Konflik Tak Kunjung Usai, Iran Jadikan Diplomasi Senjata

- Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melakukan tur diplomatik ke Oman, Pakistan, dan Rusia untuk memperkuat koordinasi regional di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik Timur Tengah.
- Dalam pertemuan dengan Sultan Haitham bin Tariq di Oman, Araghchi menyoroti pentingnya diplomasi kawasan dan mengkritik kehadiran militer AS yang dianggap memperburuk keamanan regional.
- Selat Hormuz kembali menjadi fokus global karena potensi gangguan jalur energi dunia, mendorong negara-negara seperti Inggris, AS, dan Prancis menyerukan upaya menjaga kelancaran pelayaran internasional.
Jakarta, IDN Times - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melanjutkan rangkaian diplomasi intensif di tengah konflik yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah. Setelah meninggalkan Muscat, Oman, ia dijadwalkan kembali ke Islamabad, Pakistan, sebelum melanjutkan perjalanan ke Moskow, Rusia.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya Iran memperkuat koordinasi dengan negara-negara mitra di tengah situasi keamanan regional yang kian kompleks. Kementerian Luar Negeri Iran menyebut kunjungan tersebut sebagai bagian dari dorongan diplomatik untuk merespons dinamika perang yang sedang berlangsung.
Araghchi sebelumnya telah melakukan serangkaian pertemuan penting di Islamabad, termasuk dengan Perdana Menteri Shehbaz Sharif, Menteri Luar Negeri Ishaq Dar, serta Panglima Angkatan Darat Pakistan Asim Munir. Pembahasan difokuskan pada hubungan bilateral dan perkembangan kawasan.
Di sisi lain, perhatian internasional juga tertuju pada Selat Hormuz yang kembali menjadi titik krusial, seiring kekhawatiran terhadap gangguan jalur pelayaran global yang berdampak luas pada ekonomi dunia.
1. Diplomasi berlapis Iran di tengah konflik

Perjalanan Araghchi mencerminkan pendekatan diplomasi berlapis yang dilakukan Iran untuk merespons situasi geopolitik yang terus berkembang. Ia disebut telah meninggalkan ibu kota Oman, Muscat, dan dalam perjalanan menuju Islamabad sebelum melanjutkan agenda ke Moskow.
Kementerian Luar Negeri Iran mengonfirmasi kunjungan ini merupakan bagian dari rangkaian upaya untuk memperkuat koordinasi dengan negara-negara mitra. Sebelumnya, Araghchi juga telah menyampaikan rencana perjalanan tersebut melalui media sosial.
“Ia akan melakukan perjalanan ke Islamabad, Muscat, dan Moskow sebagai bagian dari dorongan diplomatik untuk memperkuat koordinasi dengan negara-negara mitra,” kata Kemlu Iran dalam pernyataannya, dikutip dari Al Jazeera, Minggu (26/4/2026).
Sebagian delegasi Iran yang sebelumnya kembali ke Teheran untuk mendapatkan arahan juga dijadwalkan kembali bergabung di Islamabad, menunjukkan adanya koordinasi internal yang intens dalam merumuskan langkah diplomatik Iran.
Dalam kunjungan sebelumnya ke Pakistan, Araghchi telah membahas berbagai isu strategis, termasuk perkembangan perang dan hubungan bilateral, yang menjadi fokus utama dalam pembicaraan tingkat tinggi.
2. Peran Oman dalam perundingan

Dalam kunjungannya ke Oman, Araghchi bertemu dengan Sultan Haitham bin Tariq dan membahas berbagai isu regional, termasuk konflik yang sedang berlangsung dan peran diplomasi dalam meredakannya.
Dalam pernyataannya, Araghchi menyampaikan apresiasi terhadap pendekatan Oman dalam mendukung proses diplomatik. Ia menyebut Oman memiliki sikap yang bertanggung jawab dalam merespons situasi konflik.
“Mengapresiasi pendekatan Oman yang bertanggung jawab dalam mendukung proses diplomatik dan sikap bijak negara tersebut terkait perang yang dipaksakan oleh AS-Israel terhadap Iran,” ujarnya.
Araghchi juga menyoroti dampak kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan. Menurutnya, pengalaman konflik yang berlangsung menunjukkan konsekuensi dari keterlibatan tersebut.
“Pengalaman perang 40 hari yang dipaksakan terhadap Iran menunjukkan kehadiran militer AS di kawasan hanya menyebabkan ketidakamanan dan perpecahan,” kata Araghchi.
Ia menambahkan, negara-negara kawasan diharapkan dapat membangun mekanisme keamanan kolektif yang mandiri tanpa intervensi pihak luar.
3. Selat Hormuz masih jadi perhatian utama

Isu Selat Hormuz turut menjadi perhatian utama dalam pembicaraan diplomatik tersebut. Jalur ini merupakan salah satu rute energi paling penting di dunia, sehingga gangguan di kawasan tersebut berdampak langsung pada ekonomi global.
Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi juga turut hadir dalam pertemuan tersebut, yang membahas perkembangan terbaru terkait Hormuz serta negosiasi yang dimediasi Pakistan.
Sementara itu, kekhawatiran serupa juga disuarakan oleh para pemimpin Barat. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan Presiden AS Donald Trump dalam pembicaraan terpisah menekankan pentingnya menjaga kelancaran jalur pelayaran.
“Para pemimpin membahas kebutuhan mendesak untuk mengaktifkan kembali pelayaran di Selat Hormuz, mengingat konsekuensi serius bagi ekonomi global dan biaya hidup masyarakat,” kata pernyataan kantor Starmer.
Selain itu, Starmer juga menyampaikan perkembangan inisiatif bersama dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron untuk memulihkan kebebasan navigasi di kawasan tersebut.
Di tengah dinamika ini, Selat Hormuz kembali menjadi titik krusial yang tidak hanya berdampak pada kawasan Timur Tengah, tetapi juga pada stabilitas ekonomi global secara keseluruhan.

















