Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Iran Kirim Proposal Perdamaian Baru ke AS, Apa Isinya?

Iran Kirim Proposal Perdamaian Baru ke AS, Apa Isinya?
potret warga Iran (pexels.com/Elif Ozlem Aydeniz)
Intinya Sih
  • Iran mengirim proposal perdamaian baru ke AS melalui Pakistan, berisi kesediaan membuka kembali Selat Hormuz sebagai bagian dari syarat perdamaian yang diajukan Amerika Serikat.
  • Donald Trump menilai proposal Iran lebih baik dari sebelumnya, namun masih belum cukup untuk mengakhiri perang dan kini sedang ditinjau oleh pemerintah AS.
  • Negosiasi tahap kedua di Pakistan batal setelah Menlu Iran menolak bertemu delegasi AS, membuat Trump marah dan membatalkan pengiriman utusannya ke Islamabad.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Iran dilaporkan sudah mengirim proposal perdamaian baru ke Amerika Serikat. Proposal tersebut diberikan ke AS lewat perantara Pakistan pada Minggu (26/4/2026).

Menurut laporan Axios yang dikutip Jerusalem Post, Senin (27/4/2026), proposal perdamaian tersebut berisi kesediaan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Pembukaan selat tersebut menjadi salah satu syarat perdamaian yang diberikan AS ke Iran beberapa waktu lalu.

Iran sendiri saat ini masih menutup Selat Hormuz secara penuh. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk protes karena AS melanjutkan blokade terhadap semua pelabuhan milik mereka. 

1. Donald Trump menyebut proposal perdamaian baru dari Iran lebih baik

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang bertepuk tangan.
potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (flickr.com/North Charleston via commons.wikimedia.org/North Charleston)

Presiden AS, Donald Trump, menyebut proposal perdamaian baru yang diberikan Iran sudah lebih baik dari sebelumnya. Hanya saja, presiden berusia 79 tahun itu mengatakan, semua isi yang ada di dalamnya belum cukup untuk mengakhiri perang. Sebab, ada beberapa hal yang menurutnya masih kurang.

“Mereka mengusulkan banyak hal. Namun, itu belum cukup,” ucap Trump, seperti dilansir Times of Israel.

Kendati begitu, Trump kini masih meninjau proposal perdamaian dari Iran bersama jajarannya. Ini dilakukan untuk menentukan apakah AS akan menyetujui proposal tersebut atau tidak. 

2. Negosiasi perdamaian tahap kedua Iran dan AS di Pakistan batal

Kertas bertuliskan 'PEACE TALKS' sedang diketik pada mesin tik berwarna hijau tua di atas meja kayu gelap.
ilustrasi negosiasi damai (pexels.com/Markus Winkler)

Sebelumnya, Iran sudah dijadwalkan untuk melakukan negosiasi perdamaian tahap kedua dengan AS di Pakistan pada akhir pekan lalu. Di sisi AS, negosiasi tersebut akan diwakilkan oleh Steve Witkoff dan Jared Kushner, sedangkan Iran diwakilkan oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. 

Namun, saat itu, Araghchi justru menolak bertemu dengan delegasi AS. Ia memilih melakukan diskusi dengan Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif. Pada saat itulah Iran memberikan proposal perdamaian baru ke Pakistan untuk kemudian diserahkan ke AS. 

Setelah melakukan diskusi dengan Sharif, Araghchi dan jajarannya dikabarkan langsung kembali ke Iran. Mereka pulang ke negaranya bahkan sebelum delegasi AS datang ke Pakistan untuk membahas perdamaian.

3. Trump marah karena Iran enggan bertemu dengan AS

Donald Trump (kiri) dan istrinya, Melania Trump (kanan) sedang berjalan.
potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (kiri) dan istrinya, Melania Trump (kanan) (commons.wikimedia.org/U.S. Army)

Sikap yang ditunjukkan Iran ini akhirnya membuat Trump sempat naik pitam. Imbasnya, ia batal mengirim Witkoff dan Kushner ke Pakistan untuk bertemu delegasi Iran. Sebab, ia menilai langkah tersebut akan sia-sia. 

“Saya sudah memberi tahu orang-orang saya, 'Tidak! Kalian tidak akan melakukan penerbangan 18 jam untuk pergi ke sana (Pakistan)," ujar Trump kepada Fox News pada Sabtu (25/4/2026), seperti dikutip Times of Israel.

"'Kita punya semua kartu. Mereka bisa menghubungi kita kapan saja mereka mau. Namun, kalian tidak akan melakukan penerbangan 18 jam lagi hanya untuk duduk-duduk dan membicarakan hal-hal yang tidak penting'," lanjutnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ernia Karina
EditorErnia Karina
Follow Us

Related Articles

See More