilas perjalanan Sang Nabi

Masjid Quba dengan kubah putih dan menara tinggi di bawah langit cerah, dikelilingi pohon palem serta pejalan kaki di area halaman.
Masjid Quba menjelang tengah hari terlihat megah dengan arsitektur putihnya yang khas, menara tinggi, dan kubah besar. (IDN Times/Yogie Fadila/MCH 2026)

Mengapa setiap tahun jutaan orang rela berdesakan menuju sebuah masjid yang berjarak sekitar 6 kilometer di selatan Masjid Nabawi ini? Jawabannya tertanam jauh di abad ke-7.

Berjalan di pelataran marmer putih Quba hari ini, kita sejatinya sedang menapak tilas rute Hijrah Nabi Muhammad SAW pada tahun 622 Masehi. Merujuk pada catatan Sirah Nabawiyah karya Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri, sebelum memasuki pusat Yatsrib (Madinah), Rasulullah SAW singgah di perkampungan Quba selama kurang lebih 14 hari untuk menunggu kedatangan Ali bin Abi Thalib.

Di masa persinggahan yang singkat namun krusial inilah, sebuah fondasi peradaban diletakkan. Nabi Muhammad SAW tidak sekadar memberi titah; dengan tangannya sendiri, beliau mengangkat batu dan tanah liat bersama para sahabat untuk mendirikan bangunan ini. Inilah masjid pertama yang didirikan dalam sejarah umat Islam.

Kemuliaan Quba bahkan diabadikan secara langsung oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an (Surah At-Taubah: 108), yang menyebutnya sebagai "masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama."

Mengejar pahala umrah di ujung kota

Jemaah sedang berdoa di dalam Masjid Quba dengan latar mihrab dan mimbar berarsitektur indah serta kaligrafi Arab di dinding.
Suasana di dalam Masjid Quba menampilkan jemaah yang sedang berdoa di depan mihrab dan mimbar. (IDN Times/Yogie Fadila/MCH 2026)

Bagi para peziarah, magnet utama Masjid Quba bukan sekadar nilai historisnya, melainkan janji spiritual yang mengiringinya. Dalam sebuah hadis sahih riwayat Ibnu Majah dan Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang bersuci di rumahnya, kemudian mendatangi Masjid Quba, lalu ia shalat di dalamnya, maka baginya pahala seperti pahala Umrah."

Karena keutamaan inilah, Sang Nabi sendiri memiliki kebiasaan rutin mampir ke Quba setiap hari Sabtu, baik dengan berjalan kaki maupun berkendara. Sebuah tradisi yang kini dihidupkan kembali oleh jutaan peziarah setiap tahunnya.

Antara Askar, tas, dan kepasrahan

Jamaah sedang beribadah di dalam Masjid Quba dengan arsitektur megah, langit-langit tinggi, dan pencahayaan alami yang lembut.
Suasana di dalam Masjid Quba menampilkan jemaah yang beribadah di ruang luas dan pencahayaan alami. (IDN Times/Yogie Fadila./MCH 2026)

Geliat sejarah dan antusiasme peziarah itu begitu terasa pada kunjungan kedua saya. Ada satu momen menarik yang menjadi bumbu perjalanan kali ini. Jika pada kunjungan senja pertama saya bisa melenggang masuk membawa tas, kali ini aturannya berbeda. Tas harus dititipkan.

Masalahnya, sejauh mata memandang, tidak ada tanda-tanda keberadaan loket penitipan barang.

"Anywhere," ujar seorang askar (petugas keamanan) berjanggut lebat, setengah berseru di tengah kebisingan, sambil memberi isyarat agar saya menepi dari antrean masuk.

Di titik itu, saya dihadapkan pada pilihan: batal masuk atau berserah diri. Akhirnya, tas beserta seluruh isinya saya letakkan begitu saja di pelataran luar masjid, bersanding dengan tumpukan sandal jemaah yang menggunung. Saya titipkan tas itu pada penjagaan Sang Maha Melihat.

Memasuki ruang utama masjid tanpa beban bawaan, langkah saya justru terasa lebih ringan. Meski kondisi di dalam jauh lebih padat, saya bisa mengeksplorasi sudut-sudut masjid dengan lebih leluasa. Saya beruntung bisa menunaikan shalat sunnah dua rakaat di saf tengah sebelah kanan, lalu menambah dua rakaat lagi di saf terdepan.

Arsitektur Quba di era modern ini memang memanjakan mata sekaligus menenangkan jiwa. Bangunan sederhananya di masa lalu kini telah menjelma menjadi mahakarya dengan empat menara megah dan 56 kubah kecil. Di bagian belakang ruang utama, saya berhenti sejenak di deretan keran air minum. Sembari mereguk air yang menyegarkan dahaga dari teriknya pagi, pandangan saya beralih ke atas. Kanopi-kanopi kain putih panjang membentang menutupi area terbuka, meneduhkan siapa pun yang bernaung di bawahnya.

Sebagai catatan, kemegahan ini rencananya akan terus berkembang. Melalui "Proyek Perluasan Masjid Quba Raja Salman" yang diumumkan pada 2022, Arab Saudi berambisi melipatgandakan luas area masjid ini hingga 50.000 meter persegi, guna menampung hingga 66.000 jemaah di masa depan.

Refleksi di samping tumpukan sandal

Bagian dalam Masjid Quba dengan jamaah yang sedang berdiri dan duduk di area shalat, menampilkan kubah dan lampu gantung megah.
Interior bagian depan Masjid Quba dengan arsitektur islami yang indah, menampilkan kubah besar, lampu gantung, serta jemaah yang sedang beribadah di dalam masjid bersejarah ini. (IDN Times/Yogie Fadila/MCH 2026)

Puas mengambil gambar dan menciptakan memori di dalam, saya berjalan keluar menuju tempat saya "menitipkan" tas tadi. Dan benar saja, tas itu masih ada di sana, duduk manis di samping tumpukan sandal, tak kurang satu apa pun.

Pengalaman kecil itu tiba-tiba terasa begitu puitis. Masjid Quba, pada akhirnya, bukan hanya sekadar jembatan batu yang menghubungkan umat Islam modern dengan akar perjuangan Nabi di masa lalu. Lebih dari itu, tempat ini adalah ruang di mana rasa aman tervalidasi, di mana kecemasan duniawi—bahkan sekadar kehilangan tas—bisa meluruh di bawah kepasrahan kepada Yang Maha Kuasa.

Dua kunjungan, dua wajah, namun memberikan satu resonansi yang sama: Quba akan selalu menjadi suar cahaya yang menyambut para pejalan, membersihkan jiwa, dan mengingatkan kita bahwa segala sesuatu yang besar selalu dimulai dari fondasi ketakwaan yang paling murni.

Memori di Masjid Quba

Share
Topics
Editorial Team
Yogie Fadila
EditorYogie Fadila
Follow Us

Related Articles

See More