Perundingan Mandek, Trump Buka Opsi Negosiasi via Telepon dengan Iran

- Donald Trump membuka opsi negosiasi via telepon dengan Iran setelah jalur diplomasi mandek, menegaskan syarat utama bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
- Iran memperkuat diplomasi regional melalui kunjungan Menlu Abbas Araqchi ke Rusia dan Oman, sambil memanfaatkan posisi strategis di Selat Hormuz sebagai alat tawar menghadapi tekanan AS.
- Perbedaan mendasar terkait isu nuklir, pengaruh regional, dan sanksi ekonomi membuat perundingan AS-Iran sulit mencapai kesepakatan, sementara ketegangan kawasan terus meningkat dan mengguncang pasar energi global.
Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, membuka peluang komunikasi langsung dengan Iran di tengah konflik yang telah berlangsung selama dua bulan. Pernyataan ini muncul saat jalur diplomasi kedua negara kembali menemui jalan buntu.
Trump menegaskan, pintu negosiasi tetap terbuka. Namun, ada syarat utama yang tidak bisa ditawar, yakni Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
“Jika mereka ingin berbicara, mereka bisa datang kepada kami, atau mereka bisa menelepon kami. Anda tahu, ada telepon. Kami punya jalur yang bagus dan aman,” kata Trump, dilansir dari AsiaOne, Senin (27/4/2026).
“Mereka tahu apa yang harus ada dalam kesepakatan. Sangat sederhana: mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir, jika tidak, tidak ada alasan untuk bertemu," lanjutnya.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan mandeknya sejumlah upaya damai yang sebelumnya diupayakan.
1. Negosiasi mandek, jalur diplomasi terus dicari

Upaya menghidupkan kembali perundingan damai belum menunjukkan hasil. Trump bahkan membatalkan kunjungan utusannya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, ke Islamabad karena menilai tawaran Iran belum memadai.
“Iran menawarkan banyak hal, tetapi tidak cukup,” ujar Trump.
Di sisi lain, Iran justru meningkatkan aktivitas diplomasi. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, melakukan lawatan ke sejumlah negara, termasuk Pakistan, Oman, dan Rusia.
Dalam agenda tersebut, Araqchi dijadwalkan bertemu Presiden Rusia, Vladimir Putin, guna memperkuat posisi Iran di tengah tekanan global.
Pertemuan di Oman juga membahas isu strategis, termasuk keamanan Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia. Iran mendorong pembentukan sistem keamanan regional tanpa campur tangan pihak luar.
2. Tekanan domestik dan kartu strategis Iran

Di dalam negeri, Trump menghadapi tekanan politik untuk segera mengakhiri konflik. Popularitas pemerintahannya disebut tergerus akibat perang yang berkepanjangan.
Sementara itu, Iran memanfaatkan posisi strategisnya di Selat Hormuz sebagai alat tawar. Jalur ini dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global.
Penutupan sebagian jalur tersebut oleh Teheran, ditambah blokade pelabuhan oleh AS, memperburuk ketegangan dan mengguncang pasar energi dunia.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan negaranya tidak akan tunduk pada tekanan.
Ia menyatakan Iran menolak “negosiasi yang dipaksakan” selama sanksi dan blokade masih diberlakukan. Teheran menuntut pencabutan hambatan tersebut sebagai syarat awal dialog.
3. Perbedaan mendasar jadi penghalang utama

Perbedaan antara AS dan Iran tidak hanya terbatas pada isu nuklir, tetapi juga mencakup pengaruh regional dan keamanan kawasan. Trump menginginkan pembatasan terhadap dukungan Iran kepada kelompok sekutunya seperti Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Gaza, serta kemampuan rudal balistik Iran.
Sebaliknya, Iran menuntut pencabutan sanksi dan penghentian serangan Israel terhadap Hizbullah. Perbedaan ini membuat negosiasi semakin kompleks dan sulit mencapai titik temu.
Pembicaraan sebelumnya di Islamabad yang melibatkan Wakil Presiden AS JD Vance dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf berakhir tanpa kesepakatan. Sementara itu, konflik terus meluas di kawasan. Iran melancarkan serangan ke negara-negara Teluk, dan bentrokan antara Israel dan Hizbullah kembali meningkat di Lebanon.
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan serangan Israel menewaskan 14 orang dan melukai 37 lainnya pada Minggu. Militer Israel juga memperingatkan warga untuk meninggalkan sejumlah wilayah di luar zona penyangga.
Di tengah situasi ini, meski gencatan senjata menghentikan pertempuran besar, belum ada kesepakatan yang benar-benar mengakhiri perang, sementara dampaknya terus dirasakan secara global, termasuk lonjakan harga minyak dan tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi dunia.
















