Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Prahara Mei 1998: Langkah Habibie Copot Prabowo Sebagai Pangkostrad

Prahara Mei 1998: Langkah Habibie Copot Prabowo Sebagai Pangkostrad
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato dalam Rapat Paripurna ke-19 DPR RI Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025-2026 di kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (20/5). ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga
Intinya Sih
Timeline
Gini Kak
  • Setelah Soeharto mundur pada 21 Mei 1998, B.J. Habibie resmi menjadi Presiden dan menghadapi situasi politik genting di tengah transisi kekuasaan nasional.
  • Habibie mencopot Letjen Prabowo Subianto dari jabatan Pangkostrad setelah menerima laporan dari Jenderal Wiranto tentang pergerakan pasukan tanpa koordinasi resmi ke Jakarta.
  • Pertemuan empat mata Habibie dan Prabowo berlangsung tegang; Habibie menolak permintaan Prabowo mempertahankan komando Kostrad dan menegaskan pencopotan harus berlaku sebelum matahari terbenam.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Baharudin Jusuf Habibie seperti sedang menjalankan perannya sebagai hamba Tuhan, mengikuti garis takdir kehidupan sebagai Presiden ke-3 Republik Indonesia ketika demokrasi tengah berada di persimpangan jalan.

Kamis, 21 Mei 1998, Soeharto secara resmi mengundurkan diri sebagai Presiden Republik Indonesia di hadapan jutaan rakyat. Mulai hari itu pula Kabinet Pembangunan VII demisioner. Sesuai pasal 8 UUD 1945, maka Wakil Presiden RI, Prof. Dr. Ir. B.J. Habibie mengisi kekosongan jabatan tersebut.

Situasi politik Indonesia berada dalam titik nadir setelah pengunduran diri Presiden Soeharto. Di tengah suasana yang sarat ketegangan, Habibie mengambil langkah besar dengan mencopot menantu Soeharto, Letnan Jenderal (Letjen) Prabowo Subianto dari jabatan Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad). Keputusan itu diumumkan beberapa hari setelah Habibie resmi memimpin negara.

Pencopotan Prabowo sebagai Pangkostrad dilakukan Habibie setelah ia mendengar kabar adanya pergerakan pasukan kostrad dari daerah ke Jakarta tanpa ada koordinasi dengan pimpinan ABRI. Informasi itu ia terima langsung dari Panglima ABRI (Pangab) Jenderal Wiranto.

1. Pertemuan empat mata Wiranto dan Habibie bahas pasukan Kostrad

Instagram.com/ BJ Habibie
Instagram.com/ BJ Habibie

Sekitar pukul 9.00 WIB pada 22 Mei 1998, Habibie bergerak ke Istana Merdeka dari kediamannya di Kuningan. Ia memasuki Kompleks Istana dari pintu gerbang depan sebelah barat. Di depan tangga, Jenderal Wiranto menantikan kedatangan Habibie dan meminta waktu untuk bertemu empat mata. Ia pun dipersilakan masuk ke ruang kerjanya.

Sementara, saat itu, Habibie didampingi oleh perangkat keamanan Presiden, ADC, Sintong Panjaitan, Ahmad Watik Pratiknya, Jimly Asshiddiqie, Gunawan Hadisusilo, dan Fuadi Rasyid (Tim Khusus yang membantu penyusunan Kabinet Reformasi Pembangunan).

"Di ruang kerja Presiden, Pangab melaporkan bahwa pasukan Kostrad dari luar Jakarta bergerak menuju Jakarta dan ada konsentrasi pasukan di kediaman saya di Kuningan, demikian pula Istana Merdeka. Jenderal Wiranto mohon petunjuk," tulis Habibie dalam buku Detik-Detik yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi (2006).

Dari laporan itu, Habibie berkesimpulan bahwa Pangkostrad bergerak sendiri tanpa sepengetahuan Jenderal Wiranto sebagai pimpinan tertinggi ABRI kala itu.

"Bukankah ini bertentangan dengan petunjuk saya kemarin pada Pangab? Apakah mungkin ada skenario tersendiri mengenai laporan yang baru saja disampaikan oleh Pangab? Apakah tidak sebaiknya saya mengecek dahulu maksud dan tujuan laporan tersebut?" tulisnya.

