Iran Rugi Rp2,4 Kuadriliun Imbas Perang dengan AS-Israel

- Iran mengalami kerugian ekonomi sekitar Rp2,4 kuadriliun akibat perang dengan AS dan Israel sejak Februari 2026, termasuk kerusakan besar pada mesin peluncur rudal dan fasilitas militer.
- Perang antara Iran dengan AS dan Israel kini mereda setelah tercapai gencatan senjata dua pekan, usai Iran membuka kembali Selat Hormuz untuk kapal dari berbagai negara.
- Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata tersebut, sehingga Israel masih melancarkan serangan udara ke wilayah Lebanon yang menewaskan ratusan orang dan dikecam PBB.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Iran diprediksi menelan kerugian ekonomi hingga 145 miliar dolar Amerika Serikat atau setara Rp2,4 kuadriliun imbas perang dengan AS dan Israel sejak 28 Februari 2026. Prediksi ini didapat dari sumber internal pemerintah dan sumber intelijen Iran yang dikutip oleh Jerusalem Post pada Kamis (9/4/2026).
Selain menderita kerugian ekonomi, perang dengan AS dan Israel juga membuat banyak alutsista milik Iran rusak. Salah satu alutsista yang mengalami banyak kerusakan adalah mesin peluncur rudal. Tercatat, sekitar 160 sampai 190 mesin peluncur rudal balistik milik Iran telah rusak imbas perang dengan AS dan Israel.
Semua kerusakan ini menambah kerugian ekonomi yang dialami Iran akibat perang dengan AS dan Israel. Sebab, biaya perbaikan dari kerusakan tersebut tidak murah.
1. Sebagian besar fasilitas militer Iran rusak karena perang dengan AS dan Israel

Menurut laporan sumber internal pemerintah dan intelijen Iran, sebagian fasilitas militer nasional juga mengalami kerusakan akibat perang dengan AS dan Israel. Tercatat, lebih dari 66 persen pabrik rudal dan drone milik Iran rusak karena perang tersebut.
Sejumlah fasilitas kritis milik Iran juga rusak karena perang dengan AS dan Israel. Salah satu fasilitas kritis yang rusak adalah situs nuklir. Sebab, selama berperang dengan Iran, AS dan Israel memang kerap menyerang situs-situs tersebut.
Di sisi lain, perang dengan AS dan Israel juga membuat banyak warga Iran tewas. Data terbaru menyebut sebanyak 2.076 warga Iran dinyatakan tewas karena terdampak serangan AS dan Israel. Sementara itu, 26.500 warga Iran lainnya mengalami luka-luka.
2. Perang antara Iran dengan AS dan Israel sudah mereda

Sebagai informasi, perang antara Iran dengan AS dan Israel kini sudah mereda. Sebab, Presiden AS, Donald Trump, sudah menyepakati gencatan senjata dengan Iran selama 2 pekan pada Selasa (7/4/2026). Israel juga terlibat dalam gencatan senjata tersebut.
Langkah ini diambil karena Iran sudah bersedia membuka Selat Hormuz untuk kapal-kapal dari semua negara. Padahal, sebelumnya, Iran bersikukuh untuk menutup Selat Hormuz, terutama untuk kapal-kapal dari AS dan Israel. Meski begitu, Iran tetap meminta kapal-kapal yang ingin melintas di Selat Hormuz untuk berkoordinasi terlebih dahulu dengan mereka.
Gencatan senjata ini lantas disambut baik oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Netanyahu mengatakan, keputusan tersebut sangat berguna bagi AS, Israel, dan Iran untuk mengakhiri perang.
3. Lebanon tidak terlibat dalam gencatan senjata

Sayangnya, AS dan Israel menegaskan, Lebanon tidak terlibat dalam kesepakatan gencatan senjata yang sudah disetujui dengan Iran. Oleh karena itu, Israel hingga kini masih terus menyerang Lebanon. Padahal, menurut Iran, dokumen gencatan senjata yang diberikan AS sudah melibatkan Lebanon.
Serangan terbaru Israel ke Lebanon terjadi pada Rabu (8/4/2026). Saat itu, Israel melancarkan lebih dari 100 serangan udara ke sejumlah wilayah di Lebanon, termasuk Ibu Kota Beirut. Serangan tersebut menewaskan 256 orang dan melukai 1.165 lainnya.
Serangan Israel ke Lebanon ini dikecam oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sebab, PBB menilai serangan tersebut bakal mengganggu kesepakatan gencatan senjata yang telah disetujui AS.

















