El Niño Diprediksi Makin Ekstrem, Dunia Hadapi Cuaca Berbahaya

- WMO memperkirakan El Niño menguat hingga level ekstrem, berpeluang hampir 100 persen bertahan sampai Februari dan berdampak hingga awal 2027.
- Kombinasi El Niño dan pemanasan global akibat bahan bakar fosil diperkirakan memperparah kekeringan, banjir, gelombang panas, serta gangguan pada pertanian, kesehatan, energi, dan pasokan air.
- WMO mencatat pemanasan kuat di Pasifik tropis; dampak besar berpotensi meliputi kekeringan di Indonesia, Australia, Amazon, gangguan monsun India, dan kenaikan suhu daratan global.
Jakarta, IDN Times – Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), badan cuaca Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), memperkirakan fenomena El Niño yang sedang berlangsung terus menguat hingga level ekstrem. Kondisi tersebut berisiko meningkatkan kejadian kekeringan, banjir, dan gelombang panas ekstrem di berbagai wilayah dunia. Fenomena ini juga berpotensi menjadi yang terkuat dalam lebih dari empat dekade terakhir.
Kepala WMO Celeste Saulo menyampaikan peringatan itu saat berbicara di Jenewa, Swis, pada Kamis (3/9/2026) mengacu pada hasil pemantauan jangka panjang.
“Jika jalur ini berlanjut, mungkin lebih kuat daripada apa pun sejak pemantauan kami dimulai – jadi benar-benar di luar grafik yang telah kami gunakan selama empat dekade terakhir,” katanya, dikutip Al Jazeera.
1. WMO memproyeksikan El Niño bertahan hingga 2027

ilustrasi cuaca panas (pexels.com/Fatih Turan) WMO memperkirakan peluang hampir 100 persen bahwa El Niño akan bertahan hingga Februari dan berdampak hingga awal 2027. Tingkat kepastian tersebut menjadi yang tertinggi yang pernah dikeluarkan lembaga PBB tersebut dalam sejarah pemantauan iklim Pasifik.
El Niño merupakan pola cuaca alami yang meningkatkan suhu permukaan air di bagian tengah dan timur Samudra Pasifik khatulistiwa. Kenaikan temperatur tersebut mengubah pola angin, tekanan udara, serta distribusi curah hujan global secara drastis.
Fenomena El Niño pada periode 2023–2024 sebelumnya membuat 2024 tercatat sebagai tahun terpanas dalam sejarah bumi. Saulo juga mengingatkan publik agar tak terkejut jika rekor suhu global tersebut kembali terlampaui dalam waktu dekat.
2. PBB menyoroti dampak El Niño terhadap krisis iklim

ilustrasi cuaca panas (pexels.com/Fernando B M) El Niño merupakan fenomena alam, tetapi para ilmuwan menyebut dampaknya semakin merusak akibat akumulasi pemanasan global dari pembakaran bahan bakar fosil. Perpaduan kedua faktor tersebut diperkirakan memperburuk anomali cuaca ekstrem secara signifikan.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres turut menyoroti peningkatan risiko dari kondisi tersebut.
“El Niño sedang dibesarkan secara berlebihan di depan mata kita. Ilmu pengetahuan tidak menyisakan ruang untuk keraguan: planet ini berada di perairan yang belum dipetakan, dan perairan itu semakin panas,” ungkapnya, dikutip ABC News.
Guterres juga menekankan pentingnya penanganan krisis iklim global karena dunia kini berada di zona bahaya cuaca ekstrem.
“Perlombaan saat ini adalah antara risiko yang meningkat dan komitmen kita untuk mengambil aksi iklim dan melindungi masyarakat. Kita harus memenangkan perlombaan itu,” tegasnya.
Dampak seperti kekeringan dan banjir dilaporkan mulai mengganggu sektor pertanian, kesehatan, energi, hingga pasokan air.
3. WMO memetakan dampak El Niño di berbagai wilayah

ilustrasi cuaca panas (pexels.com/Miguel Cuenca) Siklus alami El Niño biasanya muncul setiap dua hingga tujuh tahun dan berlangsung selama 9-12 bulan. WMO membagi intensitas fenomena tersebut dari level lemah hingga sangat kuat, sementara kondisi saat ini dipastikan bergerak menuju kategori tertinggi.
Riset WMO mengidentifikasi dampak yang umum terjadi dalam peristiwa El Niño berskala besar, termasuk kekeringan di Indonesia, Australia, dan sebagian Amazon. Selain itu, fenomena ini memicu gangguan terhadap iklim monsun di India serta lonjakan suhu di hampir seluruh daratan global pada September hingga November.
Penguatan El Niño berkaitan dengan akumulasi panas yang sangat tinggi di Samudra Pasifik tropis. Indeks anomali suhu permukaan laut meningkat dari 1,5 derajat Celcius pada periode Mei–Juli menjadi 2,2 derajat Celcius hingga 2,6 derajat Celcius pada pertengahan Agustus. Sementara itu, suhu di bawah permukaan laut sempat melonjak lebih dari 8 derajat Celcius di atas rata-rata normal sepanjang Juli hingga awal Agustus.





