2. Habibie perintahkan Wiranto copot Prabowo sebelum matahari terbenam

Instagram.com/ BJ Habibie
Instagram.com/ BJ Habibie

Maksud Wiranto agat diperkenankan bicara empat mata dengan Habibie tidak lain untuk memohon petunjuk bagaimana menyikapi pergerakan pasukan Kostrad ke Jakarta. Dari laporan ini, Habibie menarik kesimpulan, Prabowo bergerak sendiri tanpa sepengetahuan Wiranto.

"Dari laporan tersebut, saya berkesimpulan bahwa Pangkostrad bergerak sendiri tanpa sepengetahuan Pangab," tulisnya.

Seketika itu, Habibie memerintahkan Wiranto sesegera mungkin mencopot Prabowo dari Jabatan Pangkostrad dan mencari penggantinya hari itu juga sebelum matahari terbenam. Wiranto butuh waktu kurang lebih 10 jam dari pertemuan itu untuk mengumumkan pengganti Prabowo.

“Sebelum matahari terbenam, Pangkostrad harus sudah diganti dan kepada penggantinya diperintahkan agar semua pasukan di bawah komando Pangkostrad harus segera kembali ke basis kesatuan masing-masing," tulis Habibie.

“Sebelum matahari terbenam?”tanya Wiranto.

"Sebelum matahari terbenam!” jawab Habibie mengulangi perintahnya.

“Siapa yang akan mengganti?” tanya Wiranto lagi kembali memastikan perintah yang ia terima.

"Terserah Pangab," jawab Habibie.

Setelah pertemuan itu, Habibie mempersilahkan Wiranto meninggalkan ruang kerjanya karena ia harus mengumumkan Kabinet Reformasi Pembangunan ke publik. Ini sekaligus menjawab spekukasi liar bahwa Habibie gagal membentuk kabinet.

Jenderal Wiranto kembali ia tunjuk sebagai Panglima ABRI atas keyakinan yang ia pegang. Kepercayaan itu, ia sampaikan langsung ke Wiranto melalui sambungan telepon beberapa jam sebelum kabinet resmi diumumkan.

"Pada hari Jumat, tanggal 22 Mei 1998 pukul 06.10, saya menelepon Jenderal Wiranto dan menyampaikan bahwa saya telah memutuskan untuk memintanya tetap menjadi Menhankam/Pangab (Panglima ABRI) dalam Kabinet Reformasi Pembangunan. Ia mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang telah diberikan dan memohon petunjuk. Saya sampaikan agar ia melaksanakan tugas sesuai pengarahan yang kemarin telah saya berikan dan nanti bertemu di Istana Merdeka," tulisnya.

Disela-sela ia rapat membahas reformasi Bank Indonesia, Habibie menerima telepon dari Wiranto. Ia mengusulkan Panglima Divisi Siliwangi dari Jawa Barat Mayjen Djamari Chaniago (saat ini Menteri Koordinator Politik dan Keamanan di Kabinet Prabowo) menggantikan Prabowo sebagai Pangkostrad. Namun, ia tak bisa langsung dilantik sebelum matahari terbenam karena ada kendala satu dan lain hal.

Pelantikan Djamari sebagai Pangkostrad hanya dapat dilaksanakan keesokan harinya, Plt Pangkostrad dijabat oleh Asisten Operasi Pangab Letjen Johny Lumintang. Ia diberi mandat dalam kurun waktu yang sangat singkat untuk mengembalikan seluruh pasukan kostrad yang dibawa Prabowo agar kembali ke barak.

"Saya menyetujui usul Pangab untuk melantik Panglima Divisi Siliwangi, Mayjen Djamari Chaniago sebagai Pangkostrad esok harinya pada tanggal 23 Mei 1998. Usul untuk menugaskan Letjen Johny Lumintang agar menjadi Pangkostrad sementara juga dapat saya terima," tulis Habibie.

3. Prabowo temui Habibie empat mata usai dicopot

Mantan Presiden BJ Habibie (ANTARA FOTO/Retmon)
Mantan Presiden BJ Habibie (ANTARA FOTO/Retmon)

Setelah menerima telepon dari Jenderal Wiranto, ADC Presiden membisiki Habibie, Jenderal Prabowo ingin menghadap untuk bertemu secara empat mata. Prabowo tak langsung diterima, Habibie minta pertemuan dengan Prabowo diatur setelah ia selesai makan siang bersama keluarga. Meskipun, ia sempat berpikir keras apa untungnya menerima Prabowo. Ia juga bertanya apakah mencopot jabatan menantu Soeharto merupakan langkah tepat.

