Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Filipina Tuduh Kapal China Gunakan Sianida di Laut China Selatan

Filipina Tuduh Kapal China Gunakan Sianida di Laut China Selatan
Bendera Filipina (unsplash.com/iSawRed)
Intinya Sih
  • Pemerintah Filipina menuduh kapal China menyebarkan sianida di Ayungin Shoal sepanjang 2025, diduga untuk merusak ekosistem laut dan mengganggu pasokan makanan militer Filipina.
  • Hasil penyelidikan menunjukkan adanya botol berisi cairan sianida serta bukti pencemaran yang membahayakan biota laut, kesehatan prajurit, dan mempercepat kerusakan kapal BRP Sierra Madre.
  • Filipina menyiapkan protes resmi ke Beijing atas dugaan pelanggaran UNCLOS, sementara China membantah keras tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai kampanye informasi keliru.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Ketegangan di Laut China Selatan kembali memanas pada Senin (13/4/2026). Pemerintah Filipina resmi melaporkan dugaan perusakan lingkungan yang dilakukan oleh armada kapal China di wilayah perairan sengketa. Konflik ini memicu kekhawatiran baru setelah China diduga menggunakan zat kimia yang mengancam ekosistem laut serta kedaulatan Filipina di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) mereka.

Pemerintah Filipina menduga kapal nelayan China, yang dikawal oleh otoritas maritim Beijing, secara berkala menyebarkan zat sianida di sekitar Second Thomas Shoal (Ayungin Shoal) sepanjang tahun 2025. Langkah tersebut diduga bertujuan untuk merusak sumber daya alam dan mendesak personel militer Filipina yang berjaga di kawasan itu.

1. Penemuan bukti zat kimia di perairan Ayungin Shoal

Tim khusus maritim Filipina telah melakukan penyelidikan dan mengamankan bukti fisik berupa botol-botol kimia dari kapal-kapal kecil China. Juru bicara Angkatan Laut Filipina, Laksamana Muda Roy Vincent Trinidad, mengungkapkan bahwa pihaknya menyita sepuluh botol kuning berisi cairan yang diduga sianida dalam tiga operasi sepanjang tahun 2025.

Dugaan ini menguat pada Maret 2026, saat kru kapal China terpantau membuang zat kimia ke laut. Hasil uji laboratorium terhadap sampel air di lokasi menunjukkan adanya kandungan natrium sianida dalam kadar yang membahayakan biota laut.

Biro Investigasi Nasional (NBI) Filipina mengonfirmasi bahwa zat tersebut merupakan sianida dosis tinggi. Asisten Direktur Jenderal Dewan Keamanan Nasional (NSC), Cornelio Valencia Jr., menyatakan insiden ini merupakan upaya terencana untuk memutus pasokan makanan bagi tentara Filipina yang bertugas di garis depan.

"Penggunaan sianida di Ayungin Shoal adalah bentuk sabotase untuk mematikan populasi ikan setempat. Tujuannya agar personel Angkatan Laut kami yang bertugas di sana kehilangan sumber makanan utama mereka," kata Cornelio Valencia Jr., dilansir The Hindu.

2. Ancaman kesehatan personel militer

Paparan sianida tidak hanya mematikan populasi ikan, tetapi juga berpotensi merusak ekosistem terumbu karang di perairan tersebut. Pemerintah Filipina juga menyoroti kondisi BRP Sierra Madre, kapal perang era Perang Dunia II yang difungsikan sebagai pos militer. Paparan zat kimia secara terus-menerus dikhawatirkan dapat mempercepat korosi lambung kapal.

Selain itu, kesehatan para prajurit turut terancam. Mengonsumsi ikan yang terkontaminasi atau terpapar langsung air yang tercemar dapat menyebabkan gangguan pernapasan serius bahkan kematian.

Ahli kimia forensik dari NBI, Mujib Piang, memperingatkan bahwa residu racun ini dapat bertahan lama di ekosistem laut dan masuk ke dalam rantai makanan manusia.

"Sianida adalah zat yang mudah menguap dan merupakan racun kuat yang bisa merusak terumbu karang serta menjadi polutan berbahaya. Jika manusia mengonsumsi makanan atau minuman yang terpapar zat ini, dampaknya bisa sangat fatal, mulai dari mual hingga kematian," jelas Mujib Piang, dilansir ABS-CBN.

3. China membantah keras tuduhan dari Filipina

Merespons temuan ini, Pemerintah Filipina tengah menyusun laporan komprehensif untuk mengajukan protes resmi kepada Beijing melalui forum internasional. Manila menegaskan bahwa tindakan tersebut melanggar Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS), yang mewajibkan setiap negara untuk melindungi dan melestarikan lingkungan laut. Angkatan Laut dan Penjaga Pantai Filipina juga telah diinstruksikan untuk memperketat patroli guna mencegah kerusakan lebih lanjut.

Di sisi lain, Pemerintah China membantah keras tuduhan tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyebut klaim Filipina tidak berdasar dan justru mengganggu aktivitas nelayan China yang sah. Beijing bersikeras memiliki hak berdaulat atas perairan tersebut dan menilai laporan terkait penggunaan sianida sebagai manuver Filipina untuk menggalang simpati internasional.

"Tuduhan dari pihak Filipina itu sama sekali tidak bisa dipercaya dan tidak layak dibantah. Itu hanyalah bagian dari kampanye informasi keliru yang berisiko merusak hubungan kedua negara," tegas Guo Jiakun.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Latest in News

See More