Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mesir Janji Beri Bantuan Militer ke Arab Saudi untuk Hadapi Houthi

3 min read
Mesir Janji Beri Bantuan Militer ke Arab Saudi untuk Hadapi Houthi
Presiden Mesir Abdel Fattah El Sisi (kremlin.ru, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)
  • Mesir berjanji mendukung keamanan Arab Saudi setelah serangan Houthi meningkat, sementara Presiden Abdel Fattah el-Sisi meminta persetujuan parlemen untuk kemungkinan pengerahan bantuan militer.
  • Serangan Houthi menyasar bandara internasional Riyadh dan fasilitas Saudi Aramco; serangan bandara menewaskan sedikitnya 12 orang serta melukai lebih dari 300 orang.
  • Kairo juga menyiapkan diplomasi untuk meredakan krisis, didorong kepentingan bersama menjaga Laut Merah dan hubungan strategis-ekonomi Mesir dengan Arab Saudi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Mesir berjanji memberikan segala bentuk dukungan untuk mempertahankan keamanan dan stabilitas Arab Saudi pada Minggu (18/10/2026). Keputusan ini diambil menyusul rentetan serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) kelompok Houthi Yaman yang menyasar negara tersebut.

Komitmen itu diumumkan seusai rapat Dewan Pertahanan Nasional Mesir yang dipimpin Presiden Abdel Fattah el-Sisi di istana kepresidenan Kairo. Pertemuan ini turut dihadiri perdana menteri, ketua parlemen, menteri pertahanan, kepala intelijen, serta jajaran panglima militer Mesir. Mereka meninjau perkembangan situasi kawasan yang memburuk akibat eskalasi serangan terhadap Arab Saudi.

  1. 1. El-Sisi minta persetujuan parlemen untuk kerahkan bantuan militer

    Ilustrasi bendera Mesir
    Ilustrasi bendera Mesir. (pixabay.com/jorono)

    El-Sisi sebelumnya telah meminta parlemen Mesir menggelar sidang darurat pada Minggu pukul 13.00 waktu setempat. Sidang ini bertujuan memberikan wewenang kepada presiden untuk mengerahkan militer jika pemerintah Arab Saudi meminta bantuan pertahanan. Militer Mesir sendiri merupakan salah satu kekuatan bersenjata terbesar di kawasan Timur Tengah.

    Dalam pidato di upacara kelulusan akademi militer pada Sabtu, el-Sisi menegaskan negaranya menolak segala bentuk ancaman terhadap kerajaan tersebut. Ia menyatakan Mesir siap mengambil langkah pertahanan sesuai arahan Raja Salman dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS).

    "Mesir akan memberikan segala bentuk dukungan yang diperlukan dan memungkinkan kepada Arab Saudi untuk mempertahankan keamanan dan stabilitasnya, melindungi sumber dayanya, keutuhan wilayah, serta situs-situs suci umat Islam," demikian pernyataan Kepresidenan Mesir, dilansir The New Arab.

    Selain menyiapkan langkah militer, Kairo berencana meningkatkan upaya politik dan diplomatik dengan berbagai pihak regional maupun internasional. Langkah ini ditempuh untuk meredakan ketegangan di kawasan dan menyelesaikan krisis melalui jalur damai.

  2. 2. Pemerintah Yaman sambut rencana bantuan Mesir

    bendera Yaman
    bendera Yaman (pixabay.com/Chickenonline)

    Pernyataan sikap Kairo muncul setelah kelompok bersenjata Houthi meningkatkan serangan ke wilayah Arab Saudi dalam beberapa hari terakhir. Kelompok dukungan Iran yang juga dikenal sebagai Ansar Allah ini telah menyerang bandara internasional di Riyadh dan fasilitas perusahaan minyak negara Saudi Aramco. Serangan di bandara Riyadh tersebut menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai lebih dari 300 orang lainnya.

    Pertempuran kembali pecah di Yaman antara Houthi dan pasukan pemerintah dukungan Arab Saudi setelah kesepakatan gencatan senjata runtuh. Pemerintah di Riyadh menuduh Iran mendorong serangan Houthi terhadap kerajaan mereka, tetapi tuduhan itu dibantah oleh Teheran.

    Langkah Kairo mendapat sambutan positif dari Ketua Dewan Kepemimpinan Kepresidenan Yaman, Rashad al-Alimi. Melalui akun media sosialnya, ia memuji sikap pemerintah Mesir yang dinilai menunjukkan solidaritas kuat dalam menghadapi ancaman bersama di kawasan.

    "Keberpihakan Mesir dan Kerajaan di sisi rakyat Yaman dalam perjuangan memulihkan institusi negara adalah pilar keamanan dan stabilitas di kawasan. Kairo dan Riyadh adalah dua sayap keamanan nasional Arab, dan melalui persatuan keduanya, bangsa kita memperoleh kekuatan, ketangguhan, serta kapasitas lebih besar untuk mewujudkan perdamaian yang kita cita-citakan," kata al-Alimi, dilansir Arab News.

  3. 3. Kepentingan strategis Mesir dan Arab Saudi di Laut Merah

    pasukan Houthi di Kota Sanaa, Yaman
    pasukan Houthi di Kota Sanaa, Yaman. (Public domain, via Wikimedia Commons)

    Keputusan el-Sisi untuk membantu Riyadh berakar dari pertemuan dengan Putra Mahkota MBS di Kairo pada 15 September. Dalam pertemuan itu, el-Sisi mendukung seruan Arab Saudi untuk memastikan kelancaran dan keamanan navigasi pelayaran di Laut Merah.

    Para analis menilai Riyadh sedang mencari mitra untuk melindungi wilayah kerajaan dan jalur pelayaran Laut Merah. Mesir menjadi mitra strategis yang tepat karena pendapatan Terusan Suez sangat bergantung pada lalu lintas kapal di perairan tersebut.

    Mesir dan Arab Saudi selama ini dikenal sebagai mitra strategis dan ekonomi yang erat. Sejak militer menggulingkan Presiden Mohamed Morsi pada 2013, Arab Saudi dan negara-negara Teluk yang kaya minyak telah mengucurkan bantuan miliaran dolar AS, deposito bank sentral, serta investasi ke Mesir. Militer Mesir juga pernah bergabung dalam koalisi pimpinan Arab Saudi yang melakukan intervensi di Yaman pada 2015, meski saat itu hanya memegang peran tempur terbatas.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More