Sebelum pertemuan berlangsung, Habibie mempertanyakan alasan di balik kebijakan Prabowo mengerahkan pasukan Kostrad ke Jakarta. Menurutnya, sebagai seorang perwira tinggi militer profesional, seorang Pangkostrad seharusnya memahami dan memegang teguh prinsip “Saptamarga” serta “Sumpah Prajurit”. Habibie menilai langkah Prabowo tanpa koordinasi dengan Wiranto merupakan pelanggaran terhadap prinsip disiplin militer.

Dialog antara Habibie dan Prabowo berlangsung tegang. Sebagaimana kebiasaan mereka, pembicaraan selalu berlangsung dalam bahasa Inggris. Prabowo marah dan kecewa karena dicopot sebagai Pangkostrad. Ia anggap Habibie merendahkan keluarga Soemitro dan keluarga mertuanya.

"Ini suatu penghinaan bagi keluarga saya dan keluarga mertua saya Presiden Soeharto, Anda telah memecat saya sebagai Pangkostrad," kata Prabowo.

"Anda tidak dipecat, tetapi jabatan Anda diganti," jawab Habibie tenang.

“Mengapa?” tanya Prabowo.

"Saya menyampaikan bahwa saya mendapat laporan dari Pangab bahwa gerakan pasukan Kostrad menuju Jakarta, Kuningan, dan Istana Merdeka," jawab Habibie lagi

“Saya bermaksud untuk mengamankan Presiden,” kata Prabowo.

“Itu adalah tugas Pasukan Pengamanan Presiden yang bertanggung jawab langsung pada Pangab dan bukan tugas Anda,” jawab Habibie.

“Presiden apa Anda? Anda naif!” jawab Prabowo dengan nada marah.

"Masa bodoh, saya Presiden dan harus membereskan keadaan bangsa dan negara yang sangat memprihatinkan,” jawab Habibie mengabaikan kemarahan Prabowo.

“Atas nama ayah saya Prof. Soemitro Djojohadikusumo dan ayah mertua saya, Presiden Soeharto, saya minta Anda memberikan saya tiga bulan untuk tetap menguasai pasukan Kostrad,” mohon Prabowo.

Habibie tetap bersikeras, Prabowo harus menanggalkan jabatannya sebagai Pangkostrad hari itu juga sebelum matahari terbenam.

“Tidak! Sampai matahari terbenam Anda sudah harus menyerahkan semua pasukan kepada Pangkostrad yang baru!” jawab Habibie tegas.

“Berikan saya tiga minggu atau tiga hari saja untuk masih dapat menguasai pasukan saya!” Prabowo masih berupaya keras.

“Tidak! Sebelum matahari terbenam semua pasukan sudah harus diserahkan kepada Pangkostrad baru! Saya bersedia mengangkat Anda menjadi duta besar di mana saja," jawab Habibie sambil menawarkan opsi jabatan baru.

“Yang saya kehendaki adalah pasukan saya!” jawab Prabowo.

“Ini tidak mungkin, Prabowo!”

Sintong Pandjaitan, penasihat Habibie masuk ke ruangan dan mempersilahkan Prabowo meninggalkan Istana Merdeka, tetapi dilarang oleh Habibie. Sintong kemudian bergegas dari ruangan itu.

Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Prabowo untuk meminta agar ia dapat berbicara melalui telepon dengan Wiranto. Habibie kemudian menugaskan salah satu ADC Presiden di ruangan itu untuk segera menghubungi Wiranto. Namun, Wiranto tidak dapat dihubungi. Untuk kedua kalinya pintu terbuka, Sintong Pandjaitan mempersilakan Prabowo meninggalkan ruangan.

"Saya masih sempat memeluk Prabowo dan menyampaikan salam hormat saya untuk ayah kandung dan ayah mertua Prabowo," tulis Habibie.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwifantya Aquina
EditorDwifantya Aquina

Related Articles

See More