Indonesia Gabung The Coalition to Grow Carbon Markets, Apa Itu?

- Indonesia menjadi anggota ke-11 The Coalition to Grow Carbon Markets
- Investor swasta didorong ikut dalam melestarikan hutan dan mengurangi emisi
- The Coalition to Grow Carbon Markets bermula pada Juni 2025
Jakarta, IDN Times - Kementerian Kehutanan Republik Indonesia mengumumkan keikutsertaannya dalam The Coalition to Grow Carbon Markets. Langkah ini bertujuan mewakili sektor kehutanan nasional serta mendorong solusi berbasis alam sesuai mandat organisasi tersebut.
Koalisi internasional yang dipimpin bersama oleh Inggris, Singapura, dan Kenya ini kini beranggotakan 11 negara. Fokus utama perkumpulan ini adalah meningkatkan penggunaan kredit karbon berintegritas tinggi. Tujuannya meliputi pembukaan akses pendanaan bagi pembangunan, dukungan terhadap kegiatan ekonomi, serta percepatan pencapaian target iklim dunia.
Pengumuman resmi masuknya Indonesia sebagai anggota ke-11 disampaikan di London, Inggris, pada (20/1/2026). Menteri Kehutanan (Menhut), Raja Juli Antoni, menyampaikan kabar tersebut dalam diskusi meja bundar bertajuk Advancing Indonesia–UK Collaboration on High-Integrity Carbon Markets yang bertempat di kantor pusat Standard Chartered.
Agenda ini terlaksana setelah pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dalam rangka peluncuran Kemitraan Strategis Indonesia–Inggris (UK–Indonesia Strategic Partnership).
"Merupakan suatu kehormatan bagi saya mengumumkan bahwa hari ini Kementerian Kehutanan Republik Indonesia bergabung dengan The Coalition to Grow Carbon Markets, mewakili sektor kehutanan Indonesia. Sebagai negara dengan hutan hujan tropis terbesar ketiga di dunia, ekosistem mangrove yang luas, serta lahan gambut tropis yang besar, Indonesia memiliki modal alam yang signifikan dan pengalaman nyata dalam solusi berbasis alam, yang dapat memberikan kontribusi penting bagi upaya global dalam mencapai target iklim," ujar Raja Juli dalam keterangannya, dikutip Rabu (21/1/2026).
"Sebagai anggota Koalisi, yang mewakili sektor kehutanan, Indonesia akan bekerja bersama negara-negara yang memiliki visi serupa untuk meningkatkan permintaan terhadap kredit karbon berintegritas tinggi dari sektor kehutanan dan solusi berbasis alam, guna mendukung pertumbuhan hijau, tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga bagi dunia," lanjutnya.
1. Daftar 11 anggotanya

Bergabungnya Indonesia melengkapi jajaran 10 negara lain yang telah berkomitmen memajukan aksi iklim melalui pemanfaatan kredit karbon oleh dunia usaha. Negara-negara tersebut meliputi Kanada, Prancis, Panama, Peru, Swiss, Selandia Baru, Zambia, serta para ketua bersama yaitu Kenya, Singapura, dan Inggris.
Perwakilan Khusus Inggris untuk Iklim, Rachel Kyte, menyambut hangat partisipasi Indonesia. Ia menilai, langkah ini penting untuk memastikan kepemimpinan negara dalam memandu perusahaan berpartisipasi di pasar karbon secara benar dan berintegritas.
"Saya menyambut baik bergabungnya Indonesia dalam The Coalition to Grow Carbon Markets, sebuah inisiatif yang dengan bangga dipelopori oleh Kenya, Singapura, dan Inggris," kata Rachel Kyte.
2. Investor swasta didorong ikut dalam melestarikan hutan dan mengurangi emisi

Rachel mengatakan, investor swasta juga didorong ikut dalam melestarikan hutan dan mengurangi emisi. Sehingga, ancaman pemanasan global bisa segera ditangani dengan baik.
"Upaya Indonesia dalam solusi berbasis alam akan memastikan Koalisi membantu mendorong investasi sektor swasta ke dalam proyek-proyek berintegritas tinggi yang melestarikan hutan, mengurangi emisi, dan memajukan pembangunan berkelanjutan," kata dia.
3. The Coalition to Grow Carbon Markets bermula pada Juni 2025

Inisiatif ini bermula pada London Climate Action Week bulan Juni 2025. Keselarasan internasional terkait penggunaan kredit karbon korporasi terbangun melalui peluncuran Shared Principles for Growing High-Integrity Use of Carbon Credits pada COP30 di Brasil.
Prinsip Bersama (Shared Principles) ini hadir sebagai respons atas permintaan dunia usaha agar pemerintah mengatasi fragmentasi kebijakan yang menghambat investasi. Kerangka kerja lintas negara ini memberikan kejelasan serta kepastian bagi korporasi untuk menjadikan kredit karbon sebagai bagian dari rencana dekarbonisasi yang kredibel.
Sebanyak 15 pemerintah dan 25 aktor non-negara mendukung prinsip tersebut, termasuk mitra seperti World Business Council for Sustainable Development (WBCSD), Integrity Council for the Voluntary Carbon Market (ICVCM), World Bank, International Chamber of Commerce (ICC), International Emissions Trading Association (IETA), serta Indonesia Carbon Trade Association.
Saat ini, fokus utama tertuju pada Rencana Aksi guna mewujudkan kebijakan nasional maupun regional yang konsisten serta menjaga minat pembeli secara berkelanjutan melalui keterlibatan jejaring investor.


















