Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Hassan Wirajuda: Tatanan Dunia Melemah, ASEAN Harus Lebih Solid

Hassan Wirajuda: Tatanan Dunia Melemah, ASEAN Harus Lebih Solid
Mantan Menlu RI Hassan Wirajudha membahas pentingnya penguatan multilateralisme berdasarkan hukum internasional dalam Jakarta Forum 2026. (IDN Times/Marcheilla Ariesta).
Intinya Sih
Gini Kak
Sisi Positif
  • Hassan Wirajuda menekankan pentingnya solidaritas ASEAN untuk memperkuat ketahanan energi dan pangan menghadapi dampak konflik global yang mengganggu pasokan minyak, gas, serta listrik.
  • Ia menilai tatanan dunia semakin melemah dan konflik terkait sumber daya strategis masih berpotensi terjadi di berbagai kawasan, menciptakan ketidakpastian global yang berkepanjangan.
  • Hassan mendorong penguatan kerja sama regional ASEAN sebagai langkah utama menghadapi melemahnya tatanan global dan menjaga stabilitas kawasan di tengah dinamika geopolitik dunia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Mantan Menteri Luar Negeri RI Hassan Wirajuda menilai, negara-negara ASEAN perlu memperkuat kerja sama kawasan untuk menghadapi ketidakpastian global yang semakin meningkat, terutama setelah konflik dan ketegangan di Timur Tengah memengaruhi pasokan energi dunia.

Menurut Hassan, salah satu pelajaran dari konflik yang melibatkan Iran dan kawasan Teluk adalah pentingnya membangun ketahanan energi dan pangan secara kolektif. Ia mengatakan, gangguan terhadap distribusi minyak, gas, hingga pupuk dapat berdampak pada banyak sektor, termasuk pasokan listrik.

Pernyataan itu disampaikan Hassan saat menanggapi perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang tengah berlangsung di Swiss. Negosiasi tersebut merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman (MoU) yang diteken kedua negara pada 18 Juni lalu, dengan Pakistan dan Qatar berperan sebagai mediator.

Kesepakatan sementara itu memuat sejumlah poin, antara lain pembukaan kembali Selat Hormuz, penghentian konflik di berbagai lini, pencabutan sanksi terhadap Iran secara bertahap, serta komitmen Iran untuk tidak memiliki senjata nuklir. Meski demikian, implementasi kesepakatan masih akan dibahas lebih lanjut dalam waktu 60 hari.

1. ASEAN perlu bangun ketahanan energi dan pangan

IMG_8325.jpeg
Logo ASEAN. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

Hassan mengatakan, gejolak di kawasan Teluk telah menunjukkan betapa rentannya pasokan energi dunia terhadap konflik geopolitik.

“Sebetulnya yang terjadi dengan gejolak di kawasan Teluk tadi adalah suplai minyak, gas, pupuk yang terganggu. Akibat suplai minyak terganggu, maka suplai electricity bisa terganggu,” kata Hassan, Senin (22/6/2026).

Menurut dia, kondisi tersebut mendorong negara-negara ASEAN mulai membicarakan kerja sama yang lebih erat, termasuk pengembangan jaringan listrik bersama atau power grid. Dengan mekanisme tersebut, negara yang memiliki kelebihan pasokan listrik dapat membantu negara lain yang mengalami kekurangan.

“Karena itu ada mulai dibicarakan kerja sama antarnegara ASEAN untuk sharing power grid. Negara yang surplus bisa bagi atau sama-sama menciptakan satu supply produksi yang memudahkan untuk semua,” ujarnya.

Selain energi, Hassan menilai ketahanan pangan juga harus menjadi prioritas kawasan. Menurut dia, ASEAN memiliki potensi untuk mewujudkan kemandirian di bidang pangan dan energi, sehingga mampu menghadapi berbagai guncangan global.

“Jadi kita punya potensi untuk baik misalnya food security atau energy security dalam artian luas, termasuk electricity untuk bisa kita self sufficient dan resilient, punya daya tahan,” kata dia.

2. Konflik global masih akan berlanjut

ilustrasi perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel
ilustrasi perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel (unsplash.com/Saifee Art)

Hassan menilai, dunia saat ini tengah menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian. Menurut dia, konflik di berbagai wilayah masih berpotensi terjadi, terutama yang berkaitan dengan sumber daya strategis.

“Sebenarnya tidak menjamin dia akan selamanya stabil. Konflik di sana sini masih akan terjadi. Kebetulan di sana sini yang berkaitan dengan sumber-sumber, di Venezuela, sekarang di Iran,” ujarnya.

Ia juga menilai, tatanan dunia atau world order yang selama ini menjadi pijakan hubungan internasional semakin melemah.

World order is no longer effective,” kata Hassan.

Menurut dia, kondisi tersebut membuat negara-negara di kawasan harus meningkatkan daya tahan mereka sendiri melalui kerja sama regional yang lebih kuat.

3. Penguatan ASEAN jadi penawar ketidakpastian dunia

Bendera ASEAN (vecteezy.com/Nur Faidin)
Bendera ASEAN (vecteezy.com/Nur Faidin)

Hassan mengatakan, penguatan kerja sama ASEAN menjadi salah satu cara menghadapi melemahnya tatanan global. “Karena itu saya ingin mendorong ASEAN harus, kerja sama kawasan harus dibuat lebih kuat,” ujarnya.

Ia menilai, negara-negara di Asia Tenggara perlu lebih cermat membaca perkembangan dunia dan memperkuat hubungan dengan berbagai mitra dialog yang dimiliki ASEAN.

World order is weakening and it is no longer effective. Obat penawarnya, antidote-nya, terus sama regional kita baca, kita dan mitra-mitra dialog kita. Sekarang itu tema yang tadi kita bicarakan,” kata Hassan.

Sebelumnya, Hassan juga menilai Indonesia belum perlu mengambil peran sebagai mediator dalam negosiasi antara AS dan Iran. Menurut dia, yang lebih penting saat ini adalah memantau perkembangan pembicaraan tersebut dan mengkaji dampaknya terhadap Indonesia, terutama terkait normalisasi arus minyak dan gas dari kawasan Timur Tengah melalui Selat Hormuz.

Share Article
Topics
Editorial Team
Sunariyah Sunariyah
EditorSunariyah Sunariyah

Related Articles

See More