Israel Perluas Perintah Evakuasi di Lebanon, Ratusan Ribu Orang Ngungsi

- Militer Israel memperluas perintah evakuasi di Lebanon hingga mencakup pinggiran selatan Beirut dan Lembah Bekaa, memicu pengungsian besar-besaran serta kemacetan parah di ibu kota.
- Serangan udara Israel menargetkan pusat komando dan gudang senjata Hizbullah di kawasan Dahieh, sementara ribuan warga kehilangan tempat tinggal dan fasilitas kesehatan kewalahan mengevakuasi pasien.
- Organisasi HAM internasional mengecam perintah evakuasi Israel yang dinilai melanggar hukum humaniter, dengan korban sipil terus bertambah dan tekanan diplomatik global meningkat terhadap kedua pihak.
Jakarta, IDN Times - Militer Israel memperluas perintah evakuasi bagi warga sipil di Lebanon sehingga memicu gelombang pengungsian besar-besaran. Peringatan awalnya menyasar wilayah selatan pada Senin (1/3/2026), lalu meluas hingga ke seluruh pinggiran selatan Beirut dan Lembah Bekaa pada Kamis (5/3/2026).
Langkah ini memaksa ratusan ribu penduduk meninggalkan rumah mereka di tengah gempuran udara Israel terhadap posisi kelompok Hizbullah. Jalanan ibu kota sempat lumpuh oleh kemacetan parah saat warga bergegas mencari tempat yang lebih aman.
1. Perintah evakuasi picu krisis kemanusiaan

Perintah evakuasi di pinggiran selatan Beirut atau Dahieh berdampak pada kawasan padat penduduk yang dihuni lebih dari satu juta jiwa. Warga terpaksa mengungsi menggunakan kendaraan maupun berjalan kaki dengan membawa barang seadanya. Banyak dari mereka menghabiskan malam dengan tidur di jalanan, mobil, hingga taman kota karena pusat penampungan mulai penuh.
Kementerian Kesehatan Lebanon telah berkoordinasi dengan berbagai organisasi untuk mengevakuasi pasien dari sejumlah rumah sakit di area terdampak. Sayangnya, proses pemindahan berujung tragis dan menelan korban jiwa. Dua orang wanita dilaporkan meninggal dunia saat dievakuasi dari fasilitas medis di tengah kekacauan.
Dewan Pengungsi Norwegia mencatat lebih dari 300 ribu orang telah kehilangan tempat tinggal dalam kurun waktu kurang dari 100 jam. Hingga Jumat (6/3/2026), terdapat sekitar 96 ribu orang yang resmi terdaftar di pusat-pusat penampungan di seluruh negeri. Ketersediaan makanan dan ruang di tempat penampungan darurat kini juga semakin menipis.
"Bencana kemanusiaan sedang mengintai akibat pengungsian massal ini," ujar Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, dilansir BBC.
2. Israel sasar pusat komando dan persenjataan Hizbullah

Kawasan Dahieh yang mencakup sekitar 28 hingga 29 persen dari total luas wilayah Beirut dikenal sebagai benteng utama Hizbullah. Area ini menjadi pusat politik dan ekonomi kelompok tersebut, serta menampung dewan kepemimpinan mereka. Israel telah melancarkan puluhan serangan udara untuk menghancurkan pusat komando dan penyimpanan senjata di kawasan tersebut.
Peringatan evakuasi disusul oleh ancaman dari Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, yang menyamakan nasib Beirut dengan Jalur Gaza. Ia menyebut pinggiran selatan ibu kota Lebanon itu akan segera terlihat seperti Khan Younis yang telah hancur lebur.
Pensiunan Brigadir Jenderal Ali Abi Raad menilai perluasan evakuasi ini memiliki motif militer sekaligus psikologis untuk menyebarkan ketakutan. Menurutnya, pasukan Israel berniat menciptakan zona penyangga sejauh 10 kilometer ke dalam wilayah Lebanon karena terkejut dengan perlawanan sengit dari pasukan Hizbullah.
3. Peringatan evakuasi Israel tuai kecaman kelompok HAM

Perintah evakuasi massal yang dikeluarkan Israel mendapat sorotan tajam dari organisasi hak asasi manusia internasional. Peringatan yang terlalu luas tanpa instruksi perlindungan dinilai tidak sejalan dengan kewajiban hukum humaniter internasional. Instruksi ini dinilai tidak memberikan panduan atau waktu yang cukup bagi warga sipil untuk menyelamatkan diri dengan aman.
"Perintah evakuasi besar-besaran telah menabur kepanikan dan teror, menggusur ratusan ribu orang, dan memicu bencana kemanusiaan lainnya bagi penduduk yang sudah kelelahan dan terguncang akibat berbagai krisis," ujar Deputi Direktur Regional Amnesty International, Kristine Beckerle.
Kekhawatiran global turut meningkat seiring dengan jumlah korban sipil yang terus bertambah akibat eskalasi serangan. Pusat Operasi Darurat Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat 217 orang tewas dan 798 lainnya terluka sejak awal Maret 2026.
Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menganggap situasi saat ini sebagai momen yang sangat berbahaya bagi kawasan. Ia mendesak Israel untuk membatalkan intervensi darat maupun operasi militer lain di wilayah Lebanon. Macron juga menuntut Hizbullah untuk segera menghentikan serangannya demi mencegah negara tersebut terseret lebih jauh ke dalam perang.



















